Jurnal Imajinasi Vol XII no 1 Januari 2018 Jurnal Imajinasi http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/imajinasi MEMPERSOALKAN FIGUR-FIGUR DALAM KARYA GUNAWAN BAGEA Indrawati, Lilik 1 1 Dosen Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Malang Abstrak Salah satu pendekatan dalam kritik seni adalah pendekatan kritik formalistik, yang pusat kajian kritiknya terletak pada karya seni. Demikian juga dalam melakukan kritik pada karya lukis Gunawan Bagea, seorang pelukis Taman Sari di Bandung. Walaupun dalam pendekatan kritik formalistik sama sekali tidak melibatkan masalah senimannya, karena itulah pendekatan kritik ini dianggap paling adil; namun pada tahap evaluasi dalam tahapan kritik formalistik ini harus dilakukan perbandingan dengan karya lain yang sejenis, atau menggunakan model historis. Kemudian aplikasi dari tahap evaluasi dalam kritik formalistik pada karya Gunawan Bagea, dibandingkan dengan karya-karyanya pada periode sebelumnya, yang gaya pengungkapannya nyaris mirip dengan karya-karya Hendra Gunawan sang Maestro Indonesia, yang ternyata adalah kakeknya. Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima Januari 2018 Disetujui Februari 2018 Dipublikasikan Maret 2018 Keywords: Kritik Formalistik; Deskripsi; Analisa Formal; Interpretasi; Evaluasi Corresponding author : Address: Jurusan Senirupa Universitas Negeri Malang Email : - © 2018 Semarang State University. All rights reserved UNNES JOURNALS PENDAHULUAN Menghayati sebuah karya seni sering kali diawali dengan kondisi ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’. Kondisi itu hampir bisa dikatakan tidak logis, tetapi ada semacam misteri. Ketika dihadapkan pada sejumlah karya seni tertentu; pertanyaan yang muncul adalah: “mengapa perhatian kita tertarik pada sebuah atau sekelompok karya tertentu?”. Seringkali pula ada jawaban-jawaban logis yang muncul sebagai isyarat pragmatis, namun ketika pilihan kita berbeda dengan pilihan orang lain, di sinilah pengalaman estetik, emosi, visi, dan misi seorang pengamat dalam upayanya menghayati sebuah karya seni mulai berperanan. Seperti dinyatakan oleh Tabrani (2000: 59) bahwa: Apresiasi bukan semata memulai secara ‘objektif’ berdasar norma yang beku. Apresiasi bukan komputatif, bukan sekedar analisis dan sintesis atau dialektik. Apresiasi yang sejati, yang wajar, yang alamiah, hanya mungkin dalam penghayatan. Artinya, harus mencapai integrasi antara stimuli-luar (karya yang diapresiasi) dan stimuli dalam, dan ini berarti tercetusnya suatu kreasi yang kali ini berupa apresiasi, baik yang hanya mencapai kejutan atau yang mampu sampai menimbulkan rasa terharu. Dengan demikian apresiasi bukanlah suatu proses yang sederhana, karena apresiasi itu sendiri merupakan proses kreatif. Seorang penghayat perlu belajar dan mencari pengalaman. Proses apresiasi seni juga disebut dengan proses penghayatan atau kontemplasi estetik, yang juga merupakan suatu kreasi estetik, yakni mengolah impresi menjadi ekspresi; suatu perolehan diangkat menjadi curahan perasaan. Bahkan dalam konteks apresiasi lanjut ke arah kritik seni,