JSLK 1 (1) 8 – 9
Jurnal Saintek Lahan Kering (2018)
International Standard of Serial Number 2622-1020
Emilia Juliyanti Bria/ JLSK 1 (1) 8 – 9 8
Analisis Struktur Anatomi Batang Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) dan Kontribusinya Terhadap
Sistematik Ordo Caryophyllales
Emilia Juliyanti Bria
Program Studi Biologi, Universitas Timor, Kefamenanu, TTU – NTT, Indonesia.
Article Info Abstrak
Article history:
Received 8 April 2018
Received in revised form 19 Juni 2018
Accepted 5 Juli 2018
Caryophyllales dikenal sebagai ordo yang memiliki pertumbuhan sekunder anomaly. Anatomi batang Anyelir (Dianthus caryophyllus
L.) dianalisis untuk mendapatkan data yang valid pada hubungan kekerabatan dengan anggota family yang lain. Struktur primer batangnya
terdiri dari epidermis yang tersusun dari selapis sel; korteks dan empulur tersusun dari sel-sel parenkim dan memiliki ruang antarsel; dan
jaringan pembuluh primer yang tersusun membentuk jari – jari terdiri atas beberapa trachea xilem, dimana xilem terletak di bagian dalam
dan floem di bagian luar. Selanjutnya, pada pertumbuhan sekunder, batangnya memiliki struktur yang normal dengan aktivitas kambium
yang tidak normal. Hal ini termasuk dalam ciri tumbuhan yang memiliki pertumbuhan sekunder anomali. Hasil penelitian ini dapat
dijadikan karakter pembatas untuk memperkuat hubungan kekerabatan antar takson khususnya pada kategori yang lebih tinggi. ©2018
dipublikasikan oleh JSLK.
Keywords: Anatomi, Batang, Anyelir,
Sistematika
1. Pendahuluan
Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu anggota bangsa
Caryophylalles dari suku Caryophyllaceae yang menempati peringkat teratas
perdagangan bunga potong di dunia. Anggota bangsa Caryophylalles, memiliki
kesamaan ciri-ciri morfologi yaitu umumnya berupa terna. Daun tunggal,
biasanya tanpa daun penumpu. Bunga banci atau tunggal, aktinomorf, dengan
tenda bunga yang rangkap atau tunggal, atau jelas dengan kelopak dan mahkota.
Benang sari dalam 1 lingkaran, berhadapan dengan tenda bunga atau dalam 2
lingkaran. Bakal buah tenggelam atau menumpang, kebanyakan beruang 1
dengan banyak sampai 1 bakal biji yang kampilotrop, yang hampir selalu
mempunyai 2 selaput biji, terletak pada tembuni yang sentral (Tjitrosoepomo,
1982; Singh dkk., 2013).
Selain memiliki kesamaran ciri morfologi, ditemukan juga kesamaan ciri
anatomi dari beberapa Famili. Dalam penelitian Dima (2010) diketahui bahwa
akar Amaranthus sp. (Famili Amaranthaceae) memiliki struktur anomali yang
sama dengan batangnya, dimana floem primer tetap menempati posisi semula
dan kambium pembuluh terletak di luar berkas pembuluh primer sehingga
dihasilkan jaringan konjungtif dengan sejumlah lingkaran berkas pembuluh
sekunder terbenam di dalamya. Selain itu, dalam penelitian Tododjahi (2010)
diketahui juga bahwa akar Bougainvillea spectabilis (Famili Nyctaginaceae) juga
mempunyai struktur sekunder menyimpang (anomali) yang sama dengan
batangnya yaitu tidak memiliki kambium pembuluh normal tetapi hanya
memiliki jaringan meristematis yang tersusun konsentris membentuk sejumlah
lingkaran pertumbuhan.
Kajian anatomi perbandingan merupakan salah satu bukti yang sangat
berperan penting dalam taksonomi. Kajian anatomi menyediakan bukti mengenai
hubungan antar kelompok yang lebih besar seperti suku dan juga membantu
membangun kedekatan nyata status taksonomi yang tidak pasti. Kombinasi
karakter lebih dapat diandalkan daripada hanya terbatas pada satu karakter.
Karakter anatomi baik organ vegetatif maupun organ generatif memiliki sifat
lebih tetap dan plastisitas minimal. Karakter ini sampai sekarang merupakan
karakter yang sukses dalam menyelesaikan permasalahan taksonomi takson –
takson khususnya kategori yang besar (Sharifnia & Albouyeh, 2002; Faria dkk.,
2012). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran struktur anatomi
batang anyelir dan untuk mengetahui susunan anatomis batang anyelir.
2. Metode
Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dengan metode deskriptif.
Dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan November tahun 2012 di
Laboratorium Bioteknologi Politani Negeri Kupang. Pengumpulan data berupa
gambar struktur anatomi hasil pengamatan mikroskop dan kemudian data
gambar dianalisis lalu dibandingkan dengan teori dari referensi yang ada.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Struktur primer batang anyelir
Struktur primer batang Anyelir dapat diketahui dengan melihat irisan
melintang batang muda Anyelir (Gambar 1). Pada penampang melintang batang,
dilihat secara terpisah tiga sistem jaringan pada daerah pertumbuhan primer yaitu
system jaringan dermal diwakili oleh epidermis; sistem jaringan dasar terdiri atas
korteks dan empulur; dan sistem jaringan pengangkut yang terdiri dari xilem dan
floem.
Sistem jaringan dermal pada batang Anyelir berupa epidermis yang
menyelubungi tubuh primer dan terletak di bagian terluar batang (Gambar 1.B).
Sel – sel epidermis tersusun atas satu lapis sel, rapat, tidak bercelah dan pada
dinding yang menghadap ke atmosfer, didapatkan penebalan yang mengandung
kutin. Epidermis batang Anyelir juga memiliki mulut daun atau stoma (jamak:
stomata) yang banyak. Berdasarkan tipe stomanya, stoma pada Anyelir memiliki
tipe diasitik dimana setiap stoma dikelilingi oleh dua sel tetangga yang
memotong stoma.
Gambar 1. Foto mikrograf irisan melintang batang anyelir : (A) struktur primer
perbesaran 40x ; (B) daerah epidermis perbesaran 400x ; (C) jaringan
pembuluh primer perbesaran 100x.
Daerah korteks ini tersusun atas sel-sel parenkim dan terdapat kloroplas. Di
antara sel-sel tersebut terdapat ruang antar sel. Berdasarkan ukuran selnya,
parenkim penyusun korteks pada batang Anyelir dibedakan atas dua bagian,
dimana bagian yang pertama berbatasan dengan epidermis, terdiri atas sel-sel
parenkim yang berukuran besar dan terdapat kloroplas yang memberi warna
hijau pada daerah ini, sedangkan bagian yang dekat dengan silinder pusat
memiliki ukuran yang lebih kecil . Selain itu, inti pusat jaringan dasar yaitu
empulur juga tersusun atas sel-sel parenkim yang berukuran besar dan juga
memiliki ruang antarsel (Gambar 1. A).
Sistem jaringan pembuluh primer merupakan hasil diferensiasi prokambium
dan terletak pada bagian dalam korteks. Jaringan pembuluh ini, tersusun atas
xilem dan floem yang dapat dilihat pada irisan melintang batang Anyelir
(Gambar 1.C). Struktur jaringan pembuluh pada batang Anyelir berbeda dengan
batang dikotil pada umumnya. Jaringan pembuluh pada batang Anyelir, tidak
membentuk berkas-berkas tetapi xilem yang terletak di bagian dalam sisa
prokambium, tersebar membentuk untaian seperti rantai ke arah empulur
sedangkan floem membentuk struktur lingkaran di sebelah luar prokambium.
Xilem yang terbentuk pertama kali adalah protoxilem dan unsur xilem yang
terbentuk kemudian adalah metaxilem yang menjadi dewasa secara sentrifugal,
yang disebut xilem endark. Walaupun kedua macam xilem ini tidak dapat
dibedakan dengan jelas dalam irisan melintang, namun diantara dua macam
jaringan ini terdapat perbedaan struktural dimana protoxilem berukuran kecil dan
metaxilem berukuran lebih besar. Sebagaimana pada xilem primer, dalam floem
primer terdapat protofloem dan metafloem. Protofloem berdiferensiasi lebih
dahulu daripada metafloem dan arah diferensiasinya secara sentripetal. Dari hasil
penelitian sulit membedakan protofloem dan metafloem sehingga floem primer
dianggap satu jaringan dan tidak ditentukan protofloem dan metafloemnya.
3.2. Struktur Sekunder Batang Anyelir
Struktur sekunder batang Anyelir, memiliki struktur yang unik (gambar
2.A). Pada tumbuhan yang mengalami pertumbuhan sekunder, periderm
merupakan jaringan pelindung tubuh sekunder menggantikan fungsi epidermis.
Namun hal ini tidak terjadi pada batang Anyelir. Pada irisan melintang batang
tua Anyelir, ditemukan jaringan pelindungnya masih berupa epidermis yang
tersusun atas selapis sel, dimana susunan sel – selnya rapat dan dinding sebelah
luarnya terdapat penebalan berupa kutin (Gambar 2.B).
Pada awal pertumbuhan sekunder batang Anyelir, terjadi proses sklerefikasi
dimana adanya perubahan jaringan parenkim menjadi sklerenkim yang dimulai