Jurnal Teknik Industri ISSN 2622-5131 (Online) Vol. 11 No. 1 ISSN 1411-6340 (Print) 37 Analisis Risiko Dampak Wabah Pandemi Covid-19 Terhadap Rantai Pasok IKM Batik Keraton Nabila Noor Qisthani 1 , Syarif Hidayatuloh 2* 1,2 Jurusan Teknik Logistik Institut Teknologi Telkom Purwokerto Jln. DI Panjaitan No 128 Purwokerto Jawa Tengah 53147 1 nabila@ittelkom-pwt.ac.id 2 syarif@ittelkom-pwt.ac.id (Makalah: Diterima September 2020, direvisi Februari 2021, dipublikasikan Maret 2021) Intisari— Indonesia merupakan salah satu negara yang terdampak covid-19 diberbagai sektor perekonomian, salah satunya adalah Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM). Ketidakstabilan rantai pasok mengakibatkan banyak UMKM tidak dapat menjalankan aktivitas bisnis seperti biasa. Terjadinya wabah pandemi covid-19 pada rantai pasok merupakan contoh dari distruption risk yaitu risiko yang tidak sering terjadi namun memiliki dampak yang besar terhadap rantai pasok. Salah satu UMKM yang terdampak covid- 19 adalah IKM Batik Keraton yang merupakan salah satu industri penghasil batik yang terletak di Kota Pekalongan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian risiko dan agen risiko yang dapat terjadi pada aliran rantai pasok IKM Batik Keraton yang diakibatkan pandemi Covid-19. Hasil dari penelitian ini menunjukkan ada 26 potensi risiko dan 36 agen risiko yang berhasil teridentifikasi. Terdapat beberapa agen risiko yang muncul akibat dampak pandemi covid-19 yaitu agen risiko A27, A32, A33, A34 dan A35. Dengan pemetaan menggunakan House of Risk dan diagram pareto didapatkan 3 agen risiko yang menjadi prioritas untuk dilakukan strategi penanganan risiko dengan nilai ARP terbesar yaitu kestidakseimbangan lintasan produksi (A3), pekerja yang kurang kompten dibidangnya (A10) dan kelalaian tenaga kerja A29. Kata kunci—Covid-19, House of Risk, SCOR, UMKM, Batik Abstract— Indonesia is one of the countries affected by Covid-19 in various economic sectors, one of which is Small and Medium Enterprises (MSMEs). Supply chain instability has resulted in many MSMEs unable to carry out business activities as usual. The occurrence of the Covid-19 pandemic outbreak in the supply chain is an example of distruption risk, which is a risk that does not occur frequently but has a large impact on the supply chain. One of the MSMEs affected by covid-19 is the IKM Batik Keraton, which is one of the batik-producing industries located in Pekalongan City. This study aims to analyze the risk events and risk agents that can occur in the supply chain for the IKM Batik Keraton caused by the Covid-19 pandemic. The results of this study indicate that there are 26 potential risks and 36 risk agents identified. There are several risk agents that have emerged due to the impact of the covid-19 pandemic, namely risk agents A27, A32, A33, A34 and A35. By mapping using the House of Risk and Pareto diagram, there are 3 risk agents that are prioritized for risk management strategies with the largest ARP value, namely imbalance in the production line (A3), workers who are less competent in their fields (A10) and negligence of labor A29. Keywords— Covid-19, House of Risk, SCOR, MSMEs, Batik. I. PENDAHULUAN Dunia saat ini sedang menghadapi wabah pandemi Covid- 19 yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap aspek ekonomi suatu negara. Hal ini disebabkan oleh hilangnya pekerjaan dan pengurangan pendapatan serta jam kerja yang signifikan bagi warga negara di seluruh dunia [1]. Menurut Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun ini akibat dampak wabah pandemi Covid-19 berpotensi tumbuh minus (0,4%), angka tersebut merupakan skenario terburuk akibat dampak Covid-19. Hal ini disebabkan beberapa sektor perekonomian seperti industri rumah tangga, usaha mikro kecil menengah (UMKM) ataupun korporasi yang tidak melakukan aktivitas ekonomi dan hal ini akan berpengaruh terhadap sektor keuangan [2]. Salah satu sektor perekonomian di Indonesia yang paling terdampak akibat wabah pandemi ini adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Padahal berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM RI yang diolah dari data BPS, melaporkan bahwa pada tahun 2018, secara jumlah unit, UMKM memiliki pangsa sekitar 99,99% (64.19 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia. Dengan banyaknya jumlah UMKM yang ada di Indonesia, tentunya dampak pandemi Covid-19 sangatlah besar bagi perekonomian di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik per Agustus 2020, jumlah pengangguran yang ada di Indonesia dikibatkan oleh wabah pandemi covid- 19 meningkat 2,6 juta menjadi 9,77 juta. Hal ini dikarenakan banyak UMKM yang akhirnya gulung tikar dan mengakibatkan banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Ketidakstabilan rantai pasok menjadi salah satu penyebab utama banyaknya UMKM tidak dapat melakukan aktivitas bisnis. Dampak pandemi pada kinerja rantai pasok sangat jelas terlihat dalam permintaan, penawaran dan logistik pada produsen, pengecer dan dan grosir [3] [4]. Adanya pandemi