Jurnal Hutan Tropis Volume 10 No. 1 Maret 2022 ISSN 2337-7771 (Cetak) ISSN 2337-7992 (Daring) 57 ANALISIS PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI KALIMANTAN SELATAN BERDASARKAN PENATAAN RUANG Analysis of South Kalimantan Industrial Area Development Based on Spatial Planning Ahmad Jauhari 1,* , Wiwin Tyas Istikowati 1,3 , dan Isna Syauqiah 2,3 1 Forestry Faculty, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru 70714, Indonesia 2 Chemical Engineering Department, Engineering Faculty, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru 70714, Indonesia 3 Wetland-Based Materials Research Center, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru 70714, Indonesia ABSTRACT. The choice of industrial location and the allocation of space used for the industry are important for environmentally sound development. Many technical parameters are involved but also non-technical such as economic, social, and sometimes political environments. Recently, industrial locations tend to be made closer to ports or carry out clustering based on existing industries. This study aims to provide input for the development of industrial areas or the allocation of industrial areas on a macro scale. The variable used are slope class, main and branch road, conservation area, potential area for agriculture, urban and rural settlement, main-river, and land movement potential. The analysis used is Spatial-based Multi-Criteria Decision Making (MCDM) with weighting. Base on the research, the area that suitable for industrial location in South Kalimantan is 230.557 ha. An area of 218.749 ha is located in the forest and plantation area, only 11.422 ha can be used as an industrial area. Keywords: Multi-Criteria Decision Making (MCDM; Cluster Industry; Regional Spatial Planning; GIS ABSTRAK. Pemilihan lokasi industri dan alokasi ruang yang digunakan untuk industri penting untuk pembangunan yang berwawasan lingkungan. Banyak parameter teknis yang terlibat tetapi juga non-teknis seperti lingkungan ekonomi, sosial, dan kadang-kadang politik. Saat ini lokasi industri cenderung dibuat lebih dekat dengan pelabuhan atau melakukan klasterisasi berdasarkan industri yang ada. Kajian ini bertujuan untuk memberikan masukan bagi pengembangan kawasan industri atau peruntukan kawasan industri dalam skala makro. Variabel yang digunakan adalah kelas kemiringan lereng, jalan utama dan cabang, kawasan konservasi, potensi kawasan pertanian, permukiman perkotaan dan perdesaan, sungai induk, dan potensi pergerakan tanah. Analisis yang digunakan adalah Spatial Based Multi-Criteria Decision Making (MCDM) dengan pembobotan. Berdasarkan penelitian, luasan yang cocok untuk lokasi industri di Kalimantan Selatan adalah 230.557 ha. Areal seluas 218,749 ha yang berada di kawasan hutan dan perkebunan, hanya 11,422 ha yang bisa dijadikan kawasan industri. Kata Kunci: Pengambilan Keputusan Multi-Kriteria (MCDM); Industri Cluster; Perencanaan Tata Ruang Wilayah; GIS Penulis untuk korespondensi, surel: zihrin646@gmail.com PENDAHULUAN Industri perkayuan di Kalimantan Selatan merupakan salah satu industri terbesar di Indonesia pada tahun 1980-2000, dengan produksi tertinggi mencapai 1,9 juta m3 pada tahun 1998 (Jauhari et al., 2020). Industri yang berada di sepanjang hilir Sungai Barito, Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian No. 35/M-IND/PER/3/2010 (Kementrian Perindustrian Republik Indonesia, 2010), lokasi industri ini sudah tidak layak lagi karena berada di sempadan sungai. , lahan pertanian, iklan dekat dengan pemukiman masyarakat. Selain itu, pelaksanaan program Sustainable Development Goals (SDG) sesuai Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2017), prospek kawasan industri harus dipertimbangkan kembali. Program SDG menekankan pangan dan air bersih sebagai prioritas utama. Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan melalui Peraturan Daerah Provinsi (RTRWP)