Belajea: Jurnal Pendidikan Islam vol. 4, no 01, 2019 p-ISSN 2548-3390; e-ISSN 2548-3404 Model Pondok Pesantren di Era Milenial Nurhayati Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung nurhayatisastraatmadja@gmail.com, Haidir Ali Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung haidirali2004@gmail.com Nilna Azizatus Shofiyyah Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ashofiyyahnilna@gmail.com Abstract: Pesantren is an oldest education system and considered as an Indonesian cultural product. Along with the change of era that experienced by Indonesian society, pesantren education also has development. With that background, compiler interested to distinguish various models of pesantren in this millennial era. The research method used study literature with a qualitative approach. From this research, can be concluded that the current globalization in the millennial era made its generation not far from the use of technology, the internet, social media and others. This encourages Islamic boarding schools to modernize by looking at the needs of "markets" that require competent human resources. There were many models of millennial Islamic boarding schools. Various developments are carried out, one of them is mastering language, entrepreneurship, ICT (Information and Communication Technology), and other current competencies. This modernization, not only have a positive impact but also problems like pesantren is harder to be able to fulfill its main function, which is to produce tafaquh fiddin people. Keywords: Millennial era, model, boarding school. Abstrak: Pesantren merupakan sistem pendidikan yang tertua dan dianggap sebagai produk budaya Indonesia. Seiring dengan perubahan zaman yang dialami masyarakat Indonesia, maka pendidikan pada pondok pesantren pun mengalami perkembangan. Dengan latar belakang itulah penyusun tertarik untuk membahas berbagai model pesantren yang muncul pada era millennial ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka dengan pendekatan kualitatif. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa arus globalisasi di era millennial ini telah membuat generasinya tidak dapat jauh dari penggunaan teknologi, internet, media sosial dan lain sebagainya. Hal itu mendorong pondok pesantren untuk melakukan modernisasi dengan cara melihat kebutuhan “pasar” yang membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bersaing. Sehingga