1 ANTROPOLOGI INDONESIA 69, 2002 1 Tulisan ini adalah penyempurnaan dari makalah yang dipresentasikan dalam panel ‘Pengetahuan Lokal dan Global: Implikasinya pada Pengelolaan Sumber daya Alam’ pada Simposium Internasional ke-2: ‘Globalisasi dan Kebudayaan Lokal: Suatu Dialektika Menuju In- donesia Baru’, 18–21 Juli 2001, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Data tentang petani di Lampung Tengah diambil dari penelitian tentang Connectionism: Alternatif dalam Memahami Dinamika Pengetahuan Lokal dalam Globalisasi 1 Ezra M. Choesin (Universitas Indonesia) Abstract The fate of indigenous knowledge systems has become the concern of many in an era of globalization. These knowledge systems are said to be under the threat of extinction, to be replaced by ‘Western’, ‘scientific’, or ‘global’ knowledge. The author contends that these concerns are more rooted in an overly essentialist attitude that pits the ‘local’ against the ‘global’. He argues that the dynamics of knowledge systems must be better understood using a model of knowledge best suited for this purpose. He further argues that the most promising model is the one based on connectionism and developed by cognitive anthropologists. Draw- ing examples from the experience of farmers in Lampung, he shows how individuals combine stimuli from various sources to form schemas, thus showing the irrelevance of making hard distinctions between the ‘local’ and the ’global’. Pendahuluan Masalah yang banyak mendapat perhatian dalam dua dasawarsa terakhir ini adalah nasib berbagai kelompok masyarakat dan suku- bangsa dalam menghadapi globalisasi. Hu- bungan-hubungan sosial telah meluas me- lampaui batas-batas geografis yang sempit. Jaringan-jaringan transportasi dan komunikasi telah memungkinkan perluasan ruang gerak manusia, maupun perluasan persebaran informasi dan pengetahuan, yang pada awalnya terpusat di daerah-daerah tertentu SLPHT di Lampung Tengah dalam rangka FAO Inter Country Program. Yunita T. Winarto bertindak sebagai peneliti utama, dibantu oleh penulis bersama asisten lapangan Fadli, A.S.H. Ningsih, dan S. Darmono. saja. Berbagai kelompok masyarakat kini dapat mengakses informasi dan pengetahuan dengan cukup mudah melalui media cetak maupun me- dia elektronik. Di sisi lain—dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan masyarakat—pemerintah maupun pihak-pihak lain secara aktif memperkenalkan pengetahuan ‘Barat’ atau ‘ilmiah’ kepada kelompok-kelompok masyarakat yang belum pernah mengenalnya. Hal ini telah melahirkan kekhawatiran bahwa pengetahuan baru tersebut akan menghapus dan menggantikan pengetahuan masyarakat lokal, yang selama ini telah menjadi acuan mereka dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.