Serapan Fosfor dan Pertumbuhan Kedelai (Glycine max ) pada Tanah Ultisol dengan Pemberian Asam Humat Wahyuningsih 1 , Elly Proklamasiningsih 1 , Murni Dwiati 1 1 Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman email: risna.wahyuningsih@gmail.com Abstract Ultisol is one type of acid soils which has a high solubility of Al, Fe, and Mn, and low contain of P and Mo. High Al and Fe solubility absorb phosphate so their soil phosphorus availability and uptake of P for the plants are low. One effort to increase of soil phosphorous availability is with the application of humic acid. Humic acid is a polyelectrolyte macromolecules which have functional groups such as -COOH, phenolic - OH, or alcoholic -OH so that humic acid has the ability to form complexes with metal ions. This research was conducted with the aim to: (1) know the effect of humic acid on P uptake and growth of soybean plants (2) select the best concentration of humic acid in improving P uptake and growth of soybean plants. The method used was experimental with Randomized Completely Block Design (RCBD). Grouping is based on the difference in light accept in the green house. Treatments were in the form of humic acid concentrations, with 5 different concentrations i.e. 0, 400, 800, 1200 and 1600 ppm. Varables were plant height, leaf area, fresh shoot plant weight, dry shoot plant weight, soil available P and P uptake by plant . Data were analyzed with analysis of Varians at a significant level at 95 % and 99 %, then were continued with Least Significant Difference (LSD) test. The results showed that there was a significant effect of humic acid on P uptake and growth of soybean in the Ultisol. 1200 ppm humic acid was the most excellent treatment in spurring P uptake and growth of soybean Ultisol. Keywords: Humic Acid, P uptake, Growth of Plants, soybean (Glycine max). Ultisols. Abstrak Ultisol merupakan tanah masam yang memiliki kelarutan Al, Fe, dan Mn tinggi, serta kandungan P dan Mo yang rendah. Kelarutan Al dan Fe yang tinggi menjerap fosfat, sehingga ketersediaan dan serapan P bagi tanaman menjadi rendah. Salah satu upaya untuk mengatasi ketidaktersediaan P pada Ultisol yaitu dengan penambahan asam humat (AH). Asam humat merupakan makromolekul polielektrolit yang memiliki gugus -COOH, -OH fenolat, maupun -OH alkoholat, sehingga asam humat berkemampuan untuk membentuk kompleks dengan Al dan Fe. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh asam humat terhadap serapan P dan pertumbuhan tanaman kedelai (2) menentukan konsentrasi asam humat yang paling baik dalam meningkatkan serapan P dan pertumbuhan tanaman kedelai. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Pengelompokan didasarkan atas perbedaan penerimaan cahaya matahari yang ada di rumah kaca. Perlakuan berupa 5 konsentrasi asam humat, yaitu 0, 400, 800, 1.200 dan 1.600 ppm. Variabel yang diukur meliputi tinggi tanaman, luas daun, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, kandungan P- tersedia tanah, dan serapan P tanaman. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam pada tingkat kepercayaan 95 % dan 99 %. Apabila analisis ragam berbeda nyata dan sangat berbeda nyata, maka dilanjutkan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) antar perlakuan dengan tingkat kepercayaan 95 % dan 99 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam humat berpengaruh terhadap serapan P dan pertum-buhan tanaman kedelai. Perlakuan 1200 ppm asam humat merupakan perlakuan yang paling baik dalam meningkatkan serapan P dan pertumbuhan tanaman kedelai Kata kunci: asam humat, serapan P, pertumbuhan tanaman, Kedelai, Ultisol, Pendahuluan Ultisol merupakan salah satu tanah yang memiliki luasan sekitar 21 % (40 juta Ha) dari luas total daratan Indonesia 192 juta Ha (Barchia, 2009). Tanah Ultisol dapat dicirikan dengan tanah yang berwarna kuning kecoklatan hingga merah. Tekstur tanah Ultisol bervariasi dan dipengaruhi oleh bahan induk tanahnya. Tanah Ultisol yang berasal dari granit umumnya mempunyai tekstur liat berpasir, sedangkan tanah Ultisol dari batu kapur, andesit, dan tufa cenderung memiliki tekstur liat (klei) (Prasetyo & Suriadikarta, 2006). Tanah Ultisol memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian. Namun, pemanfaatannya menghadapi berbagai Biosfera Vol 33, No 2 Mei 2016 : 66-70 DOI: 10.20884/1.mib.2016.33.2.345 66