Diterima: 29-01-2022 | Revisi: 21-02-2022 | Diterbitkan: 31-03-2022 | doi: 10.37034/infeb.v4i1.105
7
Jurnal Informatika Ekonomi Bisnis
http://www.infeb.org
2022 Vol. 4 No. 1 Hal: 7-16 e-ISSN: 2714-8491
Identifikasi Faktor Kegagalan Hasil Produksi Busa dengan Sistem
Pakar Metode Dempster Shafer dan Certainty Factor
Dhyana Lowrenza
1
1
Universitas Putra Indonesia YPTK Padang
dhyanalowrenza@gmail.com
Abstract
Foam is a derivative product made from PPG (Propylene Glycol) or Polyether Polyol which is then mixed with additives and
catalysts. So it will produce foam that is used in the springbed and mattress industry. The foam is produced first by using a
mixer machine. After the mixer, dispensing will be carried out (pouring the material into the mold) then the foam will be
blown off and the foam production process is complete. Failure to produce foam often results in losses in terms of raw
materials, costs, and time. To avoid the failure of the same foam production, a research was carried out by designing an
expert system application that aims to be able to identify the factors causing the failure of foam production and to reduce the
risk of failure of foam production. The data needed in this study were obtained from PT Bungo Permai Lestari. The data is
then processed using the Dempster Shafer method and the Certainty Factor method. The results of this study are to provide
output in the form of certainty values from failure of foam production, factors causing failure of foam production, as well as
solutions to failure of foam production obtained through consultation using the Dempster Shafer method and the Certainty
Factor method by selecting symptoms that match the results. foam production. So this research can help PT Bungo Permai
Lestari to find out the causes and solutions to the failure of foam production and can reduce the risk of failure during foam
production.
Keywords: Failure Factor, Foam Production, Expert System, Dempster Shafer, Certainty Factor.
Abstrak
Busa adalah produk turunan yang berbahan baku PPG (Propylene Glycol) atau Polyether Polyol yang kemudian dicampurkan
dengan bahan additive dan catalys. Sehingga akan dihasilkan busa yang digunakan dalam industri springbed dan kasur. Busa
diproduksi terlebih dahulu dengan menggunakan mesin mixer. Setelah di mixer, akan dilakukan dispensing (penuangan
bahan ke cetakan) kemudian busa akan blow off dan proses produksi busa pun selesai. Sering terjadi kegagalan dalam
memproduksi busa tentu memberikan kerugian baik dari segi bahan baku, biaya, dan waktu. Untuk menghindari terjadinya
kegagalan hasil produksi busa yang sama, maka dilakukan penelitian dengan merancang aplikasi sistem pakar yang bertujuan
untuk dapat mengidentifikasi faktor penyebab kegagalan hasil produksi busa serta untuk mengurangi resiko kegagalan hasil
produksi busa. Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini didapatkan dari PT Bungo Permai Lestari. Data tersebut
kemudian diolah dengan menggunakan metode Dempster Shafer dan metode Certainty Factor. Hasil dari penelitian ini yaitu
memberikan keluaran berupa nilai kepastian dari kegagalan hasil produksi busa, faktor penyebab kegagalan dari hasil
produksi busa, serta solusi dari kegagalan produksi busa yang didapatkan melalui konsultasi dengan menggunakan metode
Dempster Shafer maupun metode Certainty Factor dengan memilih gejala yang sesuai dengan hasil produksi busa. Maka
penelitian ini dapat membantu PT Bungo Permai Lestari untuk mengetahui faktor penyebab dan solusi ke.gagalan hasil
produksi busa serta dapat mengurangi resiko terjadinya kegagalan pada saat melakukan produksi busa.
Kata kunci: Faktor Kegagalan, Produksi Busa, Sistem Pakar, Dempster Shafer, Certainty Factor
© 2022 INFEB
1. Pendahuluan
Industri merupakan proses menghasilkan barang yang
memiliki nilai dan berharga. Sektor industri furniture
dapat memberikan kenyamanan kepada kita melalui
desain interior. Di pasar global, Indonesia termasuk
eksportir furniture terbesar di dunia, bersama China,
Italia, Vietnam, dan Malaysia. Industri furniture
memiliki peran penting bagi Indonesia sebagai sumber
devisa [1]. Dengan adanya sektor industri furniture,
akan memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga kita
seperti kasur busa, springbed, kursi, meja, lemari dan
furniture lainnya. Sektor industri ini berkembang
dengan pesat. Untuk itu, perusahaan harus bisa
bersaing dengan kompetitor. Perusahaan sebagai suatu
entitas ekonomi tentu memiliki tujuan jangka pendek
untuk memaksimalkan laba. Dan memiliki tujuan
jangka panjang untuk menjaga going concern [2].
Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang
memproduksi bahan baku menjadi barang jadi.
Barang-barang jadi hasil produksi selanjutnya akan
dijual ke masyarakat [3]. PT Bungo Permai Lestari
merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang
bergerak dalam sektor industri furniture yang berada di
Muara Bungo, Jambi. PT Bungo Permai Lestari
memproduksi produk furniture busa dan juga
springbed bigland dengan berbagai tipe produk. Dalam