JURNAL STUDI GENDER & ANAK Pusat Studi Gender STAIN Purwokerto YINYANG ISSN: 1907-2791 Vol.5 No.2 Jul-Des 2010 pp.312-327 INTERKONEKSITAS FEMINISME MUSLIM DAN GERAKAN PEMBAHARUAN DI TIMUR TENGAH Sulkhan Chakim *) *) Penulis adalah Magister Manajemen (M.M.), dosen di Jurusan Dakwah (Komunikasi) STAIN Purwokerto. Abstract : This paper discusses the interconnection of feminism and the reform movement in the Muslim Middle East. Target to be obtained, and parse the convergence and tension between Muslim feminist movement with the movement of Islamic reform. Intersection between the two species include the idea of Islamic unity, the question of religious issues, political interests and representation of interests of each of them different. Keywords : Interconnection, religious issues, representation. A. PENDAHULUAN Gerakan feminis muslim di dunia Islam, terutama di Timur Tengah atau di dunia Arabia selalu terkait dengan kebangkitan Islam. Hal ini ditandai dengan pertentangan antara intelektual ekstrem kanan dan ekstrem kiri yang melibatkan rezim/pemerintah yang berafiliasi dengan imperium. Oleh karenanya, pembahasan feminis muslim ini harus dikaji dari sisi historis, framework feminis muslim, dan isu-isu yang diperdebatkannya. Penetrasi Barat ke pusat dunia Islam di Timur Tengah pertama–tama dilakukan oleh dua bangsa Eropa, yaitu Inggris dan Perancis, yang keduanya sedang bersaing sebagai imperium. Inggris terlebih dahulu menguasai di India. Adapun Perancis, untuk masuk ke India, terlebih dahulu harus menguasai Mesir (tahun 1798 M) sebagai pintu gerbang masuk ke India. Motif lain Perancis menaklukkan Mesir, adalah politik ekonomi terkait dengan pemasaran dan penyediaan bahan-bahan baku dan menjadikan pusat kegiatan pendistribusian hasil industrinya ke wilayah Timur Tengah, serta keinginan yang kuat ekspedisi Napoleon Bonaparte untuk mengikuti jejak Alexander the Great dari Macedonia yang pernah menguasai Eropa, Asia, sampai dengan India. 1 Persaingan antara Inggris dan Perancis di Timur Tengah terjadi sudah lama dan terus berlangsung, dan faktor utama yang menarik kehadiran kekuatan-kekuatan Eropa ke dunia muslim, adalah ekonomi dan politik. Namun persoalan tersebut melibatkan agama dalam proses politik penjajahan Barat atas dunia Islam. 2 Pertarungan antara Islam dan kekuatan Eropa telah menyadarkan umat Islam bahwa umat Islam tertinggal jauh dari Eropa. Usaha-usaha yang dilakukan oleh umat Islam adalah gerakan pembaharuan, yang didorong oleh faktor yang saling mendukung, yaitu pemurnian ajaran Islam dari unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran umat Islam, dan menimba gagasan ilmu pengetahuan dari Barat. Gerakan ini melibatkan gerakan Wahabiyah (1703-1787 M) di Arabia, Syah Waliyullah (1703- 1762 M) di India, dan Gerakan Sanusiah di Afrika Utara yang dipimpin Muhammad Sanusi dari Aljazair. Selanjutnya, pergerakan ini memasuki ranah politik. Gagasan politik yang pertamakali adalah gagasan Pan-Islamisme 3 sebagai gagasan persatuan Islam sedunia yang disuarakan secara lantang oleh Jamaludin al-Afghani (1839-1897 M).