JURNAL TEKNIK ITS Vol. 7, No. 2, (2018) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C143 Abstrak—Urban Heat Island menjadi fenomena yang mengaitkan antara kenaikan suhu permukaan dengan aktivitas manusia, yaitu pembangunan. Wilayah Surabaya Timur mengalami perkembangan pembangunan yang pesat dalam 10 tahun terakhir. Proyek infrastruktur MERR dan rencana JLLT yang ditargetkan selesai pada 2019 meningkatkan potensi konversi lahan non terbangun menjadi kawasan hunian, komersial, dan sebagainya. Wilayah Surabaya Timur mengalami kenaikan suhu maksimal dari 33,7 0 C menjadi 34 0 C dalam rentang waktu 2013-2016. Pemerintah Kota Surabaya berupaya untuk menyeimbangkan lingkungan dengan penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) agar dapat menurunkan suhu. Oleh karena itu diperlukan adanya penentuan penambahan RTH yang memperhatikan aspek fisik, biologis, dan sosial dilihat dari indeks kenyamanan, kerapatan vegetasi, dan kepadatan penduduk. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan prioritas RTH sebagai penambahan luasan dari RTH eksisting di Wilayah Surabaya Timur yang dicapai melalui tahapan penelitian sebagai berikut : (1) Mengidentifikasi faktor-faktor penentuan prioritas RTH di Wilayah Surabaya Timur; (2) Menentukan prioritas RTH di Wilayah Surabaya Timur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penentuan prioritas RTH didasarkan pada overlay antara aspek biologis kerapatan vegetasi dari nilai NDVI, aspek fisik dari indeks kenyamanan THI, dan kepadatan penduduk. Prioritas RTH terdiri dari RTH eksisting dan rekomendasi penambahan RTH dilihat dari overlay skor 4 (moderate priority) dan skor 5 (high priority) di lahan non terbangun. Hasil penentuan prioritas RTH menunjukkan penambahan RTH dari RTH eksisting dilakukan pada 663,23 Ha tambak, 2,14 Ha tanah kosong, dan 129,30 Ha lahan pertanian. Arahan penambahan RTH dari prioritas RTH meningkatkan luasan RTH eksisting 783,06 Ha menjadi 1.577,73 Ha atau 16,18% dari total Wilayah Surabaya Timur. Kata Kunci— Overlay, RTH, Remote Sensing, Urban Heat Island. I. PENDAHULUAN INGGINYA laju urbanisasi ditandai dengan meningkatnya lahan terbangun terutama permukiman dan industri menjadi salah satu penyebab meluasnya fenomena yang disebut dengan Urban Heat Island[1]. Urban Heat Island ditandai dengan terjadinya kenaikan suhu atmosfer dan permukaan yang terjadi di area perkotaan dibandingkan daerah pedesaan dan sekitarnya. Jenis tutupan vegetasi mampu menetralkan peningkatan suhu permukaan karena vegetasi melakukan evaporasi dan transpirasi yang mampu melepaskan air ke udara sehingga dapat mengurangi temperatur udara di sekitarnya[2]. Kota Surabaya menjadi salah satu kota besar yang memiliki jumlah penduduk tertinggi kedua di Indonesia setelah Jakarta Timur[3]. Dengan jumlah penduduk sebesar 3.016.653 jiwa dan kepadatan penduduk sebesar 9.231 jiwa/km 2 pada tahun 2016 Kota Surabaya termasuk dalam klasifikasi Kota Metropolitan. Kondisi ini menunjukkan bahwa Kota Surabaya memiliki aktivitas yang semakin padat. Hal ini didukung dengan peningkatan pertumbuhan penduduk dari tahun 1990-2000 menunjukkan angka 0,5%, menjadi 0,63% pada tahun 2000-2010[4]. Dengan perkembangan lahan yang semakin padat di Kawasan Surabaya Timur berimplikasi pada berkurangnya lahan vegetasi seperti RTH, Tambak, dan Hutan Mangrove. Penyusutan alokasi area untuk RTH mengakibatkan tingkat penyerapan karbon semakin kecil dan berdampak pada peningkatan suhu permukaan tanah[5]. Data temperatur yang diukur stasiun Juanda Surabaya menunjukkan peningkatan suhu rata-rata dalam satu tahun. Suhu maksimum tahun 2013 sebesar 33,7 0 C mengalami peningkatan menjadi 34,0 0 C pada tahun 2016. Sedangkan suhu minimum juga meningkat dari 22,6 0 C pada tahun 2013 menjadi 23,4 0 C pada tahun 2016[4]. Tingginya peluang perubahan penggunaan lahan di Surabaya Timur mengakibatkan kebutuhan akan ruang terbuka hijau yang mampu menurunkan suhu permukaan semakin tinggi. Metode penyediaan RTH di Indonesia pada umumnya hanya mengukur luasan yang diperlukan, tidak diketahui lokasi yang harus dikembangkan agar berfungsi secara optimal dalam menurunkan suhu udara perkotaan. Metode penentuan prioritas RTH yang cepat dan akurat diperlukan dengan representasi spasial berdasarkan karakteristik biologi, fisik, sosial, dan ekonomi wilayah[6]. Aspek fisik dan biologi dari wilayah kota-kota besar di Asia digunakan untuk menentukan hubungan antara fenomena Urban Heat Island dengan karakteristik tutupan lahan dengan melakukan tumpang tindih (overlay) peta penutupan lahan, kerapatan vegetasi (NDVI), dan suhu permukaan[7]. Metode penentuan prioritas pembangunan infrastruktur RTH dapat dilakukan dengan menggunakan nilai suhu permukaan, data kependudukan, dan letak fasilitas publik dimana lokasi prioritas RTH sebagai lokasi dengan suhu permukaan yang lebih tinggi, padat penduduk, dengan aktivitas publik yang tinggi[8]. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan penambahan RTH di kawasan yang belum terbangun dengan kriteria ditentukan pada aspek fisik, biologis, dan sosial dilihat dari indeks kenyamanan, kerapatan vegetasi, dan kepadatan penduduk. Sehingga pada akhirnya prioritas RTH hasil analisa mampu menurunkan efek dari fenomena Urban Heat Island. Penentuan Prioritas Ruang Terbuka Hijau berdasarkan Efek Urban Heat Island di Wilayah Surabaya Timur Nabiilatul Arifah dan Cahyono Susetyo Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Arsitektur Desain dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: cahyono_s@urplan.its.ac.id T