JURNAL LITTRI VOL. 14 NO. 2, JUNI 2008 : 78 - 86 78 PENENTUAN POLA PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI JAMBU METE CHANDRA INDRAWANTO Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Jl. Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111 ABSTRAK Sebagai produsen mete, agroindustri mete di Indonesia masih belum berkembang. Sekitar 36% produksi masih diekspor dalam bentuk gelondong. Pengembangan agroindustri mete yang mengandalkan industri besar tidak berjalan baik. Untuk itu perlu dicari pola yang tepat untuk pengembangan agroindustri mete. Penelitian ini menggunakan pendekatan system dengan menerapkan metode AHP (Analytic Hierarchy Process) untuk menentukan skenario terbaik pengembangan industri mete nasional yang kuat. Akuisisi pendapat pakar dilakukan dengan wawancara intensif dan melalui FGD terhadap tujuh pakar di Bogor pada bulan Februari 2007. Faktor penentu keberhasilan pengembangan agroindustri mete dengan tingkat kepentingan relatif tertinggi adalah ketersediaan bahan baku. Faktor ini sangat ditentukan oleh kinerja aktor petani dalam usahataninya, sehingga aktor petani memiliki tingkat kepentingan relatif tertinggi di antara ketiga aktor penentu. Kinerja usahatani ditentukan oleh terpenuhinya obyektif dari aktor petani terutama obyektif pendapatan usahatani yang baik. Dari ketiga skenario pola pengembangan industri mete, pola industri dengan basis industri kecil skala rumah tangga untuk pengacipan yang ditunjang industri pengolahan kulit mete ditingkat kabupaten sentra produksi mete dipilih sebagai pola terbaik karena dapat memenuhi seluruh obyektif petani dengan baik. Kebijakan yang perlu diambil dalam membangun industri mete dengan pola terpilih adalah dengan membentuk klaster industri mete di kabupaten sentra produksi mete, meningkatkan pendapatan petani melalui pengenalan budidaya anjuran, tanaman sela dan diversifikasi hasil, serta mendorong per- dagangan kacang mete ke negara-negara terdekat pengimpor kacang mete seperti Australia, Jepang, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Kata kunci : Jambu mete, Anacardium occidentale, AHP, agroindustri, klaster ABSTRACT Assortment of patrons of cashew agroindustry development As a cashew producer, Indonesia’s cashew agroindustry has not been developed yet. Around 36% of cashew production is exported without being processed. For that reason, a proper patron of cashew agroindustry development should be found. This research used system approach. AHP method had been applied to judge the best scenario of the patron of cashew agroindustry development. Acquisition of expert judgement had been done by intensive interview and FGD to seven expert in Bogor in February 2007. The analysis showed that raw material of cashew supply is the most important determinant factor in developing cashew agroindustry. Performance of this factor is depend on the performance of farmers in managing their farming. This condition put farmers as the most important actor in developing cashew agroindustry. The performance of the farmers depends on how the scenario can fulfill the objectives of the farmers. From three scenarios judged, cashew agroindustry based on home industry in cashew central production regencies is the best scenario that can fulfil all objectives of the farmer. Policies should be taken in developing cashew agroindustry using this scenario are: building clusters of the cashew industry in cashew central production regencies, Increasing farmers income from their farming by introducing good farming systems, intercropping, product diversification of cashew and increasing cashew nut export to importer countries such as Australia, Japan, Uni Emirate Arab and Saudi Arabia. Key words: Cashew, Anacardium occidentale, AHP, agroindustry, cluster PENDAHULUAN Jambu mete merupakan tanaman yang berkembang di Indonesia dan cukup menarik perhatian, hal ini karena, (1) tanaman jambu mete dapat ditanam di lahan kritis sehingga persaingan lahan dengan komoditas lain menjadi kecil dan dapat juga berfungsi sebagai tanaman konservasi; (2) mete merupakan komoditas ekspor, sehingga pasar mete cukup luas dan tidak terbatas pada pasar domestik; (3) Indonesia masih merupakan negara kecil dalam industri mete dunia dengan kontribusi produksi mete baru sekitar 6,3%. Hal ini memungkinkan Indonesia meningkatkan luas areal dan produksinya tanpa mengganggu pasar mete dunia secara signifikan; (4) usahatani, perdagangan dan agroindustri mete melibatkan banyak tenaga kerja, apalagi sekitar 98% pertanaman mete merupakan perkebunan rakyat. yang tersebar di 21 propinsi (DITJENBUN, 2006). Sayangnya produktivitas tanaman jambu mete ini masih rendah dan stagnan pada kisaran antara 350 kg per ha, jauh dibawah rata-rata produktivitas pertanaman mete India yang berkisar antara 675 kg per ha (DITJENBUN, 2006). Perkembangan luas areal yang cukup pesat mendorong peningkatan produksi mete dari sekitar 22.000 ton tahun 1986 menjadi sekitar 120.000 ton tahun 2005 (DITJENBUN, 2006). Saat ini sekitar 49% produksi mete Indonesia diekspor baik dalam bentuk gelondong (36%) maupun dalam bentuk kacang mete (13%), sedangkan sisanya (51%) untuk memenuhi kebutuhan domestik. Masih besarnya ekspor produk mete dalam bentuk gelondong terjadi karena belum berkembangnya industri pengacipan mete dan industri CNSL. Kondisi ini mengakibatkan nilai tambah yang ada tidak dapat diambil di dalam negeri. Strategi pengembangan industri penga- cipan dengan mendirikan pabrik-pabrik pengacipan skala besar ternyata tidak dapat berjalan. Dari 18 pabrik yang tergabung dalam AIMI (Asosiasi Industri Mete Indonesia) dengan total kapasitas olah terpasang 100.000 ton gelondong per tahun, saat ini hanya delapan yang masih berjalan. Kapasitas terpasang per tahun pabrik-pabrik pengacipan besar ini sebenarnya setara dengan produksi gelondong mete Indonesia. Akan tetapi karena masa panen mete yang hanya selama 4 bulan, industri pengacipan ini Jurnal Littri 14(2), Juni 2008. Hlm. 78 – 86 ISSN 0853 -8212