WAHANA TEKNIK Volume 10, Nomor 01, Juni 2021 Jurnal Keilmuan dan Terapan Teknik Hal 15-22 15 Perencanaan Ulang Sistem Saluran Drainase di Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik Dandy Nugroho 1 , Bowo Leksono 2 , Irani Sholikhah 3 1 2 3 Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Gresik Email: 1 3 dandynugroho@gmail.com, 2 bowoleksono508@gmail.com Abstract Sub district Menganti is one of sub districts of the district of Gresik. The region during the rainy season is often suffered flooding. The flooding problem is likely to arise as result of inadequate channels capacity, changes in land use, drainage network system which is not connected properly, and the lack of public awareness of the importance of maintaining the drainage channels, as well. The final project aims to design the drainage system in the sub district of Menganti-Gresik. Drainage is also interpreted as an effort to control groundwater quality in relation to salinity. The purpose of this study is to plan drainage channels in the Menganti District, Gresik Regency. Data or information used is secondary data obtained from the Public Works Department and primary data obtained from direct surveys in the field. The data processing method uses manual calculation in accordance with the rational method for calculating rain discharges, and the manning formula for channel discharges. The conclusions that can be drawn from this research are: 1) Floods that occur are caused by many areas that do not have a well-integrated drainage network system. 2) The design flow velocity for secondary drainage is 1.933.19 m/s. The dimensions of the secondary drainage channel are rectangular with variations in width 0.942.28 m and channel height 0.47 1.14 m. 3) The design flow velocity for primary drainage is 2.44.5 m/s. The dimensions of the primary drainage channel are rectangular with variations in width of 0.911.62 m and channel height 0.50.8 m. Keywords: drainage, gresik, menganti, re-planning 1. Pendahuluan Menganti merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Gresik yang mengalami perkembangan cukup pesat. Faktor inilah yang menyebabkan Kecamatan Menganti mengalami perubahan tata guna lahan yang semula merupakan lahan sawah, tambak, dan lahan konservasi yang mampu meresapkan dan menampung sementara air hujan berubah menjadi lahan yang diperuntukan untuk kawasan permukiman, pertokoan, perdagangan dan jasa. Perubahan fungsi lahan secara terus menerus akan memperbesar aliran air yang pada akhirnya akan memperbesar debit limpasan permukaan yang harus dialirkan melalui saluran. Pembangunan yang meningkat yang terjadi di Kecamatan Menganti mengakibatkan berkurangnya kapasitas lahan yang berfungsi sebagai resapan atau penampung air hujan. Pesatnya perkembangan kawasan di Kecamatan Menganti tidak disertai dengan adanya pembuatan jaringan drainase kota yang memadai, sehingga air hujan yang turun tidak dapat dialirkan dengan baik dan lancar. Perubahan fungsi lahan secara terus menerus akan memperbesar aliran air yang pada akhirnya akan memperbesar debit limpasan permukaan yang harus dialirkan melalui saluran. Pesatnya perkembangan kawasan di Kecamatan Menganti tidak disertai dengan jaringan drainase kota yang memadai, sehingga air hujan yang turun tidak dapat dialirkan dengan baik dan lancar. Kondisi ini membawa berbagai masalah, salah satunya ialah genangan air/banjir yang dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Gresik, khususnya masyarakat yang berada di wilayah Kecamatan Menganti. Genangan atau banjir yang terjadi Kecamatan Menganti diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi berdasarkan data curah hujan dari Dinas Pekerjaan Umum Bidang Pengairan serta masih banyaknya kawasan yang belum mempunyai saluran drainase yang terintegrasi dengan baik, banyaknya tumpukan sampah, terjadi kerusakan fisik pada sistem jaringan serta masih banyak endapan yang terdapat di dalam saluran yang diakibatkan oleh buangan limbah dari penduduk yang ada di Kecamatan Menganti.