59 Journal of Mechanical Engineering Education, Vol. 4, No. 1, Juni 2017 RATE SISWA TUNAGRAHITA RINGAN DALAM BELAJAR PENYETELAN RANTAI SEPEDA MOTOR DENGAN METODE DEMONSTRASI Horen Pujiono 1 , Wahid Munawar 2 , Sriyono 3 Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154 horen.oren@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini berkaitan tentang kejadian atau perilaku anak tersebut dalam priode waktu tertentu atau yang di sebut dengan istilah rate. Tujuan penelitian ini untuk menemukan metode pembelajaran yang sesuai dengan anak tunagrahita. Metode yang akan diterapkan metode demonstrasi. Metode demonstrasi yang lebih mengedepankan visualisasi akan memudahkan anak tunagrahita untuk menyerap informasi dan mengerti akan maksud isi pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan subjek tunggal. Metode penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi perilaku, dimana pengambilan dan pengolahan data dalam metode ini difokuskan untuk melihat perubahan prilaku subjek. Apakah ada atau tidaknya pengaruh intervensi terhadap target behavior dalam fase yang telah ditentukan. Desain penelitian menggunakan desain reversal tipe A-B-A, dimana pengukuran fase baseline (A1) dilakukan sebelum fase intervensi, kemudian dilakukan fase baseline (A2). Fase baseline (A1) dan fase baseline (A2) dilakukan sebanyak tiga kali, sedangkan fase intervensi dilakukan sebanyak empat kali. Penelitian dilakukan terhadap anak tunagrahita tingkat SMALB Citeureup Kota Cimahi, berdasarkan hasil penelitian pada pelaksanaan penyetelan rantai sepeda motor terdapat beberapa rate yang terjadi pada kedua siswa, yaitu: (1) Ngobrol, (2) Tengok Kanan tersenyum, (3) Menjauh. Kata kunci: metode demonstrasi, rantai sepeda motor, rate, otomotif. PENDAHULUAN Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) disekolah reguler dan sekolah luar biasa (SLB), hakekatnya untuk membantu anak mengembangkan potensinya. Bagi lembaga pendidikan (SLB/SMALB dan sekolah inklusi) adalah sangat diperlukan pola pendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk menghasilkan lulusan SLB/SMALB dan sekolah inklusi yang memiliki kompetensi vokasional yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja yang sesuai standar minimal pekerjaan di dunia kerja seperti keterampilan dasar otomotif. Kenyataannya kondisi pendidikan khusus (SLB/SMALB) sekarang ini, guru yang mengajar keterampilan otomotif bukanlah guru khusus lulusan dari lembaga di bidang teknik otomotif. Sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Sekolah SLB Citeureup Kota Cimahi pembelajaran vokasional khususnya di bidang otomotif, belum ada guru yang relevan dengan bidang tersebut (Syaiful, 2010). Anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Untuk mendapatkan informasi dan kebiasaan siswa tersebut 1 Mahasiswa Departemen Pendidikan Teknik Mesin FPTK, UPI 2 Dosen Departemen Pendidikan Teknik Mesin FPTK, UPI 3 Dosen Departemen Pendidikan Teknik Mesin FPTK, UPI