Status Apel Lokal Malang dan Strategi Konservasinya melalui Pengembangan Agrowisata Luchman Hakim dan Dian Siswanto Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia lufehakim@yahoo.com ; diansiswanto@brawijaya.ac.id Abstrak. Tinjauan tentang status apel lokal Malang sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia dan upaya konservasinya sampai saat ini sangat kurang. Tulisan ini pada dasarnya bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi pertanian apel di Indonesia saat ini dan potensinya dalam pengembangan agrowisata di masa mendatang. Data diperoleh dari serangkaian kegiatan, yaitu merangkum informasi hasil penelitian terkait apel, kegiatan ekplorasi dan visitasi lapangan untuk mengetahui kondisi riil, dan melakukan wawancara dengan petani. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa saat ini apel dapat tumbuh dengan baik di kawasan tropis. Namun, kondisi pertanian apel diketahui terancam sehingga diperlukan tindakan konservasi secara terintegrasi. Ancaman terhadap kelangsungan pertanian apel adalah penggunaan bahan-bahan kimia secara berlebihan yang mengakibatkan turunnya kuantitas dan kualitas hasil pertanian. Dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, agrowisata berbasis apel dapat dipromosikan sebagai kunci penting bagi konservasi tanaman apel. Dalam hal ini, mempromosikan pertanian berkelanjutan dengan mengedepankan pertanian organik menjadi strategi penting menuju agrowisata apel yang berdaya saing dan berkelanjutan. Kata kunci: Apel Malang, konservasi sumberdaya, agrowisata. 1. Pendahuluan Apel adalah salah satu kekayaan hayati Indonesia yang tumbuh dan berbuah baik di daerah dataran tinggi. Apel pertama kali diintroduksi oleh bangsa Eropa pada masa kolonialisasi, dan saat ini dapat dikatakan telah ternaturalisasi menjadi tanaman apel tropis. Pertanian apel terdapat di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Sentra pertanian apel Jawa Timur salah satunya ada di wilayah Malang, sehingga menjadikan Malang dikenal sebagai kota apel. Budidaya apel pernah mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya mengalami kemunduran pada dekade ini. Berbagai analisis menyatakan bahwa kemunduran pertanian apel disebabkan oleh tidak seimbangnya harga jual dengan ongkos produksi, beralihnya lahan-lahan apel menjadi lahan tanaman hortikultur lain, dan kerusakan tanah yang menyebabkan turunnya produktivitas [1]. Turunnya produksi apel dan berkurangnya lahan budidaya apel dengan demikian adalah ancaman serius bagi eksistensi apel sebagai salah satu bentuk keanekaragaman hayati sehingga konservasi apel menjadi sangat penting. Heywood dan Watson [2] berpendapat bahwa strategi konservasi yang baik membutuhkan informasi integral dari berbagai faktor dan kondisi. Pemilihan strategi konservasi yang tepat harus didasarkan pada karakter spesies obyek. Konservasi spesies dapat dilakukan secara terintegrasi dengan habitatnya. Pada strategi lainnya, dan seringkali dianggap efektif, adalah meningkatkan peran spesies dalam penerimaan ekonomi secara langsung lewat berbagai industri kreatif yang berkelanjutan. Pariwisata adalah salah satu sektor yang dapat diandalkan untuk menjawab kebutuhan tersebut [2]. Tulisan ini pada dasarnya akan menjelaskan kondisi apel saat ini sebagai bahan rujukan bagi konservasi apel mendatang, terutama dalam kaitannya dengan pengembangan agrowisata sebagai salah satu model pemanfaatan berkelanjutan. Bagian awal makalah ini akan membahas tentang ekologi dan distribusi apel di Jawa Timur dari berbagai literatur. Selanjutnya, status pertanian apel di Jawa Timur didiskusikan untuk memberikan gambaran problematika yang terjadi pada industri pertanian apel.