Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013 Semirata 2013 FMIPA Unila |365 Potensi Tanaman Rumput Sebagai Agen Fitoremediasi Tanah Terkontaminasi Limbah Minyak Bumi Sri Pertiwi Estuningsih 1 , Juswardi 1 , Bambang Yudono 2 , Resa Yulianti 1 1. Jurusan Biologi, 2. Jurusan Kimia FMIPA Univesritas Sriwijaya E-mail:yudonob@hotmail.com Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan beberapa jenis rumput dalam fitoremediasi limbah minyak bumi pada berbagai konsentrasi limbah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) berpola faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan yaitu konsentrasi limbah minyak bumi dan jenis rumput diperoleh 20 kombinasi perlakuan dengan 2 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumput F. acuminata, . Rumput F. acuminata dan C. kyllingia masih dapat tumbuh dengan baik pada konsentrasi limbah 2,5%; C. dactylon pada konsentrasi 5% dan E. indica pada konsentrasi 7,5%. Rumput E. indica pada konsentrasi 7,5% mempunyai berat basah tertinggi yaitu 125,1 g dengan penurunan nilai TPH 6,19%. Karakter morfologi rumput akibat penambahan limbah minyak bumi pada media adalah daun mengalami klorosis, tepi dan pucuk daun mengkerut dan terjadi reduksi panjang akar. Kata kunci: fitoremediasi, rumput, limbah minyak bumi PENDAHULUAN Kebutuhan minyak bumi terus mengalami peningkatan seiring dengan tingginya kebutuhan energi fosil sebagai akibat kemajuan teknologi dan kebutuhan hidup manusia. Hal ini menyebabkan meningkatnya kegiatan produksi minyak bumi. Selain menghasilkan produk minyak mentah (crude oil), produksi minyak bumi juga menghasilkan limbah minyak bumi. Limbah minyak bumi yang mencemari tanah dapat merusak lingkungan, mengganggu kesehatan manusia serta mahluk hidup lainnya. Oleh karena itu untuk mencegah penyebaran dan penyerapan minyak ke dalam tanah perlu dilakukan pengelolaan dan pengolahan pada tanah yang terkontaminasi minyak bumi. Oleh karena itu diperlukan metode pengolahan limbah yang bisa digunakan secara efisien dan ramah lingkungan. Salah satu metode alternatif pengolahan limbah tersebut adalah fitoremediasi. Fitoremediasi didefinisikan sebagai teknologi pembersihan, penghilangan atau pengurangan polutan berbahaya, seperti logam berat, pestisida, dan senyawa organik beracun dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan tanaman. Proses fitoremediasi pada tumbuhan, dapat dilakukan melalui beberapa mekanisme yaitu: fitoekstraksi, rizofiltrasi, fitodegradasi, fitostabilisasi, fitovolatilisasi (Priyanto & Prayitno 2000: 1). Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan fitoremediasi yaitu kemampuan daya akumulasi berbagai jenis tanaman untuk berbagai jenis polutan dan konsentrasi; sifat kimia dan fisika, serta sifat fisiologi tanaman; jumlah zat kimia berbahaya; mekanisme akumulasi dan hiperakumulasi ditinjau secara fisiologi, biokimia, dan molekular; serta penggunaan konsentrasi limbah yang tepat sangat menentukan keberhasilan pada proses fitoremediasi (Kurniawan 2008: 2). Pemanfaatan rumput Cynodon dactylon (L.) Pers., Cyperus kyllingia Endl., Eleusine indica (L.) Gaertn., dan Fimbristylis acuminata Vahl dalam fitoremediasi karena diduga tumbuhan ini mampu mengurangi pencemaran hidrokarbon pada tanah. Hal ini berdasarkan penelitian Aprill & Sims (1990 dalam Alexander 1994: 335) yang menggunakan campuran 8 jenis rumput