JURNAL TEKNIK ITS Vol. 8, No. 2, (2019) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) E107 AbstrakStudi kelayakan pembangunan jalan alternatif Sukorejo-Bumiaji dimaksudkan untuk mendapat nilai manfaat secara ekonomi. Disamping nilai ekonomi yang akan diperoleh, kemacetan di Ruas Sukorejo Pasuruan akan terurai. Dalam studi ini dilakukan pembahasan mengenai analisis kelayakan sebelum jalan ini dibangun dengan menganalisis lalu lintas yang akan melewati jalan eksisting serta lalu lintas jalan rencana dengan cara melakukan forecasting untuk memperkirakan jumlah kendaraan pada tahun rencana mendatang menggunakan data pertumbuhan penduduk, PDRB, dan PDRB per kapita. Analisis trip assignment juga dilakukan untuk mengetahui prosentase jumlah kendaraan yang melewati jalan eksisting dan jalan rencana. Analisis kelayakan ditinjau dari segi lalu lintas dan dari segi ekonomi. Kelayakan lalu lintas dilakukan dengan membandingkan derajat kejenuhan (Dj) jalan eksisting dan jalan rencana alternatif sedangkan kelayakan ekonomi menganalisis dari nilai saving biaya operasional kendaraan (BOK) dan nilai waktu (saving time) serta nilai BCR (Benefit Cost Ratio) dan NPV (Net Prsent Value). Hasil studi ini diperoleh nilai derajat kejenuhan (Dj) pada kondisi eksisting sebelum pembangunan jalan baru sebesar 0,80 (Ruas Sukorejo Sby-Mlg), 0,60 (ruas Sukorejo Mlg-Sby) dan 0,82 (Ruas Batu), setelah pembangunan jalan baru yaitu 0,42 (Ruas Sukorejo Sby-Mlg), 0,32 (Ruas Sukorejo Mlg-Sby) dan 0,03 (Ruas Batu). Nilai derajat kejenuhan untuk Jalan Alternatif Sukorejo (Pasuruan)-Bumiaji (Batu) pada awal tahun rencana sebesar 0,35 dan pada akhir tahun rencana (2052) sebesar 0,37. Sedangkan untuk analisis ekonomi BCR = 2,06 > 1 dan NPV = Rp. 3.762.354.497.207 > 0, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembangunan Jalan Alternatif Sukorejo (Pasuruan)-Bumiaji (Batu) ini bisa dikatakan layak dalam segi lalu lintas maupun ekonomi. Kata KunciAnalisis Ekonomi, Analisis Kelayakan, Jalan Alternatif Sukorejo-Bumiaji. I. PENDAHULUAN ALAN merupakan prasarana transportasi darat yang memiliki peranan penting bagi peningkatan perekonomian. Karena jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara[1]. Hal ini tercantum dalam Undang- undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 pada pasal lima poin kedua. Mengacu pada hal ini, maka perkembangan pembangunan jalan di berbagai daerah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia sangat dipacu oleh pemerintah, termasuk di Daerah Jawa Timur. Hal ini sebagai bentuk upaya mengembangkan potensi daerah, terutama daerah dengan pertumbuhan penduduk yang pesat. Kemacetan adalah kondisi dimana arus lalu lintas yang lewat pada ruas jalan yang ditinjau melebihi kapasitas rencana jalan tersebut yang mengakibatkan kecepatan bebas ruas jalan tersebut mendekati atau melebihi 0 km/jam sehingga menyebabkan terjadinya antrian. Saat terjadinya kemacetan, nilai derajat kejenuhan pada ruas jalan akan ditinjau dimana kemacetan akan terjadi bila nilai derajat kejenuhan mencapai lebih dari 0,85[2]. Jalan Lawang merupakan jalan yang menghubungkan dari ruas Jalan Surabaya-Malang-Batu. Jalan Lawang ini memiliki tingkat kepadatan arus lalu lintas yang tinggi dalam beberapa tahun akhir ini. Titik kemacetan yang paling parah adalah di Pasar Lawang, Pasar Singosari dan Pertigaan Karanglo yang merupakan peralihan dari jalan nasional menuju jalan provinsi. Kemacetan lalu lintas yang terjadi di Jalan Lawang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain meningkatnya volume kendaraan sehingga melebihi kapasitas jalan yang ada serta berbaurnya fungsi jalan (Arteri, Kolektor, Lokal) sehingga jalan tidak memiliki fungsi dengan semestinya. Hal ini mengakibatkan terjadinya pembengkakan biaya yang harus dikeluarkan oleh pengguna jalan. Oleh karena itu diperlukan pembangunan jalan baru yang bisa memecahkan masalah ini, misalnya pembangunan Jalan Alternatif Sukorejo (Pasuruan)-Bumiaji (Batu) yang dapat meningkatkan kinerja Jalan Arteri Surabaya-Malang-Batu ini pada level yang baik. Jalan Alternatif Sukorejo-Bumiaji ini akan difungsikan sebagai jalan arteri primer baru yang tidak akan melewati ruas Jalan Lawang. Namun sebelum pada tahap pembangunan jalan baru diperlukan adanya beberapa tahapan studi seperti studi kelayakan ekonomi. Tujuannya agar , analisis aspek ekonomi ini nantinya dapat menjawab apakah alokasi dana yang diperlukan untuk usulan alternatif rute transportasi terpilih cukup efisien dan efektif penggunaannya. Komponen untuk menganalisis kelayakan aspek ekonomi adalah biaya operasional kendaraan (BOK)[3], dimana komponen ini merupakan biaya kendaraan untuk beroperasi dari satu titik ke titik lainnya. Komponen lainnya adalah nilai waktu perjalanan (travel time) yaitu waktu yang dibutuhkan suatu kendaraan dari titik satu ke titik lainnya. Kelayakan investasi pada proyek prasarana jalan didasarkan pada kelayakan ekonomi berupa analisis keuntungan dan biaya (benefit cost ratio), nilai sekarang (net present value). Benefit cost ratio (BCR) yaitu membandingkan total manfaat yang diperoleh terhadap total biaya yang dikeluarkan sedangkan net present value (NPV) yaitu parameter kelayakan yang diperoleh dari selisih semua pemasukan dengan semua biaya pengeluaran investasi setelah dikonversi dengan nilai uang yang sama [4]. Studi Kelayakan Pembangunan Jalan Alternatif Sukorejo-Bumiaji Jawa Timur Ditinjau dari Segi Lalu Lintas dan Ekonomi Dea Vita Aji Fauzi Putri, dan Cahya Buana Departemen Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember e-mail: cahya_b@ce.its.ac.id J