102 Commed : Jurnal Komunikasi dan Media Vol. 3 No. 2 Februari 2019 ISSN. 2527-8673 E-ISSN. 2615.6725 IMPLIKASI LITERASI MEDIA DALAM MENGUBAH PERILAKU MASYARAKAT KOTA PONTIANAK TERHADAP KABAR BOHONG Netty Herawati 1 , Aliyah Nur’aini Hanum 2 , Dewi Utami 3 1,2,3 Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Tanjungpura e-mail: 1 nettynj@gmail.com, Abstract Whether consciously or not, social media users are active spreaders of fake/false news. Those who have an understanding of media literacy should be able to overcome the spread of fake/false news. This study intended to examine how media literacy values acquired beforehand by individuals can compete with stimulus in the form of potentially fake/false news before it is finally decided to be disseminated or not. This research rests on the principles of social judgment theory and uses in-depth interviews to collect data. The result shows that there is an attitude of restraint when the characteristics of fake/false news on a message are successfully marked. In addition, the mismatch of value references possessed by individuals with ideas offered by fake/false news lead to 3 types of behavior: muting, compromising, or actively rejecting. Keywords: media literation, hoax, false news, fake news, social judgment 1. PENDAHULUAN Media massa kerap dituding menjadi sumber penyebaran kabar bohong. Hal ini memang sering terjadi terutama di jenis media daring, ketika pihak media melalaikan akurasi hanya karena mengejar kecepatan publikasi berita atau menciptakan judul sensasional demi menarik pengunjung padahal isi berita sama sekali berbeda. Kenyataannya saluran interpersonal adalah saluran utama penyebaran kabar bohong, terbukti dengan hasil survei Mastel (2017) yang menyebutkan media sosial dan aplikasi percakapan sebagai sarana utama penyebaran berita bohong. Pengguna aplikasi percakapan WhatsApp di Indonesia berdasarkan data dari We Are Social sudah mencapai 40% dari pemilik akses Internet. Melalui WhatsApp, orang dengan mudah mendapatkan kabar dari lingkaran terdekatnya (We Are Social, 2018). Apalagi, menurut Pablo Ortellado, peneliti berita palsu dan profesor kebijakan publik di Universitas Sao Paulo, orang lebih cenderung mempercayai rumor dari keluarga dan teman. Tidak ada algoritme yang memediasi pengalaman. Ketika informasi yang salah itu datang dalam bentuk teks dan video yang diteruskan yang terlihat sama dengan pesan pribadi di WhatsApp mereka memberikan lapisan legitimasi lain. Kemudian Anda mendapatkan efek peracikan jaringan (network compounding effect); jika Anda berada dalam banyak obrolan grup yang semuanya menerima berita palsu, pengulangan membuat mereka lebih dapat dipercaya (Molteni,2018). Aplikasi percakapan merupakan sarana komunikasi bermedia bagi proses komunikasi interpersonal. Pengaruh emosi dan kedekatan personal yang dimunculkan melalui aplikasi percakapan membuat kabar bohong mudah