Dian Handayani, Tajuddin Bantacut, Jono M. Munandar, dan Slamet Budijanto SIMULASI KEBIJAKAN DAYASAING KEDELAI LOKAL PADA PASAR DOMESTIK SIMULATION OF COMPETITIVENESS POLICY FOR LOCAL SOYBEAN AT DOMESTIC MARKET Dian Handayani 1 , Tajuddin Bantacut 2 , Jono M. Munandar 3 dan Slamet Budijanto 4 1 Ditjen Tanaman Pangan, Departemen Pertanian 2 Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB 3 Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Manajemen, IPB 4 Departemen Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB E-mail : dian.fanuya@ymail.com ABSTRACT Soybean is a strategic commodity which is used as a raw material for food processing and consumed by most of Indonesian people. National demand cannot be covered by local production, due to imported one. This research indicated that soybean harvested area was influenced by local soybean real price, maize real price and last year harvested area. Soybean productivity was influenced by rainfall, maize real price and last year productivity. Local soybean price was influenced by soybean real price at producer level, imported soybean real price, quantity of imported soybean, productivity and last year soybean real price. Soybean real price at producer level was influenced by soybean production, imported soybean quantity, soybean consumption, BULOG monopoly and last year real price at producer level. Soybean import quantity was influenced by production and consumption. Imported soybean price was influenced by international price, exchange rates, import tariff, and last year import price. Combination policy of increase the soybean price and import tariff 20% would stimulate the producer to increase harvested area and production. Strategy to increase competitiveness and national soybean production are through productivity improvement and extended planting area programs. The priority to increase the production is to improve productivity and apply suitable technology. Extension of planting area to better region is conducted to increase cropping index. To anticipate trading liberalization negative effect to farmers’ welfare, protection policy by the government is still needed to control international price fluctuation and to strengthen local soybean competitiveness. Keywords: Strategic commodity, productivity, real price, import quantity, soybean PENDAHULUAN Salah satu komoditi industri berbahan baku pertanian yang memiliki kemampuan dayasaing adalah kedelai (Glicine max) sebagai bahan baku olahan industri kedelai. Kedelai telah membudaya di masyarakat Indonesia dalam ekonomi rumah tangga petani, konsumsi pangan, kebutuhan dan perdagangan pangan nasional (Sudaryanto, 1993). Menurut Departemen Kesehatan (2001), biji kedelai mengandung gizi tinggi, terutama proteinnya (+ 35- 38%) yang mendekati protein susu sapi. Pemanfaatan biji kedelai selain dikonsumsi langsung, juga merupakan bahan baku industri, seperti tahu, tempe, tauge, tauco, oncom, kecap, minyak makan, susu kedelai, soygurt dan pakan ternak (Sudaryanto, 1993). Kebutuhan kedelai meningkat setiap tahun sejalan meningkatnya pertumbuhan penduduk, kesadaran masyarakat akan gizi yang ditandai oleh meningkatnya konsumsi perkapita kedelai serta pertumbuhan industri olahan kedelai. Berdasarkan data BPS, konsumsi kedelai per kapita meningkat dari 8,13 kg pada 1998 menjadi 8,97 kg pada 2004 (Suryana, 2005). Departemen Pertanian memasukan kedelai dalam kebijakan pengadaan pangan melalui peningkatan produksi disebabkan produksi nasional belum mencukupi kebutuhan. Permasalahan saat ini permintaan kedelai terus meningkat, namun tidak dapat diimbangi produksi dalam negeri. Untuk memenuhinya dilakukan impor yang terus meningkat setiap tahun. Sejak 1975 posisi Indonesia bergeser dari negara eksportir menjadi pengimpor kedelai (Amang, 1996). Hal ini disebabkan permintaan kedelai begitu cepat, sementara produksi berkembang lambat dikarenakan produktivitas kedelai lokal masih rendah (Suryana, 2005). Menurut Murkan (2006), saat ini rata-rata kebutuhan kedelai setiap tahunnya + 2.000.000 ton. Produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi + 800.000 ton (+ 40%) dari kebutuhan dan selebihnya dipenuhi dari impor yang mencapai + 1.200.000 ton (+ 60%). Pada dasawarsa terakhir terjadi penurunan produksi karena permasalahan harga kedelai yang berpengaruh terhadap keputusan petani dalam memproduksi. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi dan pemenuhan kebutuhan kedelai sejak 1986. Namun sasaran produksi kedelai belum dapat tercapai karena berbagai kendala (Suryana, 2005). Ketergantungan akan konsumsi kedelai yang cukup besar dan telah menjadi tradisi, khususnya di pulau Jawa tentu berdampak pada ketergantungan terhadap impor apabila produksi di dalam negeri tidak mengalami peningkatan yang nyata (Hadipurnomo, 2000). Penelitian ini diharapkan dapat mempelajari dan menetapkan faktor-faktor penentu dalam meningkatkan dayasaing kedelai lokal terhadap pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen dalam industri berbahan baku kedelai melalui J. Tek. Ind. Pert. Vol. 19(1), 7-15 8 7