38 | Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra (Konnas Basastra) V RAGAM PENGALAMAN PEREMPUAN DALAM CERPEN-CERPEN KOMPAS: KAJIAN EKOFEMINISME TRANSFORMATIF Aji Septiaji Universitas Majalengka ajiseptiaji@gmail.com Abstract: This research is motivated by the fact that women have a number of different characteristics compared to men. Women are oriented to feelings while men are to logic. The research method uses content analysis with a qualitative approach. Transformative ecofeminism is based on the theories of Vandana Shiva and Maria Mies with a focus on research on a variety of women's experiences. The research data was obtained from Kompas short stories from 2010-2015. The results showed that women were able to be an inspiration for men. However, in other issues women are not only oriented to feelings but to logic as well as men and the problems of life are able to make women penetrate the limits of her morality by acting discriminatory. Keywords: women's experiences, ecofeminism transformative, short stories, kompas newspapers Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa perempuan memiliki sejumlah karakteristik yang berbeda dibandingkan laki-laki. Perempuan berorientasi pada perasaan sedangkan laki-laki pada logika. Metode penelitian menggunakan analisis isi dengan pendekatan kualitatif. Ekofeminisme transformatif berdasarkan teori Vandana Shiva dan Maria Mies dengan fokus penelitian pada ragam pengalaman perempuan. Data penelitian diperoleh dari cerpen-cerpen Kompas tahun 2010-2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi inspirasi bagi laki-laki. Namun, dalam persoalan lain perempuan bukan hanya berorientasi pada perasaan melainkan pada logika seperti halnya laki-laki serta problematika hidup mampu membuat perempuan menembus batas moralitas dirinya dengan bertindak diskriminatif. Kata Kunci: pengalaman perempuan, ekofeminisme transformatif, cerita pendek, surat kabar kompas PENDAHULUAN Perempuan disimbolkan sebagai sosok pemelihara alam, pelaku perlawanan, sedangkan laki- laki sebagai perusak alam. Persoalan ini jika dihubungkan dengan peran tokoh berdasarkan fungsinya akan mengakar pada gender laki-laki dan gender perempuan dari sudut nonbiologis. Dials (2017, hlm. 187) menyatakan bahwa perempuan-perempuan dalam sejumlah cerita pendek memiliki karakteristik yang menunjukkan bahwa perempuan telah banyak berubah dalam hal peran dan citranya. Harvester & Blenkinsop (2010, hlm. 122) mengungkapkan bahwa perempuan diidentifikasi sebagai individu yang berperan penting dalam menanamkan pendidikan dalam hal sosial dan alam bagi generasi setelahnya ataupun sebelumnya. Persoalan perempuan dalam hal ini ialah berfokus pada ekofeminisme (ekologi dan feminisme). Konsep feminisme mengacu pada suatu pemikiran yang menginginkan adanya keadilan dan kesetaraan gender. Ekologi memiliki makna mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan kondisi alam sekitarnya (lingkungan). Ross (1990, hlm. 23) perempuan dan persoalan ekologi atau lingkungan memperluas pandangan mengenai perilaku atau bertindak dengan ekosistem lain dalam kehidupan. Clara (2018, hlm. 583) ketika perempuan hadir dalam persoalan lingkungan menjadi pelestari berbeda dengan laki-laki menjadi pelaku praktik pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Perempuan melakukan sebuah perlawanan terhadap laki-laki ialah sebagai perlindungan dan kontribusi dalam persoalan ekologi. Namun, pada umumnya perempuan berorientasi pada feminisme yang dianggap sebagai ideologi. Hannam (2007, hlm. 22) membagi feminisme dalam tiga bagian yaitu (1) pengakuan ketidakseimbangan antara peran wanita dan peran laki-laki; (2) kondisi wanita terbentuk secara sosial dan masih dapat diubah; dan (3) otonomi perempuan. Banerjee (2017, hlm. 275) bahwa identitas perempuan pada abad ke-20 diperintahkan untuk menjaga orang lain (laki-laki) dan meninggalkan kebebasannya sebagai perempuan