Jurnal Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol. 20 No.1 2020 e-issn : 2622-6960, p-issn : 0854-624X 125 KEJADIAN ISPA PADA BALITA (Studi Analitik Di UPTD Puskesmas Bontomatene Dan Kelurahan Batangmata Kecamatan Bontomatene Kepulauan Selayar) Nur Aini Cora¹, Muslimin B², Arlin Adam³ Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pejuang Republik Indonesia Email correspondent:musimink2@gmail.com ABSTRACT. ARI is an acute infection of the lung tissue (alveoli) which can be caused by various microorganisms such as viruses, fungi, and bacteria. This disease begins with heat accompanied by one or more symptoms: sore throat or swallowing pain, runny nose, dry cough, or phlegm. ARI always ranks first out of the 10 most diseases in Indonesia (Kemenkes RI, 2014). This type of research is an analytic study with the Cross-Sectional Study approach. The sampling technique in this study is to use a total sampling technique. To determine the relationship between cigarette smoke exposure, ventilation, occupancy density, and ARI events in infants. Based on the results of statistical test analysis (Chi-Square) (1) p-value of 0,000 (p-value <0.05), shows that there is a relationship between cigarette smoke exposure with ARI events. (2) a p-value of 0,000 (p-value <0.05), indicating that there is a relationship between ventilation and ARI events. (3) a p-value of 0,000 (p-value <0.05), indicating that there is a relationship between occupancy density and ARI event. As for conclusions and suggestions; (1) There is a meaningful relationship between exposure to cigarette smoke to the incidence of ARI in infants, (2) There is a beneficial relationship between ventilation of ARI in toddlers, (3) There is a meaningful relationship between occupancy density and the incidence of ARI in toddlers. It is expected that parents keep the toddler away from smokers so that they are not exposed to cigarette smoke and make it a habit to open the window every day during the day, and pay attention to the quality of the house by improving the ventilation of the house and residential density. Keywords: ARI, Cigarette Smoke Exposure, Ventilation, and Occupancy Density. ABSTRAK. ISPA adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, jamur dan bakteri. Penyakit ini diawali dengan panas disertai salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek, batuk kering atau berdahak. ISPA selalu menduduki peringkat pertama dari 10 penyakit terbanyak di Indonesia (Kemenkes RI, 2014). Jenis penelitian yang digunakan adalah studi analitik dengan pendekatan Cross Sectional Study. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik total sampling. Dengan tujuan untuk mengetahui hubungan keterpaparan asap rokok, ventilasi, kepadatan hunian deng an kejadian ISPA pada balita. Berdasarkan hasil analisis uji statistik (Chi-Square) (1) nilai p sebesar 0,000 (p value < 0,05), menunjukkan bahwa ada hubungan antara keterpaparan asap rokok dengan Kejadian ISPA. (2) nilai p sebesar 0,000 (p value < 0,05), menunjukkan bahwa ada hubungan antara ventilasi dengan Kejadian ISPA. (3) nilai p sebesar 0,000 (p value < 0,05), menunjukkan bahwa ada hubungan antara kepadatan hunian dengan Kejadian ISPA. Adapun kesimpulan dan saran; (1) Ada hubungan bermakana antara keterpaparan asap rokok terhadap kejadian penyakit ISPA pada balita, (2) Ada hubungan bermakana antara ventilasi terhadap kejadian penyakit ISPA pada balita, (3) Ada hubungan bermakana antara kepadatan hunian terhadap kejadian penyakit ISPA pada balita. Diharapkan orang tua agar menjauhkan balita dari perokok sehingga tidak terkena paparan asap rokok dan membiasakan membuka jendela setiap hari pada saat siang hari, serta memperhatikan kualitas rumah yaitu dengan perbaikan ventilasi rumah dan kepadatan hunian. Kata Kunci: ISPA, Keterpaparan Asap Rokok, Ventilasi, dan Kepadatan Hunian. PENDAHULUAN Latar Belakang Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, jamur dan bakteri. Gejala penyakit pneumonia yaitu menggigil, demam, sakit kepala, batuk, mengeluarkan dahak, dan sesak napas. Pneumonia merupakan penyebab utama kematian balita di dunia. Penyakit ini menyumbang 16% dari seluruh kematian anak di bawah 5 tahun, yang menyebabkan kematian pada 920.136 balita, atau lebih dari 2.500 per hari, atau di perkirakan 2 anak Balita meninggal setiap menit pada tahun 2015. (WHO, dalam Profil Kesehatan RI, 2017 ). Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2011 di New York jumlah penderita ISPA adalah 48.325 anak dan memperkirakan dinegara berkembang berkisar 30- 70 kali lebih tinggi dari negara maju dan diduga 20% dari bayi yang lahir di negara berkembang gagal mencapai usia 5 tahun dan 26-30% dari kematian anak disebabkan oleh ISPA. (Sukarto et all, 2016) Di wilayah Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara dengan jumlah kematian akibat ISPA tertinggi yaitu sebesar 25.000 jiwa selama tahun 2015. (Saputri, 2016) Di Indonesia, menurut data Ditjen P2P, Kemenkes RI 2017 digambarkan bahwa realisasi penemuan penderita pneumonia balita 2017 adalah 447,431 (46,34%) dengan jumlah kematian balita karena pneumonia adalah 1.351 (0,30%). Provinsi dengan jumlah kasus pneumonia pada balita tahun 2017, antara lain Jawa Barat (126.936 jiwa), Jawa Timur (65.139 jiwa), Jawa Tengah (52.033 jiwa), DKI Jakarta (43.500 jiwa), Banten (30.402 jiwa), dan Nusa Tenggara Barat (18.569 jiwa). Profil Kemenkes RI tahun 2017 prevalensi Pneumonia di Sulawesi Selatan tahun 2017 yaitu 19,27% dengan tertinggi pada kelompok umur 1-4