Malaysian Journal of Environmental Management 11(1) (2010) Abdul Hadi Harman Shah et al 58 Abstract Development in Malaysia has reached a critical juncture where the expectations of end results and processes have drastically changed from the first time the New Economic Policy (NEP) outlined the future for the country. The focus on technocratic solutions to social problems, while still dominant, is increasingly being contested and supplemented by negotiated meanings of multiple symbols and evolving objectives, proposed at various entry points. Global market forces have changed the effectiveness of earlier centralized planning efforts and have opened up local development avenues that are not as dependent on the State as they were before. This has led to an increasingly anarchistic approach of direct development, a pattern that has caught many development planners by surprise. The urbanization phenomenon today is increasingly driven by individuals that take up risks and responding faster to the uncertain conditions of the market than the established bureacracy of development planning. These new agents of development are aware but no longer simply following the path set by the State, negotiating to capitalise on State-led programmes but with independent agendas. The current result is the creation of a syncretic rural-urban society with blurred physical and social boundaries. Using the everyday content of urbanization, the paper attempts to provide some insights into this dynamics of development that has permeated the rural-urban landscape of Malaysia. The Bernam-Linggi region which has experienced the changing whims of development and development planning is used as an example to illustrate the emergence of the urban through a coalescing of local drivers responding to the State and Market. The argument of the paper is articulated within a rhizomatic approach to the current urbanization phenomenon, emphasizing the bottom-up, lateral proliferation of individually determined views of development which resulted in the current urban-rural landscape of the the Bernam Linggi region in particular, and Malaysia in general. The paper also posits several implications for planning analysis and development programmes evaluation. Keywords: Urbanization, rhizomatic analysis, Bernam Linggi, anarchistic urbanization Abstrak Pembangunan di Malaysia telah mencapai titik kritikal di mana jangkaan hasil akhir dan proses yang telah digariskan buat pertama kalinya dalam Dasar Ekonomi Baru (DEB) bertujuan untuk pembangunan masa depan negara telah berubah secara drastiknya. Tumpuan terhadap penyelesaian secara teknokratik kepada penyelesaian permasalahan sosial, walaupun masih dominan, semakin dipersoalkan dan disokong oleh perundingan bermakna, simbol pelbagai dan objektif yang berubah dan dicadangkan dari pelbagai sudut. Gerakuasa pasaran global telah mengubah keberkesanan usaha perancangan berpusat yang terdahulu dan membuka ruang pembangunan lokal yang tidak bergantung kepada pemerintah seperti sebelumnya. Keadaan ini membawa kepada peningkatan pendekatan anarkistik pembangunan langsung, corak yang memerangkap dan mengejutkan ramai perancang pembangunan. Fenomena pembandaran hari ini dipandu oleh individu yang mengambil risiko dan tindakbalas lebih pantas terhadap keadaan pasaran yang tidak terjangka daripada birokrasi pembangunan perancangan yang telah kukuh. Agen-agen pembangunan baru ini menyedari tetapi tidak lagi mengkut aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, perundingan dengan para pemodal dan perancangan yang dipimpin oleh pemerintah tetapi dengan agenda tersendiri. Hasilnya adalah pembentukan masyarakat desa-bandar yang sinkretik yang mencampuradukkan sempadan fizikal dan sosialnya. Dengan menggunakan aktiviti harian pembandaran, artikel ini cuba memberikan pandangan secara lebih dekat ke atas dinamika pembangunan yang telah membentuk landskap desa-bandar. Wilayah perbandaran Bernam-Linggi yang telah mengalami pembangunan yang pesat dan perancangan pembangunan digunakan sebagai gambaran yang terhasil daripada perkaitan dan tindakbalas pemacu lokal terhadap pemerintah. Hujah yang dikemukakan dalam artikel ini diartikulasikan dalam pendekatan rizomatik terhadap fenomena pembandaran semasa, menekankan pendekatan bawah-atas, penghasilan kreatif yang menentukan pembangunan secara individu dan hasilnya adalah landskap desa-bandar Lembangan Bernam-Linggi semasa ini khususnya dan Malaysia amnya. Artikel ini juga mencadangkan beberapa implikasi untuk analisis perancangan dan penilaian program pembangunan. Katakunci: Pembandaran, analisis rizomatik, Bernam- Linggi, pembandaran anarkistik Critical Junctures: Anarchistic Leanings of Current Urbanization in Malaysia ABDUL HADI HARMAN SHAH, ABDUL SAMAD HADI, SHAHARUDIN IDRUS, AHMAD FARIZ MOHAMED jurnal_idea_ok.indd 58 6/9/10 1:55:55 PM