Prosiding Seminar Teknologi dan Agribisnis Peternakan VI: Pengembangan Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Menuju Swasembada Pangan Hewani ASUH, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedriman, 7 Juli 2018 58 PROTOKOL PENYUSUNAN PEMODELAN KUALITATIF PADA USAHA PETERNAKAN SAPI POTONG Novie Andri Setianto*, Nunung Noor Hidayat, dan Pambudi Yuwono Invited Speaker Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto *Corresponding author email: novie.setianto@unsoed.ac.id Abstrak. Pemodelan merupakan salah satu pendekatan yang dapat diambil untuk mempelajari kondisi usaha peternakan sapi potong. Salah satu pemodelan yang sederhana namun cukup mampu memberikan gambaran tentang kompleksitas yang dihadapi pada sebuah sistem usaha peternakan adalah pemodelan kualitatif. Salah satu teknik pemodelan kualitatif yang banyak diaplikasikan adalah pemodelan kualitatif menggunakan Causal Loop Diagram (CLD). Namun demikian, penyusunan model harus melibatkan partisipasi stakeholders agar hasil yang diperoleh sesuai dengan kondisi nyata usaha peternakan yang dimodelkan. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran tentang protokol yang dapat diaplikasikan dalam melakukan pemodelan kualitatif dengan melibatkan partisipasi stakeholders. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Banjarnegara dengan melibatkan 2 (dua) kelompok peternak sapi potong. Langkah-langkah metodologis dan instrumen yang digunakan sebagai protokol standar untuk menyusun pemodelan kualitatif usaha peternakan sapi potong dijelaskan pada artikel ini. PENDAHULUAN Dalam analisis statistik, terdapat dua mainstream pendekatan yang biasa dilakukan yakni pendekatan kuantitatif dan kualitatif (Duffy & Chenail, 2008). Pendekatan kuantitatif banyak menggunakan variable numerik, sedangkan kualitatif menggunakan variable nominal (McMurray et al., 2004; Patton, 2002). Dalam penelitian sosial ekonomi, pendekatan kuantitatif dinilai terlalu rigid dalam menangkap dan mengukur fenomena sosial ekonomi yang diamati. Metode yang lazim digunakan adalah menggunakan skala untuk mengkuantitatifkan data-data nominal, sedangkan pendekatan kualitatif lebih ditekankan pada eksplorasi mendalam terhadap fenomena tersebut (Berg, 2001; Creswell, 2009). Selain itu, pendekatan kuantitatif dianggap lebih obyektif dibandingkan pendekatan kualitatif yang lebih subyektif (Patton 2002; Duffy & Chenail 2008). Kemampuan pendekatan kuantitatif dalam menerjemahkan opini responden yang beragam menjadi sederet angka dan kategori numerik yang sederhana dan kemampuannya dalam memberikan generalisasi yang obyektif menjadikan pendekatan kuantitatif lebih banyak dipilih dalam berbagai analisis statistika (Black, 2002). Namun demikian, penyederhanaan tersebut membawa konsekuensi berkurangnya kemampuan untuk mengeksplorasi secara mendalam tentang fenomena yang harus diamati. Di sisi lain, meskipun dinilai cenderung kurang obyektif dan tidak mampu dijadikan pijakan untuk melakukan generalisasi, pendekatan kualitatif dinilai lebih mampu menggali berbagai fenomena sosial ekonomi secara mendalam dan menyeluruh (Patton 2002) sehingga banyak dipilih untuk penelitian eksploratif. Kedua pendekatan tersebut, masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan. Pemilihan metode pendekatan sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan tujuan dan cakupan penelitian yang dilakukan. Di bidang peternakan, tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana menggunakan kekuatan dan meminimalkan kelemahan dari pendekatan yang dipilih untuk dapat digunakan secara optimal untuk melakukan kajian.