83 JURNAL RISET INTERVENSI PENDIDIKAN http://journal-litbang-rekarta.co.id/index.php/jrip/ E-ISSN. 2655-2191| P-ISSN. 2655-5026 Volume # No. #Bulan Tahun Dampak Pendidikan Gizi pada Siswa Sekolah Dasar terhadap Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur Baiq Fitria Rahmiati 1 Program Studi Gizi, Universitas Bumigora, Jalan Ismail Marzuki No 22, Mataram, Indonesia Baiqfitriarahmiati@gmail.com Keywords: Intervensi gizi, konsumsi buah dan sayur, siswa sekolah. Abstract: Ukuran Konsumsi sayur dan buah diperlukan tubuh sebagai sumber vitamin, mineral dan serat dalammencapai pola makan sehat dengan gizi seimbang untuk kesehatan yang optimal. Di Indonesia sebanyak 97,1% penduduk kurang mengonsumsi sayurdan buah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan gizipada siswa terhadap konsumsi buah dan sayuran. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen dengan intervensi pendidikan gizi untuk satu kelompok subjek dan pemberian makan buah dan sayuran tambahan kepada siswa di Lombok, Nusa Tenggara Barat dari Januari hingga April 2018. Jumlah subjek 30 siswa kelas 5 SDN 43 Mataram. Analisis data dengan uji beda pasangan seperti Anova + post hoc Bonferroni, uji Friedman + post hoc Wilcoxon atau uji Cochran + post hoc McNemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam nilai dan tingkat pengetahuan dari siswa (p <0,05), nilai sikap dari siswa (p <0,05). Asupan serat, jumlah konsumsi buah dan sayuran meningkat secara signifikan (p <0,05). Dengan demikian intervensi pendidikan gizi dapat meningkatkan jumlah konsumsi buah dan sayuran pada siswa sekolah dasar. 1 PENDAHULUAN Anak usia sekolah yang masih dalam tahap tumbuh kembang berisiko terhadap berbagai masalah kesehatan. Salah satu risiko masalah kesehatan yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah adalah masalah gizi (Saifah 2011). Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya masalah gizi adalah kesalahan dalam perilaku makan. National Health and Medical Research Council Australia (NHMRC) 2013 mendukung pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa setelah mulai masuk lingkungan sekolah, anak mulai membuat pilihan makanan mereka sendiri. Dengan demikian anak akan rentan mengalami kesalahan perilaku makan pada anak-anak, yaitu salah satunya kurangnya konsumsi buah dan sayur. Hasil penelitian Lock et al. (2005) yang dilakukan di beberapa negara bagian Afrika, Amerika, dan Asia menyebutkan bahwa anak usia 5-14 tahun memiliki kecenderungan 20% mengonsumsi buah dan sayur lebih rendah bila dibandingkan dengan orang dewasa 30-59 tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan bahwa proporsi penduduk berumur 10 tahun ke atas yang kurang mengonsumsi buah dan sayur relatif masih tinggi dari tahun 2007 (93.5%) ke tahun 2013 (93.6%) (Kemenkes 2013). Hasil penelitian Fibrihirzani (2012) menunjukkan bahwa hanya 18.9% dari 127 sampel anak kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) yang mengonsumsi buah dan sayur dengan baik. Perilaku kurangnya konsumsi buah dan sayur pada anak bila terus berlangsung maka akan mengakibatkan beberapa masalah gizi, misalnya kelebihan gizi dan berisiko mengalami penyakit tidak menular (PTM). Rendahnya konsumsi buah dan sayur dipengaruhi berbagai faktor, seperti kurang pengetahuan terkait konsumsi buah dan sayur, ketersediaan buah dan sayur baik di rumah maupun di sekolah yang kurang, tidak adanya dukungan dari sekolah untuk konsumsi buah dan sayur, dan pola asuh makan anak selama di