JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 7, No. 2 (2018), 2337-3520 (2301-928X Print) G153 AbstrakRumah Potong Hewan sebagai sebuah bangunan publik sering kali dibuat hanya untuk memenuhi fungsi utamanya sebagai tempat pemotongan hewan tanpa memperhatikan unsur- unsur penting bangunan sebagai objek arsitektur yang memperhatikan banyak aspek selain aspek fungsi. Penerapan konsep persepsi dan batas pada rumah potong hewan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan arsitektural bangunan sekaligus mendukung fungsi utama bangunan sebagai tempat pemotongan hewan. Metode yang digunakan adalah revealing architectural design oleh Philip D. Plowright yang berdasar pada pendekatan- pendekatan baik itu dari bidang ilmu arsitektur, maupun bidang ilmu lainnya yang sudah teruji kebenarannya dan diterapkan ke dalam bentuk arsitektur dengan bentuk kerangka berpikir yang jelas. Jenis kerangka berpikir yang diaplikasikan pada redesain RPH adalah concept-based framework yang menggunakan ide utama sebagai pusat dari semua konsep yang dibuat pada desain, sehingga semua konsep haruslah sejalan dengan ide utama ini. Dengan penerapan konsep persepsi dan batas ini, rumah potong hewan sebagai sebuah bangunan publik bisa menjadi bangunan yang lebih baik dengan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemotongan, namun juga menjadi bangunan yang memperhatikan aspek non fungional sehingga rumah potong hewan menjadi lebih baik secara arsitektural. Kata KunciBatas, Concept-Based Framework, Persepsi, Rumah Potong Hewan. I. PENDAHULUAN UMAH Potong Hewan Surya yang selanjutnya disingkat RPH Surya merupakan tempat pemotongan hewan yang berlokasi di Jalan Pegirian No.258, Sidotopo, Semampir, Surabaya, Jawa Timur, dengan luas area ± 14.000 m2. RPH Surya menangani pemotongan hewan sapi, kambing, dan babi dengan dua area yang terpisah lokasi dan dibatasi oleh tembok pemisah. Redesain yang dilakukan pada RPH Surya ini menggunakan konsep persepsi dan batas sebagai pendekatan yang dilakukan dalam merancang desain RPH Surya yang baru.Dalam arsitektur, persepsi bisa diinterpretasi berbeda terhadap suatu karya arsitektur yang sama bergantung pada bagaimana karya tersebut diterima pengamat dan pengalaman yang pernah dirasakan pengamat sebelum dihadapkan dengan karya arsitektur tersebut. Ada dua pendapat mengenai bagaimana terbentuknya sebuah pengalaman yaitu pendekatan fungsional yang didapatkan dari proses belajar stimulus sebelumnya. Dasar pemikiran teori ini adalah manusia merupakan makhluk yang rasional sehingga perilakunya dapat diramalkan dalam batas-batas tertentu. Dalam arsitektur, teori ini memanfaatkan bagian perilaku manusia, lalu mengarahkan perilaku manusia lewat fasilitas yang diwujudkan dalam karya arsitektur. Teori kedua adalah pendekatan fenomenologi yang menyatakan bahwa dasar pengalaman sudah ada pada innate idea manusia yang bekerja secara refleks atau singkatnya merupakan naluri manusia. Menurut teori ini manusia sudah memiliki kemampuan beradaptasi tanpa perlu melalui proses pengalaman [1]. Persepsi manusia terhadap karya arsitektur bisa dibaca melalui dua teori ini, yaitu melalui naluri yang dimiliki manusia sejak lahir begitu juga dari pengalaman sebelumnya yang menimbulkan pengalaman baru sehingga persepsi manusia dapat berubah sesuai dengan perubahan waktu dan pengalaman. Penggunaan batas dilakukan untuk efisiensi lahan yang nantinya akan digunakan untuk fungsi tambahan dalam RPH Surya. Batas dalam bangunan utama dibuat dengan batasan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 13/PERMENTAN/OT.140/1/2010 yang mensyaratkan Penerapan Konsep Persepsi dan Batas dalam Redesain Rumah Potong Hewan Surya Faliq Urfansyah dan Angger Sukma Mahendra Departemen Arsitektur, Fakultas Arsitektur, Desain dan Perancangan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: angger@arch.its.ac.id R Gambar 1. Perspektif mata normal kompleks RPH Surya. Gambar 2. Perspektif mata burung kompleks RPH Surya.