Volume 1, Nomor 1, Januari 2018 | Jurnal Agro Wiralodra 1 Respon Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays Saccharata Sturt) Varietas Bisi Sweet Terhadap Kombinasi Dosis Pupuk Nitrogen Dan Pupuk Organik Cair Yudhi Mahmud* Fakultas Pertanian Universitas Wiralodra, Indramayu * yudhi_fp@unwir.ac.id Abstrak Tujuan penelitian untuk mendapatkan kombinasi dosis pupuk nitrogen dan pupuk organik cair yang baik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian dilakukan di lahan percobaan BP3K Rawa Merta, Kecamatan Rawa Merta, Kabupaten Karawang, dari bulan September sampai dengan bulan Desember 2017. Metode penelitian yang digunakan metode eksperime dengan rancangan acak lengkap. Ada 13 taraf perlakuan dengan tiga kali ulangan, perlakuan terdiri dari (P0) tanpa pemupukan, (P1) 45 kg N/ha, (P2) 90 kg N/ha, (P3) 136 kg N/ha, (P4) 45 kg N/ha + 4 lt POC/ha, (P5) 45 kg N/ha + 6 lt POC/ha, (P6) 45 kg N/ha + 8 lt POC/ha, (P7) 90 kg N/ha + 4 lt POC/ha, (P8) 90 kg N/ha + 6 lt POC/ha, (P9) 90 kg N/ha + 8 lt POC/ha, (P10) 135 kg N/ha + 4 lt POC/ha, (P11) 135 kg N/ha + 6 lt POC/ha, (P12) 135 kg N/ha + 8 lt POC/ha. Pemberian kombinasi dosis pupuk nitrogen dan pupuk organik cair menunjukan pengaruh yang nyata terhadap komponen pertumbuhan (tinggi tanaman : 40 HST, dan 50 HST, jumlah daun : 20 HST, 40 HST, dan 50 HST, dan berat basah berangkasan) dan komponen hasil (jumlah biji per tongkol, diameter tongkol tanpa kelobot, dan bobot tongkol tanpa kelobot per tanaman) jagung manis. Hasil tertinggi pada komponen pertumbuhan (tinggi tanaman umur 50 HST = 207,13 cm, jumlah daun umur 50 HST = 12,9 cm, dan berat basah berangkasan = 338,17 gram) dicapai oleh perlakuan (P7) 90 kg N/ha + 4 lt POC/ha, komponen hasil (jumlah biji per tongkol = 426,33, diameter tongkol tanpa kelobot = 4,25 cm, dan bobot tongkol tanpa kelobot per tanaman = 105,26 gram) dicapai oleh perlakuan (P9) 90 kg N/ha + 8 lt POC/ha Kata kunci : Pertumbuhan, Jagung manis, Pupuk Nitrogen, Pupuk Organik Cair. Pendahuluan Jagung manis atau sweet corn (Zea mays saccharata Sturt) merupakan komoditi pangan hortikultura yang mulai banyak dikembangkan di Indonesia. Jagung manis lebih disukai oleh konsumen karena memiliki rasa manis yang lebih dibandingkan jagung biasa juga mengandung karbohidrat, protein, dan vitamin tapi rendah kandungan lemaknya. Akibatnya permintaan pasar terhadap jagung manis mengalami peningkatan, terutama di kota-kota besar, seiring dengan munculnya pasar swalayan, hotel, dan restoran.Budidaya jagung manis merupakan alternatif yang dapat dipilih oleh petani dalam melakukan diversifikasi tanaman, karena selain memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya, juga peluang untuk memasarkannya semakin terbuka. Diharapkan usaha budidaya jagung manis dapat meningkatkan pendapatan petani. Jagung manis untuk dapat tumbuh optimal harus ditanam di lahan yang memiliki zat hara makro dan mikro yang cukup tinggi (Palungkun dan Budiarti, 2000). Kondisi lahan pertanian Karawang memiliki kandungan zat hara makro dan mikro yang rendah. Hal ini ditunjukan oleh kandungan unsur hara tanah seperti : kandungan nitrogen rendah yaitu 0,1 %, P-dd sangat rendah yaitu 4,1 me/100g, kalium rendah yaitu 10,16 me/100g, Na sedang yaitu 0,48 me/100g, dengan status hara C-organik 1,2 % termasuk kategori rendah (Bappeda Karawang, 2004). Kondisi tanah yang sesuai untuk pertumbuhan jagung manis di daerah Karawang dapat dipenuhi melalui penggunaan pupuk. Upaya penggunaan dan pemilihan pupuk untuk memacu pertumbuhan dan produksi jagung manis harus dapat dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan. Penambahan unsur makro nitrogen (N) dalam tanah dapat dilakukan dengan menambahkan pupuk nitrogen (Lingga dan Marsono 2013), sedangkan penambahan unsur mikro dalam tanah dapat dilakukan dengan menambahkan Pupuk Organik Cair (POC) yang memiliki kandungan unsur-unsur mikro dan hormon yang dibutuhkan tanaman. Penggunaan pupuk an-organik yang terus menerus tanpa pengembalian bahan organik ke dalam tanah mengakibatkan kandungan bahan organik tanah (humus) menurun drastis sehingga kemampuan tanah untuk mendukung ketersediaan air, hara dan kehidupan biota, cenderung menurun dan akhirnya mengakibatkan tanah menjadi padat (Sarief, 1989). Pemberian bahan organik saat ini merupakan salah satu cara untuk meningkakan produktivitas lahan. Pemberian bahan organik diharapkan dapat memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologi tanah sehingga respon tanaman terhadap pemberian pupuk dapat ditingkatkan. Pupuk organik mempunyai daya untuk meningkatkan kesuburan tanah karena dapat menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman, memperbaiki struktur tanah, dan mempertinggi kadar humus (Sarief, 1989). Penggunaan pupuk organik lebih ditujukan untuk memperbaiki kondisi tanah seperti perbaikan aerasi tanah dan kesuburan tanah yang mana 1