77 Jurnal Littri 15(2), Juni 2009. Hlm. 77 – 83 ISSN 0853-8212 KETAHANAN BEBERAPA LADA HASIL PERSILANGAN TERHADAP Phytophthora capsici ASAL LADA DONO WAHYUNO 1) , DYAH MANOHARA 1) dan RUDI T. SETIYONO 2) Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik 1) Jl. Tentara Pelajar No. 1, Bogor Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri 2) Jl. Raya Pakuwon Km 2, Parungkuda, Sukabumi 43357 (Terima tgl. 26/11/2008 – Terbit tgl. 2/4/2009) ABSTRAK Busuk pangkal batang (BPB) lada yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora capsici merupakan masalah utama pada budidaya lada di Indonesia. Penyakit ini telah ditemukan di semua areal produksi lada di Indonesia. Sampai saat ini, saran pengendalian yang dianjurkan adalah pengendalian secara terpadu untuk mengurangi kerugian ekonomi akibat penyakit ini. Akhir-akhir ini usaha untuk mendapatkan jenis lada yang tahan dilakukan melalui persilangan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi ketahanan F1 yang diperoleh dari persilangan beberapa tetua. Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, dari Januari sampai Desember 2005. Dari 400 aksesi hasil persilangan yang ada, dipilih 15 aksesi yang menunjukkan hasil yang menjanjikan pada uji pendahuluan. Tiga isolat Phytophthora yang menunjukkan virulensi yang berbeda digunakan sebagai isolat uji. Di laboratorium, helaian daun ke-3 dan 4 diambil dari tiap aksesi dan diletakkan dalam kotak yang telah diberi tissue basah untuk menjaga kelembapannya. Inokulasi secara buatan dilakukan dengan meletakkan potongan koloni masing-masing isolat Phytophthora pada permukaan bawah daun. Luas nekrosa yang terbentuk pada masing- masing aksesi diukur dengan leaf area meter setelah diinkubasi selama 72 jam. Percobaan di rumah kaca dilakukan dengan cara menyiramkan suspensi zoospora sebanyak 50 ml pada bibit lada dari masing-masing aksesi yang telah berumur 4 bulan. Jumlah tanaman yang mati dihitung setelah diinkubasi selama 1 bulan. Data hasil pengukuran luas serangan dianalisis dengan rancangan faktorial dengan dua faktor untuk dua kegiatan di atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi yang nyata antara aksesi dengan isolat Phytophthora yang digunakan, baik pengujian in vitro maupun rumah kaca. Sembilan aksesi menunjukkan kerusakan kurang dari 20% saat di laboratorium maupun di rumah kaca, dan aksesi 27-1, 36-31, dan 4-5L menunjukkan kerusakan kurang dari 10%. Persilangan lebih lanjut perlu dilakukan pada aksesi-aksesi tersebut untuk mendapatkan keturunan yang mempunyai ketahanan lebih baik dan stabil. Kata kunci : Piper nigrum L., Phytophthora, ketahanan, persilangan ABSTRACT Resistance of Black Pepper Accessions to Phytophthora capsici Foot rot disease of black pepper caused by Phytophthora capsici is main constraint in black pepper cultivation in Indonesia. The disease spread widely over all pepper producing areas in Indonesia. Integrated pest managements are suggested to reduce the economic loss due to the disease. Recently, breeding program has been developed in Indonesia through hybridization to find out promising accessions resistant to foot rot disease. The objective of the present study was to evaluate the resistance of F1 progenies obtained from polination of various parents to foot rot disease. Among 400 accessions of black pepper obtained from breeding program, 15 accessions were selected based on previous evaluation. Three Phytophthora isolates were used as tester in the study. The research was carried out in laboratory and glass house of Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute, from January to December 2005. In vitro screening was carried out by inoculating detached third and fourth leaves of each accession. The leaves were set in boxes abaxial surface facing up, while wet tissue papers were used to retain air humidity in the box. The lower leaf surface of each pepper accession was inoculated with a piece of Phytophthora colony then incubated in room temperature. The width of necrotic areas was measured with leaf area meter after the leaves were incubated for 72 hours. Each treatment was replicated 5 times. In green house experiment, 4 month seedlings of each accession were inoculated with 50 ml of zoospore suspension (10 5 zoospore/ml), replicated 3 times, and each replication consisted of 5 seedlings. The number of inoculated seedlings was counted after one month of incubation. Both experiments were arranged using factorial design with two factors: pepper accession and Phytophthora isolate. There was no significant interaction between black pepper accession and the Phytophthora isolates, neither in vitro nor green house. Nine accessions showed disease severity less than 20%, and accession number 27-1, 36-31, and 4-5L showed disease severity below 10% in both experiments. To obtain better progeny resistant to stem rot disease and more stable, it is suggested to continue this pollination program by using those promising accessions. Key words: Piper nigrum L., Phytophthora, resistance, pollination PENDAHULUAN Tanaman lada (Piper nigrum L.) merupakan tanam- an rempah yang sebagian besar diusahakan di perkebunan rakyat. Produktivitas lada nasional hanya 800 kg/ha atau hanya 50% dari kemampuan genetiknya. Salah satu kendala utama dalam budidaya lada adalah penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici Leonian. Di Indonesia, penyakit BPB menyebabkan kerusakan pertanaman lada 10 sampai 15% per tahun (KASIM, 1990). Phytophthora capsici merupakan jamur tular tanah, sulit terdeteksi keberadaannya dan mudah tersebar melalui tanah yang terkontaminasi, terbawa aliran air atau bagian tanaman yang sakit. Gejala yang nampak di permukaan tanah berupa tanaman layu, sebagai indikasi serangan yang telah lanjut yang terjadi di dalam tanah (MANOHARA et al., 2005). Pengendalian penyakit BPB akan semakin sulit apabila P. capsici telah berada di dalam jaringan tanaman,