Media Berbagi Keperawatan, Vol.3 No.1 (Juli, 2020) E-ISSN 2548-7221 7 KARAKTERISTIK KELAYAKAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN (DMPA) DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN “S” KESUGIHAN CILACAP Septi Tri Aksari 1 1 Prodi DIII Kebidanan Stikes Serulingmas Email Penulis Korespondensi ( K ): septi3_aksari@yahoo.co.id ABSTRAK Kontrasepsi suntik tiga bulan (DMPA) merupakan salah satu metode kontrasepsi yang banyak diminati di Indonesia. Kontrasepsi ini memiliki efektivitas yang baik, tetapi memiliki beberapa efek samping. WHO telah mengeluarkan pedoman yang menjadi landasan ilmiah dan acuan dalam memberikan pelayanan KB berbasis bukti. Wanita dengan kriteria medis tertentu,memiliki keterbatasan dalam menggunakan salah satu metode kontrasepsi dikarenakan kondisinya akan dapat diperparah dengan penggunaan metode tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran karakteristik akseptor suntik 3 bulan berdasarkan kelayakan medis untuk penggunaan kontrasepsi. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif. Sampel diambil dengan teknik total sampling pada akseptor KB suntik 3 bulan sejumlah 46 responden. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari karakteristik umur terdapat 10.9% yang berusia > 45 tahun atau kategori 2 dalam MEC untuk kelayakan kontrasepsi, terdapat 3 responden (6.5%) yang menyusui kurang dari 6 bulan (kategori 3), 41 responden (89.1%) menggunakan kontrasepsi suntik DMPA kurang dari 5 tahun, 34 responden (73.9%) tidak mengalami kenaikan berat badan yang signifikan (< 5 kg) dan terdapat 7 responden (15.2%) akseptor KB suntik DMPA yang memiliki hipertensi. Saran bagi tenaga kesehatan, yaitu perlunya memantau kondisi akseptor KB setiap kali kunjungan untuk memantau kelayakan pemakaian kontrasepsi, bukan hanya pada saat awal penggunaan. Kata Kunci: karakteristik, kelayakan pemakaian kontrasepsi, DMPA, suntik 3 bulan PENDAHULUAN Latar Belakang Keluarga Berencana (KB) memiliki kontribusi yang besar dalam upaya peningkatan kesehatan keluarga dan merupakan salah satu pilar penting dalam upaya penurunan AKI dan AKB. Rekomendasi Praktik Terpilih untuk penggunaan kontrasepsi (The Selected practice recommendations for contraceptive use/SPR) memberikan panduan mengenai “bagaimana” penggunaan metode kontrasepsi yang aman dan efektif (WHO, 2015). Untuk membantu meningkatkan akses dan kualitas layanan keluarga berencana. Peningkatan pengguna kontrasepsi ini harus dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan medis pasien serta pilihannya sendiri (informed choice). Adaptasi tidak terlalu mudah dilakukan sehingga paling baik dilaksanakan oleh penyedia layanan kesehatan yang sudah cukup mengenal kondisi kesehatan, prilaku, dan budaya setempat. Keamanan setiap metode kontrasepsi ditentukan oleh beberapa pertimbangan dalam konteks kondisi medis atau karakteristik medis yang terkait; terutama apakah metode kontrasepsi memperburuk kondisi medis atau menciptakan risiko kesehatan tambahan, dan apa keadaan medis yang membuat metode kontrasepsi kurang efektif. Keamanan dari metode ini harus dipertimbangkan bersama dengan manfaat mencegah kehamilan yang tidak diinginkan (WHO, 2015). Untuk setiap karakteristik atau kondisi medis yang relevan, metode kontrasepsi ditempatkan ke dalam salah satu dari empat kategori, yaitu kategori 1 jika Kondisi yang tidak ada batasan untuk penggunaan metode kontrasepsi, kategori 2 yaitu Suatu kondisi dimana keuntungan menggunakan metode umumnya lebih besar daripada risiko, baik secara teoritis maupun terbukti, kategori 3 yaitu Suatu kondisi dimana risiko teoritis atau terbukti biasanya lebih besar daripada keuntungan menggunakan metode ini dan kategori 4 yaitu Suatu kondisi yang memiliki risiko kesehatan yang tidak dapat diterima jika metode kontrasepsi digunakan (WHO, 2015) Metode kontrasepsi Suntik merupakan metode kontrasepsi favorit dan paling banyak digunakan di Indonesia, yaitu sebesar 29% (SDKI, 2017). Metode suntik 3 bulan yang hanya mengandung hormon progesteron, cara kerjanya yaitu dengan mencegah ovulasi. Efektivitasnya yaitu 0,3 kehamilan per 100 perempuan per tahun. Kelebihan dari KB ini adalah tidak mengganggu produksi ASI, tidak mengandung esterogen sehingga tidak memiliki dampak serius terhadap penyakit jantung dan tidak mengganggu hubungan seksual. Sedangkan kelemahan dari penggunaan kontrasepsi suntik ialah terjadi perubahan pola haid yang sering tidak teratur, mual, sakit kepala, nyeri payudara, tekanan darah tinggi atau hipertensi, serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru atau otak, bisa menimbulkan tumor hati, kenaikan berat badan, pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, jerawat, flek hitam di wajah, dan kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian kontrasepsi. (Sarwono, 2014).