JPLB, 2018, 2(2):101-111 ISSN 2598-0017 | E-ISSN 2598-0025 Tersedia di http://www.bkpsl.org/ojswp/index.php/jplb JPLB, 2(2):101-111, 2018 Tersedia di http://www.bkpsl.org/ojswp/index.php/jplb Evaluasi sistem sanitasi di rumah susun Kota Palangka Raya H. P. Jaya 1* , S. Swastila 2 , Y. Ludang 3 1 Program Studi Doktoral Ilmu Lingkungan, Universitas Palangka Raya, Palangka Raya, Indonesia 2 Program Studi Farmasi, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia 3 Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya, Palangka Raya, Indonesia Abstrak. Kota Palangka Raya memiliki luas wilayah 2.678,51 km², jumlah penduduk 229.599 jiwa dan kepadatan penduduk rata-rata 85,72 jiwa/km². Kota ini mengalami kemajuan cukup pesat sehingga berdampak terhadap semakin mahalnya harga tanah di daerah perkotaan. Salah satu kebijakan pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan membangun rumah susun yang terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah. Aspek kenyamanan, sanitasi dan keamanan bagi penghuni rumah susun merupakan faktor utama yang menjadi perhatian. Pemerintah Kota Palangka Raya membangun rumah susun pertama tahun 2005 di Jalan Sesep Madu RT 02/RW 09 Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya dan mulai dihuni awal tahun 2010. Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem sanitasi di rumah susun Kota Palangka Raya. Metode yang digunakan dengan cara observasi dan wawancara langsung terhadap pengelola dan beberapa penghuni rumah susun. Hasil observasi menunjukkan kondisi bangunan rumah susun kurang terawat, terkesan kumuh, kondisi hunian belum berfungsi secara optimal (pada lantai 5 terdapat 24 kamar tidak dihuni karena penerangan listrik diputus oleh Perusahaan Listrik Negara akibat menunggak), sistem sanitasi seperti air bersih tersedia tetapi air limbah, drainase dan persampahan tidak dikelola dengan baik. Kata kunci: kota Palangka Raya, rumah susun, sanitasi Abstract. The municipal city of Palangka Raya (2,678.51 km²) is populated by 229,599 inhabitants with the average population density around 85.72 inhabitant/km². The city is progressing quite rapidly causing on the increasingly land prices in urban areas. Then the multi-level housing construction will be the right and proper government policy to overcome the problem in order to make affordable housing for lower middle class society. There are supporting factors to concern, those are comfortability, sanitation and security. The first multi-level housing was located on Sesep Madu Street RT 02/RW 09, Palangka Sub-district of Jekan Raya, Palangka Raya, constructed in 2005 and started being inhabited in the beginning of 2010. The objective of this article was to evaluate the sanitation system of the multi- level housing in Palangka Raya. Methods consisted of observation and direct interview to the management and inhabitans of the multi-level housing residence. The observation indicated that the housing condition was not well maintained and looked slum, occupancy management had not been functioned optimally where there were 24 rooms unoccupied on the 5th level since the electricity was shut off by the State Electricity Company (PLN) because of arrears, meanwhile the sanitation system such as clean water was well provided whereas waste and drainage system was in poor management. Keywords: Palangka Raya municipality, multi-level housing, sanitation 1. PENDAHULUAN Pertambahan jumlah penduduk akibat kelahiran dan perpindahan penduduk menimbulkan masalah tersendiri bagi pembangunan di perkotaan. Dampak langsung yang dihadapi oleh pemerintah kota adalah semakin sempitnya lahan yang tersedia bagi penduduk, akibatnya persaingan untuk mendapatkan tempat tinggal menjadi masalah tersendiri. Ketidakmampuan masyarakat yang berpenghasilan rendah untuk memiliki tempat tinggal menyebabkan adanya rumah yang sempit dan kumuh di perkotaan dan berimplikasi pada permasalahan sosial. Ehlers and Steel (1979) menyatakan bahwa jika dilihat dari segi kenyamanan dan kesehatan, tempat tinggal tersebut * Korespondensi Penulis Email : herry_jaya@pasca.upr.ac.id