236 J. Biol. Indon. Vol. III, No. 3 : 236-244 (2002) Konsumsi dan Efisiensi Pakan pada Kukang (Nycticebus coucang) di Penangkaran Wirdateti 1) , Dewi Puspitasari 2) , Didid Diapari 2) & Anita S. Tjakradidjaja 2) 1) Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Cibinong 2) Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, IPB, Bogor ABSTRACT Feed Intake and Efficiency of Slow Loris (Nycticebus coucang) in Captivity. Study on feed intake and efficiency of captive slow loris (Nycticebus coucang) has been conducted at the Division of Zoolgy, Research Center for Biology LIPI for five weeks. Three individuals were placed in three cages, with its sizes of 1.2 x 1.7 x 1.9 m (one cage) and 0.8 x 1.7 x 1.9 m (two cages). Feeds consisting of papaya, banana, coconut, passion fruit, guava, sweet corn, quail egg, and white bread, were given ad libitum. Average body weight of slow loris in the beginning of the study was 587 gram/head and at the end was 648.33 gram/head. Average of feed consumption was 317.26 gram/kgBW/day. Average of feed efficiency and protein efficiency ratio (PER) was 0.0270 and 0.0945, respectively. Key words: Feed, slow loris, Nycticebus coucang, captivity, feed efficiency, PER. PENDAHULUAN Kukang (Nycticebus coucang) adalah salah satu jenis primata primitif yang terdapat di Indonesia. Primata ini termasuk kedalam genus Nycticebus yang tersebar di Asia Tenggara sampai Asia Selatan. Penyebaran kukang di Indonesia meliputi kepulauan Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Secara morfologi kukang termasuk primata kecil dengan ukuran tubuh kira- kira sebesar kucing rumah, bahkan ada yang lebih kecil. Bobot tubuh kukang dewasa berkisar antara 800 2000 gram (Payne & Francis, 1985). Tubuh ditutupi bulu halus yang berwarna mulai dari coklat keabu-abuan sampai coklat gelap kemerahan sepintas mirip beruang mini. Pada bagian punggung terdapat garis coklat kehitaman pada kukang Jawa dan coklat kemerahan pada kukang Sumatera dan Kalimantan. Demikian juga halnya pola strip pada kepala dan disekitar mata terdapat cincin gelap yang terlihat jelas pada kukang Jawa (Ronald dan Nowak, 1995; Wirdateti, 1999). Kukang merupakan hewan yang aktif pada malam hari (nocturnal) dan pergerakan menggunakan keempat anggota tubuh (quadropedal). Bransilver (1999) menyatakan bahwa populasi kukang di alam tinggal satu juta ekor dan sebagian besar tinggal di daerah yang dilindungi. Penurunan populasinya terutama disebabkan oleh rusaknya habitat (Bransilver, 1999) dan perburuan yang tidak terkontrol, yaitu pemanenan kukang secara langsung dari alam tanpa memperhatikan umur dan jenis kelamin yang banyak dilakukan untuk diperdagangkan sebagai hewan peliharaan _______________________ Gedung Widyasatwaloka, Jl. Raya Bogor-Jakarta Km 46, Cibinong, Bogor 16911