Komunikasi Fisika Indonesia (KFI) 17(1), 2020 1 Komunikasi Fisika Indonesia Edisi Maret 2020 | Vol. 17 | No. 1 Jurusan Fisika FMIPA Univ. Riau Pekanbaru p-ISSN.1412-2960 | e-2579-521X Web: http://ejournal.unri.ac.id./index.php/JKFI Email: komunikasi.fisika.indonesia@gmail.com DETEKSI EFEK GEMPA BUMI PADA IONOSFER MENGGUNAKAN DATA GNSS (DEETECTION OF THE EARTHQUAKE EFFECT ON THE IONOSFER USING GNSS DATA) Anwar Santoso 1,* , Buldan Muslim 1 , Siti Inayah Fitriyani 2,* 1 Pusat Sains Antariksa, Kedeputian Bidang Sains Antariksa dan Amosfer LAPAN Jalan Dr. Djundjunan 133 Bandung, 40173 2 Mahasiswi S1 Jurusan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jalan Ganesha 10 Bandung *E-mail korespondensi: anwar.santoso@lapan.go.id; sifmjs@gmail.com ABSTRACT Seismic activities such as earthquakes can cause atmospheric and infrared gravitational waves. If the earthquake happens to be strong enough (M> 6 SR), these waves can spread to the ionosphere altitude so that ionospheric fluctuations in the order of atmospheric and infrasonic gravitational waves can appear in the ionosphere. The ionospheric wave monitoring system associated with earthquakes from GNSS data has been developed from a network of GNSS observation stations in Indonesia and beyond. By using the sliding Fast Fourier Transform (SFFT) program on GNSS data, the disturbed ionospheric TEC position and TEC will be carried out. The results of previous studies, differential TEC showed irregular fluctuations in the order of several tens of seconds to several tens of minutes in the ionosphere with average amplitude varying in order of less than 0.01 TECU. At certain times the ionospheric fluctuations become more regular with an amplitude reaching greater than 0.01 TECU. As a case study, in this paper a methodological examination will be conducted on the events of Aceh earthquake on December 26, 2004 (M = 9.2 SR), Tohoku March 11, 2011 (M = 9 SR) and Yogyakarta May 27, 2006 (M = 6.2 SR). Keywords: GNSS, Ionosphere TEC, Earthquakes, Gravity wave, Infrasonic wave ABSTRAK Kegiatan seismik seperti gempa bumi dapat menyebabkan gelombang gravitasi atmosfer dan inframerah. Jika gempa bumi terjadi cukup kuat (M> 6 SR), gelombang ini dapat menyebar ke ketinggian ionosfer sehingga fluktuasi ionosfer dalam urutan gelombang gravitasi atmosfer dan infrasonik dapat muncul di ionosfer. Sistem pemantauan gelombang ionosfer yang terkait dengan gempa bumi dari data GNSS telah dikembangkan dari jaringan stasiun pengamatan GNSS di Indonesia dan sekitarnya. Dengan menggunakan program geser Fast Fourier Transform (SFFT) pada data GNSS, posisi TEC ionosfer yang terganggu dan TEC akan dilakukan. Hasil penelitian sebelumnya, TEC diferensial menunjukkan fluktuasi tidak beraturan dalam urutan puluhan detik hingga beberapa puluh menit di ionosfer dengan amplitudo rata-rata bervariasi dalam urutan kurang dari 0,01 TECU. Pada waktu-waktu tertentu fluktuasi ionosfer menjadi lebih teratur dengan amplitudo mencapai lebih besar dari 0,01 TECU. Sebagai studi kasus, dalam makalah ini akan dilakukan pemeriksaan metodologis tentang peristiwa gempa Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 (M = 9,2 SR), Tohoku 11 Maret 2011 (M = 9 SR) dan Yogyakarta 27 Mei 2006 ( M = 6.2 SR). Kata kunci: GNSS, TEC ionosfer, Gempa bumi, Gelombang gravitasi, Gelombang infrasonik PENDAHULUAN Secara umum, Indonesia terletak di perbatasan tiga lempeng tektonik utama yaitu lempeng Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia. Indonesia cukup sering menerima gempa bumi Diterima 27-08-2019 | Disetujui 15-01-2020 | Dipublikasi 31-03-2020