Arsyianti -- PERENCANAAN PEMBELIAN RUMAH TINGGAL Jurnal Ekonomi Islam Al-Infaq, Vol. 3 No. 1, Maret 2012 pp. 50-57 Program Studi Ekonomi Islam FAI-UIKA Bogor 50 PERENCANAAN PEMBELIAN RUMAH TINGGAL Laily Dwi Arsyianti Staf Pengajar pada Program Studi Ekonomi Syariah, Institut Pertanian Bogor dan mengajar pada Program Studi Ekonomi Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor. Abstrak Salah satu kebutuhan hidup manusia yang utama adalah memiliki tempat tinggal. Namun, tidak jarang ditemukan kendala untuk membeli rumah, salah satunya adalah ketersediaan dana tunai yang cukup di saat yang sama. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba berbagi pengetahuan mengenai skema kepemilikan rumah serta bagaimana merencanakan kepemilikan tersebut sejak awal. Pada akhirnya, rumah tidak harus dimiliki secara fisik saja melainkan dapat pula dimiliki manfaatnya tanpa harus memiliki fisiknya. Perencanaan yang terinci perlu diperkirakan sejak awal untuk dapat memiliki rumah secara fisik. Kata Kunci: skema kepemilikan rumah, perencanaan Abstract One of the basic needs of human being is having a house to live in. However, we quite often find obstacles in buying a house, one of which is availability of sufficient cash at the time we need. Therefore, this paper tries to share the knowledge about ownership schemes of having house(es) and how to make a plan or a financial design in order to own a house as soon as possible . Eventually, a house or a home in various physical shapes can be owned not only in physical appearence but also through its usufruct without having its physicality. Detailed planning needs to be estimated at early stage in order to fullfil the need of living in a home. While at the same time, we need to maintain our qana'ah lifestyle. Keywords: ownership schemes of having house, financial design I. Pendahuluan Salah satu kebutuhan hidup manusia yang utama adalah memiliki tempat tinggal. Sebagaimana tercantum dalam QS Thaha: 117-119 yang menceritakan tentang kehidupan Nabi Adam bahwa di surga, manusia tidak akan kelaparan, tidak akan telanjang, tidak akan kehausan dan tidak akan tertimpa terik panas matahari. Artinya, manusia butuh makan, butuh pakaian untuk menutup aurat, butuh minum dan butuh tempat tinggal agar terlindungi dari panas matahari. Penduduk Indonesia diperkirakan telah menyapai 237 juta jiwa pada tahun 2010 1 . Ternyata data menunjukkan bahwa pola konsumsi terhadap makanan telah bergeser kepada non makanan. Rata-rata konsumsi terhadap makanan per kapita pada tahun 2010 adalah 51,43 persen, menurun dibandingkan pada tahun 1999 sebesar 62,94 persen. Yang menarik adalah, konsumsi non makanan terbesar dihabiskan untuk perumahan dan fasilitas rumah 1 http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=12¬ab=1 , diunduh pada 23 Februari 2012 pukul 19:16.