JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 10, No. 1 (2021), 2337-3520 (2301-928X Print) G26 AbstrakMeski kematian merupakan sesuatu yang alamiah dan pasti terjadi dalam kehidupan, hal tersebut tidak menghalangi hasrat dan obsesi manusia untuk menaklukkannya (Denial of Death). Sepanjang perjalanan hidupnya manusia selalu mencari cara untuk meninggalkan sebuah jejak/legacy agar selalu diingat, dan arsitektur hadir sebagai salah satu cara bagi manusia untuk memanifestasikan keinginannya menjadi abadi. Hal ini menjadikan arsitektur memiliki sebuah formalitas yang identik dengan kepermanenan dan kekokohan, dan menjadi penanda bahwa yang baik dan mempunyai arti, juga berdampak lebih besar adalah bangunan yang kekal. Namun hal tersebut merupakan sesuatu yang cukup utopis dan susah diwujudkan, sehingga timbul pertanyaan apakah konsep keabadian masih relevan di masa kini? Bagaimana jika manusia mulai menerima ke- mortal-an dirinya, bahkan merayakannya? Melalui pertanyaan tersebut, rancangan ini berusaha mengkonstruksi sebuah produk arsitektur, dimana konsep konsep efemeral disuntikkan dalam elemen rancang bangunan, mulai dari program ruang hingga eksplorasi material. Untuk mencapai tujuan diatas, rancangan akan difokuskan pada beberapa aspek rancang, yaitu konsep sebagian bangunan berupa instalasi yang bisa runtuh (deteorisasi dan deformasi) dan peleburan fungsi museum dan tempat ibadah. Hasil dari aspek rancang tersebut kemudian akan menghasilkan skenario dialog aktivitas dan ruang yang menarik, sehingga diharapkan ketika pengunjung selesai mengunjungi bangunan akan terbentuk persepsi penerimaaan akan mortalitas dalam dirinya. Kata KunciEfemeral, Ekshibisi, Deteorisasi & Deformasi, Multi Agama, Merayakan. I. PENDAHULUAN ANUSIA selalu berusaha meninggalkan sebuah jejak atau warisan atas sejarah hidupnya yang tersalurkan melalui berbagai media. Jejak tersebut dapat diartikan sebagai translasi nyata keinginan manusia menjadi abadi. Keinginan manusia untuk membuat suatu jejak peninggalan akan masa lalu (legacy) tidak lepas kaitannya dari fakta bahwa manusia merasa kehidupan mereka selalu berada dalam keadaan near perpetual war of existence. Kemenangan mutlak bagi manusia adalah ketika keberadaannya di dunia bisa diingat oleh banyak orang. Oleh karena itu, persepsi akan kematian dan segala topik yang berkaitan dengannya menjadi suatu hal yang menakutkan, sehingga terbentuklah kecenderungan manusia untuk menyangkal dan menghindari kematian (Denial of Death) meskipun pada hakikatnya kematian tidak dapat dihindari dan pasti akan terjadi. Musibah kebakaran Notre Dame yang tertera pada Gambar 1. Fenomena tersebut menarik perhatian banyak tokoh pemikir, mulai dari filsuf romawi Seneca dengan ajaran Stoisme-nya, hingga filsuf modern Martin Heidegger dengan Dasein. Seneca menyatakan dalam Ihwal Ketenangan Pikiran miliknya [1] bahwa barang siapa yang tidak memahami cara mati yang baik, dia akan menjalani hidupnya dengan buruk. Obsesi akan keabadian tidak akan membawa manusia menuju arah yang baik. Manusia adalah makhluk yang mortal, namun selalu berkeinginan untuk menaklukan keabadian tersebut. Harari dalam buku Homo Deus : A Brief History of Tomorrow [2] menuliskan bahwa tidak sedikit manusia yang berkeinginan untuk hidup abadi sehingga mereka mencari cara untuk menuangkan keinginan tersebut dalam suatu manifestasi, dan arsitektur merupakan salah satunya. Arsitektur sebagai salah satu cara manusia untuk memfisikkaneksistensi diri menjadikannya memiliki sebuah trademark akan sesuatu yang abadi dan diciptakan untuk bertahan selamanya, sehingga dalam perkembangannya, kepermanenan arsitektur yang dikejar pada akhirnya membuat manusia kewalahan sendiri untuk mencapainya. Biaya yang banyak, situasi masa depan yang tidak terprediksi (uncertain future), dan dominasi arsitektur yang kaku dan kejur akan membatasi perkembangan konsep dalam arsitektur. Edward Ford memberi pendapat bahwa sudah saatnya eksplorasi konsep yang berkaitan dengan efemeralitas dilakukan dalam arsitektur, The creation of place, of cities, building, and landscapes has traditionally been conceived as a conservative art, as the creation of lasting artifacts that embody the achievements and ideals of a civilization. But given the volatility of our age, and indeed the widespread perception that one era is ending and another beginning, we thought it timely to explore this idea to explore the twin themes of durability and ephemerality.[3]. Edward Ford juga mengatakan bahwa eksplorasi tersebut bisa membawa konsep dan ide baru dalam arsitektur; What makes ephemeral architecture interesting is that it can be M Gambar 1. Musibah Kebakaran Notre Dame. Selebrasi Aspek Efemeral dalam Arsitektur pada Ekshibisi Multi Agama Rifdha Cahyadistika dan Angger Sukma Mahendra Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: angger@arch.its.ac.id