JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 9, No. 2 (2020), 2337-3520 (2301-928X Print) G19 AbstrakKehidupan berdampingan antara mahasiswa dengan masyarakat kampung beserta dampaknya terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat memberikan konsekuensi adanya interaksi antar keduanya. Seiring waktu, kualitas interaksi antara mahasiswa dengan masyarakat kampung kian menurun. Jika sebelumnya hubungan yang terjadi bersifat kekeluargaan, kini cenderung bersifat ekonomis saja. Hal ini diantaranya disebabkan oleh kondisi fisik lingkungan binaan yang tidak mendukung terjadinya interaksi. Arsitektur sebagai lingkungan binaan berperan besar dalam membentuk budaya masyarakat penggunanya. Hunian mahasiswa kemudian menjadi objek yang diharapkan dapat menjadi sintesis dari permasalahan ini, yakni dengan menjadi wadah dan katalis interaksi mahasiswa dan masyarakat. Arsitektur simbiosis digunakan sebagai pendekatan utama untuk mengintegrasikan hunian mahasiswa dan hunian masyarakat sesuai dengan konteks wilayah guna meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi, yakni dengan keberadaan konsep intermediate space. Dengan metode pemetaan tipologi dan behavioral mapping, perancangan ini mencoba menciptakan sebuah pola pikir baru akan bagaimana hunian mahasiswa di wilayah kampung sekitar kampus dirancang hingga menghasilkan sebuah kondisi hidup berdampingan antara mahasiswa dan masyarakat yang ideal. Kata KunciArsitektur Simbiosis, Hunian Mahasiswa, Behavioral Mapping. I. PENDAHULUAN EBERADAAN perguruan tinggi sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berdampingan dengan kampung kota merupakan suatu fenomena yang menarik yang terjadi di Indonesia. Disamping itu, fenomena persebaran perguruan tinggi di Indonesia yang masih belum merata (sebagian besar berada di Pulau Jawa) juga menjadi persoalan. Kondisi ini menyebabkan banyak mahasiswa harus merantau untuk menempuh pendidikan tinggi. Karenanya, mahasiswa membutuhkan tempat tinggal di wilayah sekitar kampus (Gambar 1). Merespon kebutuhan ini, bisnis hunian mahasiswa menjadi marak ditemukan di wilayah kampung sekitar kampus. Hasil studi menunjukkan presentasi mahasiswa yang tinggal dalam kampung mencapai 51% dari jumlah penduduk perkampungan [1]. Praktis, kehidupan mahasiswa beserta aktivitasnya sebagian besar berlangsung di wilayah kampung sekitar kampus. Hal ini menjadikan mahasiswa hadir di tengah masyarakat dan memberikan banyak peluang usaha yang bisa dilakukan oleh masyarakat kampung sekitar kampus. Pada Gambar 2 menunjukkan adanya interaksi antara mahasiswa dan masyarakat sekitar. Peluang dari adanya interaksi tersebut diantaranya adalah usaha hunian mahasiswa, toko, warung makan, dan usaha jasa lainnya [2]. Selain dari dampak ekonomis, kehidupan berdampingan ini juga memberikan dampak lain, diantaranya berkaitan dengan status mahasiswa sebagai kaum cendekiawan, sehingga semestinya keilmuan mahasiswa diharapkan dapat langsung diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Demikian juga masyarakat kampung yang dikenal memiliki karakteristik yang guyub dan sarat rasa kekeluargaan diharapkan dapat menjadi salah satu gerbang untuk mengenalkan mahasiswa pada kehidupan riil bermasyarakat seperti diperlihatkan pada Gambar 3 mengenai jukstaposisi aktivitas.. Namun seiring waktu, interaksi antara mahasiswa dengan masyarakat kerap dipandang sebelah mata. Jika sebelumnya hubungan yang terjadi bersifat kekeluargaan, maka pada saat ini hubungan tersebut cenderung hanya bersifat ekonomis [3]. Interaksi mahasiswa dengan masyarakat kampung kemudian kerap dimaknai sebatas kegiatan pengabdian masyarakat melalui program-program, misalnya dengan adanya konsep Penerapan Arsitektur Simbiosis dalam Perancangan Hunian Mahasiswa sebagai Katalis Interaksi Zuhrotul Mawaddatil Ula dan Rabbani Kharismawan Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: rabbani@arch.its.ac.id K Gambar 1. Mahasiswa kos (dokumen pribadi). Gambar 2. Interaksi mahasiswa dan masyarakat (atmajaya.ac.id).