PERTUMBUHAN, KUANTITAS DAN KUALITAS RIMPANG JAHE (Zingiber officinale Roscoe) PADA CEKAMAN KEKERINGAN DI BAWAH NAUNGAN Lukita Devy, Winda Nawfetrias Pusat Teknologi Produksi Pertanian Gedung II BPPT Lantai 17, Jl. MH Thamrin 8 Jakarta 10340 E-mail: lukita.devy@bppt.go.id Abstract This research studied the growth, quantity and quality of ginger rhizome under drought stress condition. The drought stress condition was 60% of soil field capacity. This experiment was arranged in randomized complete block designed. The treatments were drought stress periods (6, 4, 2 and 0 week before harvesting) with six replications. The result showed that drought stress period affected the quantity (rhizome dry weight) and quality (gingerol content) of ginger. Rhizome dry weight was decreased with the increase of drought stress period, while gingerol content showed opposite trend. Kata kunci: jahe (Zingiber officinale), gingerol, bobot kering 1. PENDAHULUAN Jahe (Zingiber officinale Roscoe) merupakan salah satu tanaman yang potensial dan memiliki banyak manfaat. Secara umum jahe digunakan sebagai bahan obat tradisional, bumbu, bahan makanan dan minuman. Secara medis, selama berabad- abad, jahe berfungsi untuk pengobatan katarak, rematik, penyakit syaraf, sakit gigi, asma, stroke, sembelit dan diabetes (Ali et al., 2008). Banyak penelitian mengkaji kegunaan jahe da- lam bidang medis. Diantaranya adalah sebagai antiinflamasi (Grzanna et al., 2005), pencegahan kanker (Shukla & Singh, 2007) dan anti mual pasca operasi (Chaiyakunapruk et al., 2006). Tanaman jahe banyak dibudidayakan di bawah naungan pohon karena memiliki toleransi yang baik terhadap naungan. Jahe dapat menjalankan siklus hidupnya secara normal meskipun tanpa mendapat intensitas cahaya penuh. Jahe dapat tumbuh baik dengan intensitas naungan sampai 50% (Januwati et al., 2000). Oleh karena itu pe- ngembangan jahe dapat dilakukan ke lahan-lahan marginal seperti lahan kering ternaungi. Lahan kering ternaungi banyak tersedia di In- donesia. Lahan kering ternaungi yang potensial untuk pengembangan temulawak di Indonesia adalah lahan perkebunan sekitar 19.6 juta ha (BPS, 2006). Pemanfaatan lahan-lahan tersebut akan sangat mendukung peningkatan produksi jahe nasional. Budidaya jahe pada lahan ternaungi tersebut cenderung tidak mendapatkan irigasi secara tera- tur sehingga kondisi iklim mikro di sekitar tanaman cenderung kering. Oleh karena itu perlu dilakukan studi untuk mengetahui kondisi kekeringan yang masih dapat ditoleransi oleh tanaman jahe se- hingga dapat tumbuh dan berkembang dengan optimum. Beberapa penelitian terkait cekaman kekering- an menunjukkan bahwa cekaman kekeringan da- pat menyebabkan kurangnya pertambahan bio- massa daun dan menurunkan kadar klorofil jahe (Nio, 2011), tidak merubah mutu daun ungu (Dar- wati et al., 2002) dan menurunkan kadar klorofil, kerapatan stomata, ukuran stomata dan mengu- rangi aktivitas akar jahe (Kun et al., 2003). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempe- lajari sejauh mana peningkatan periode cekaman kekeringan mempengaruhi pertumbuhan, hasil panen dan kualitas jahe pada kondisi ternaungi. 2. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Labo- ratorium Teknologi Produksi Pertanian-LAPTIAB, Kawasan Puspiptek Serpong dari bulan Januari sampai Oktober 2011. Percobaan dirancang menggunakan rancangan kelompok lengkap tera- cak (randomized complete block design). Perla- kuan terdiri dari satu taraf yaitu periode cekaman kekeringan yang berupa pengurangan kadar air 216 Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 14, No. 3, Desember 2012 Hlm.216-220 Diterima 11 Oktober 2012; terima dalam revisi 22 Januari 2013; layak cetak 27 Maret 2013