Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah Volume 3 Nomor 1 Halaman 242-248 April 2018 p-ISSN 2623-1611 e-ISSN 2623-1980 © Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat 242 PENGOLAHAN AIR GAMBUT MENGGUNAKAN SISTEM KONTINYU DAN BATCH (STUDI DI DESA SAWAHAN, BARITO KUALA) The Treatment of Peat Water Using Continuous and Batch System (Study in Sawahan Village, Barito Kuala) Sulaiman Hamzani *, Munawar Raharja, Zulfikar Ali As Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Banjarmasin, Jalan Mistar Cokrokusumo No. 1A Kota Banjarbaru 70714, Kal-Sel, Indonesia. *Surel: shamzenviro@gmail.com Abstract Peat water is a surface water of peat soil with a brownish-red feature, containing organic substances, iron, has a high acidity and low hardness.The peat water in Desa Sawahan, Barito Kuala is still used by local people to wash clothes and household utensils, including cutlery, and bathing. Some people even consume peat water after being processed simply.The quality of peat water in this village is classified extreme, especially iron (5.4 mg/L) and pH (2.71), so it is dangerous to consume. Puskesmas Bantuil reported that the case of diarrhea is still high and in the last two years has increased from 195 cases to 265 cases.This study aimed to treat peat water into clean water by improving the parameters of pH, color, and iron.This research was an experimental research which tested the designed equipment to treat peat water with continuous and batch system.The results showed that the peat water treatment using continuous system with water discharge = 0.5 L/sec, dose of lime = 35 mg/L, alum = 10 mg/L, and total of contact time = 21 min 10 sec, was able to improve the pH of water from 3,16 to 7.59; color from 59 PtCo to 27,7 PtCo; and iron from 3.35 mg/L to 1.82 mg/L.Peat water treatment using a batch system with dose of lime = 50 mg/L, and total of contact time = 32 minutes, was able to improve the pH of water from 2.71 to 7.00 and iron from 5.4 mg/L to 0.1 mg/L. So, the batch system proved better for treating peat water in Desa Sawahan.Before it was used, peat water was collected in a container and then added by lime with a dose of 50 mg/L and left at least 30 minutes.As an illustration, in a drum with 200 liters volume, required 10 grams of lime (one tablespoon).Further research is needed to ensure that peat water from this batch sistem treatment can be consumed. Other chemical parameters considered are Mn, sulfate, BOD, and dissolved metals. Keywords: peat water, water treatment, continuous system, batch system 1. PENDAHULUAN Klasifikasi zona wilayah rawa menurut Subagyo (2002) terbagi tiga zona yaitu zona I wilayah rawa pasang surut air asin/payau, zona II wilayah rawa pasang surut air tawar, dan zona III wilayah rawa lebak atau rawa non pasang surut. Desa Sawahan Kecamatan Cerbon termasuk wilayah zona II, yakni wilayah bertopografi datar berada diantara tanggul sungai dan cekungan di bagian tengah. Ciri yang unik dari wilayah zona II adalah adanya senyawa besi-sulfida (FeS 2 ) yang disebut pirit. Kandungan pirit di tanah rawa pasang surut umumnya rendah yakni sekitar 0,5%. Walaupun kadarnya rendah, ternyata bisa menjadi masalah utama apabila tanah rawa dibuka untuk pertanian. Masalahnya dimulai pada saat rawa direklamasi, yaitu dengan penggalian saluran-saluran drainase besar seperti saluran primer, sekunder, dan tersier dengan tujuan untuk mengeringkan wilayah tanah rawa yang semula basah menjadi tanah yang relatif lebih kering yang siap digunakan sebagai lahan pertanian. Akibat adanya saluran drainase tersebut, permukaan air tanah menjadi turun dan tanah bagian atas menjadi kering dan terbuka. Akibat adanya oksigen di udara, maka tanah bagian atas mengalami oksidasi, sementara tanah bagian bawah masih tetap berada di lingkungan air tanah, yaitu tetap dalam kondisi tereduksi. Pirit yang terbentuk dalam suasana reduksi bersifat stabil sesuai dengan suasana lingkungan pembentuknya. Akibat penurunan air tanah, pirit yang berada di tanah bagian atas ikut terbuka (exposed) di lingkungan yang aerob dan mengalami oksidasi menghasilkan asam sulfat dan senyawa besi valensi 3. Hasil akhirnya merupakan tanah bereaksi asam ekstrim (pH < 3,5) dan banyak mengandung ion-ion sulfat dan senyawa besi valensi 2, dan aluminium (Al 3+ ). Sebaliknya tanah yang mengandung pirit belum teroksidasi, mempunyai reaksi tanah agak asam (pH 4,6-5,5) disebut tanah sulfat asam potensial. Kondisi ini akan menjadi