E-ISSN: 2721-6209 Jurnal Terapan Sains & Teknologi Vol. 2, No. 4, 2020 Fakultas Sains dan Teknologi – Universitas Kanjuruhan Malang 302 MODEL NUMBERED HEADS TOGETHER DENGAN PERMAINAN NURIKABE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR Oda Sulasry Adun 1 , Trija Fayeldi 2 , Yuniar Ika Putri Pranyata 3 Pendidikan Matematika. Universitas Kanuruhan Malang 1,2,3 Sulasryadun@gmail.com 1 , Trija_fayeldi@unikama.ac.id 2 , Yuniar.mat@unikama.ac.id 3 Abstrak. Pembelajaran matematika di kelas X IPA masih menggunakan metode konvensional. Metode konvensional yaitu pelajaran berpusat pada guru tanpa memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan secara maksimal, masih kurangnya penggunaan permainan yang lebih menarik untuk mendukung metode mengajar . Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif numbered heads together dengan permainan nurikabe yang meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X IPA SMA Taman Madya Malang. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X IPA yang berjumlah 16. Instrumen penelitian berupa perangkat pembelajaran, lembar kerja peserta didik, lembar observasi guru, lembar observasi peserta didik, catatan lapangan dan soal tes. Hasil belajar diperoleh dari tes akhir setiap siklus. Hasil pembelajaran dengan model Numbered Heads Together dengan permainan Nurikabe menunjukkan peningkatan dari setiap siklus. Pada siklus I, persentase ketuntasan peserta didik sebesar 80%. Pada siklus II, persentase ketuntasan peserta didik sebesar 86,67%. Dengan demikian, peningkatan hasil belajar sebesar 6,67%. Hasil observasi aktifitas guru pada siklus I sebesar 89,72 % dan siklus II sebesar 97,08%. Sedangkan aktifitas peserta didik siklus sebesar 88,8% dan pada siklus II sebesar 96,38%. Disimpulkan bahwa langkah model pembelajaran Numbered Heads Together dengan permainan Nurikabe dapat meningkat hasil belajar. Kata Kunci: Numbered Heads Together , Nurikabe; hasil belajar. PENDAHULUAN Pembelajaran merupakan proses interaksi antara siswa dan guru dengan menggunakan sumber belajar dan lingkungan belajar. Ambarini (2010) menyatakan bahwa proses pembelajaran pada dasarnya merupakan interaksi pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa) untuk mencapai tujuan belajar yang diharapkan. Untuk itu, guru harus memiliki strategi dalam proses belajar mengajar, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien. Salah satu kemampuan matematis yang harus dimiliki siswa adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. Kemampuan pemecahan masalah merupakan kecakapan atau potensi yang dimiliki siswa dalam menyelesaikan permasalahan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari (Gunantara, Suarjana, & Riastini, 2014). Melihat fenomena yang terjadi, maka dalam pembelajaran matematika diperlukan suatu metode mengajar dan penilaian yang bervariasi. Wahyuni, Rahayu, & Widyati (2017) yang mengatakan bahwa pembelajaran matematika di sekolah menjadi kurang bermakna disebabkan oleh kemampuan berpikir kritis matematis yang kurang dikembangkan oleh siswa. Sehingga, kemampuan berpikir kritis matematis harus dimiliki bahkan dikembangkan oleh siswa sebagai upaya menjadikan pembelajaran matematika yang bermakna di sekolah. Dalam penggunaan, metode mengajar tidak harus sama untuk semua pokok bahasan, sebab dapat terjadi bahwa suatu metode mengajar tertentu cocok untuk satu pokok bahasan tetapi tidak untuk pokok bahasan yang lain. Ada beberapa faktor yang menyebabkan peserta didik tidak menyukai pelajaran matematika. Pertama, cara mengajar guru yang masih menggunakan metode konvensional. Metode konvensional yaitu pelajaran berpusat pada guru tanpa memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka secara maksimal. Kedua, masih kurangnya penggunaan permainan yang lebih menarik untuk mendukung metode mengajar. Hal inilah yang menyebabkan peserta didik cepat merasa bosan dan tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran matematika.