53 RELASI GENDER DALAM BINGKAI SPIRITUALITAS Achmad Hidir 1 dan Harris El Mahdi 2 1 FISIP Universitas Riau, Pekanbaru, 2 FISIP Universitas Brawijaya, Malang Email : hidir09@gmail.com; hariselmahdy@gmail.com Abstract: Feminism nowadays becomes a prominent topic, especially since 1970’s era. On one side, this movement raises a lot of changes and perspectives to understanding gender issues. But on the other side, this such movement is also bring its own weaknesses. This is a literature study and not an empirical studies. This literature study is attempted to understand gender relations in an ecofemisme frame of spirituality. The relation gender that is existed between men and women or between the feminine and the masculine should be interpreted as a collaborative-integrative relationship. Abstrak: Topik feminisme dewasa ini semakin mengedepan terutama sejak era 1970 an. Di satu sisi gerakan ini menimbulkan banyak perubahan dan cara pandang dalam memahami permasalahan gender. Tetapi di sisi lain, gerakan ini juga dianggap memiliki banyak kelemahannya. Tulisan ini merupakan hasil studi literatur dan bukan hasil kajian empirik. Studi literature ini mencoba memahami relasi gender dalam bingkai spiritualitas ecofemisme yang memaknai bahwa hubungan yang terjalin antara laki-laki dengan perempuan atau antara feminin dengan maskulin haruslah bersifat kolaboratif-integratif. Kata Kunci: gender, spiritualitas, ecofeminisme PENDAHULUAN Perempuan – dilihat dari sudut pandang manapun – selalu mempunyai sisi-sisi yang menarik dan memikat hati laki-laki. Untuk alasan itulah Tuhan menciptakan perempuan, yakni sebagai perhiasan sekaligus teman bercanda bagi laki-laki. Betapapun Tuhan telah mendesain alam semesta dengan tata arsitektural yang sungguh indah, elok, dan menakjubkan, hati se- orang laki-laki tak akan bisa tentram tanpa ke- hadiran seorang perempuan di sampingnya atau di hadapannya. Seolah-olah terbersit dalam hatinya sebuah ungkapan: “ Bolehlah Tuhan tidak menciptakan alam semesta, tetapi jangan Engkau biarkan diriku merana tanpa kehadiran seorang perempuan!” Itulah naluri fitriyah setiap laki-laki di seluruh penjuru dunia. Itulah sebabnya, Adam yang yang telah Tuhan ciptakan sebagai manusia pertama, hatinya selalu gelisah gundah-gulana meskipun hidup dan ber- tempat tinggal di Surga yang penuh dengan ke- indahan dan kenikmatan. Dia (baca: Adam) merasa ada belahan jiwanya yang hilang. Dus, belahan jiwa Adam yang hilang itu adalah perempuan atau lebih tepatnya Hawa…! Lebih dari itu, perempuan adalah mahakarya Tuhan yang mempunyai banyak misteri bagi laki- laki. Keindahan tubuhnya, kehalusan perasaan- nya dan keterpujian pribadinya membuat banyak laki-laki harus (baca : terpaksa) bertekuk-lutut di hadapan seorang perempuan. Tetapi tak ja- rang, dikarenakan kelemahan yang dimilikinya, perempuan menjadi “bahan permainan” laki-laki. Kadang-kadang atau bahkan sering terjadi, laki- laki memanfaatkan sisi kelemahan perempuan untuk memuaskan nafsunya semata. Kita sering menyaksikan di panggung kehidupan ini, seorang perempuan terpaksa meratapi kesedihan hanya dikarenakan dirinya tidak dihargai oleh kaum laki-laki. Kita juga sering menyaksikan, betapa banyaknya perempuan kehilangan kehormatan dan jati diri disebabkan ulah jahil kaum laki-laki. Di sinilah uniknya keberadaan perempuan di panggung kehidupan. Di satu sisi ia dipuja-puja oleh kaum laki-laki, namun di sisi lain ia dicam- pakkan laksana sampah yang tak berguna. Namun demikian, bagi perempuan, laki-laki juga sama-sama misteriusnya. Ketampanan wajahnya, kharisma yang dimilikinya serta kewibawaan dan ketegasannya dalam menuntaskan permasalahan menjadikan perempuan “terpaksa” bersimpuh untuk melayani laki-laki. Namun, tak jarang pe- rempuan merasa jijik terhadap laki-laki. Hatinya yang keras, perilakunya yang kejam dan ambisi- 53