Distilasi, Vol. 6 No. 2, September 2021, Hal. 13-20 Gunawan, R., Anwar, C., Effendy, S.A., dkk. 13 PERBANDINGAN PENGARUH EM4 DENGAN RAGI (SACCAROMYCES CEREVISIAE) TERHADAP KADAR BIOETANOL DARI MOLASES Reno Gunawan a *, Chairul Anwar b *, Sahrul Effendy A, Muhammad Taufik, Idha Silviyati Jurusan Teknik Kimia Prodi DIV Teknik Energi Politeknik Negeri Sriwijaya Jln. Srijaya Negara, Bukit Lama, Palembang 30139 *Corresponding author: a* gnreno99@gmail.com ; b* chairulanwar871@gmail.com Abstrak Kebutuhan energi dunia saat ini dapat disubstitusi dengan etanol sebagai bahan bakar alternatif. Bahan baku produksi etanol dapat menggunakan molases yang merupakan sisa pembuatan gula tebu namun masih mengandung glukosa dan nutrisi tinggi. Penelitian ini memanfaatkan limbah pabrik gula/molasess sebagai bahan dasar pembuatan etanol. Tetes tebu berupa cairan kental dan diperoleh dari tahap pemisahan kristal gula. Molases masih mengandung gula dengan kadar 50-60%, asam amino dan mineral. Tingginya kandungan gula dalam molases sangat potensial dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol. Dalam penelitian konversi molases menjadi bioetanol pada bioreaktor menggunakan variabel konsentrasi berat Saccaromyces cerevisiae sebagai variabel bebas. Variabel tetap yang digunakan adalah pH 5, temperatur ruangan, kecepatan pengadukan sebesar 50 rpm, komposisi nutrisi ragi, dan bahan utama (molases) yang digunakan. Dari hasil penelitian didapatkan nilai densitas yang paling mendekati fuel grade densitas bioetanol yaitu sebesar 0,808 gr/mL pada saat menggunakan EM4 sebanyak 17 mL. Namun jika dilihat dari kadar bioetanol yang dihasilkan, hasil yang paling optimum justru terjadi pada saat penambahan ragi sebanyak 13 gram dengan kadar bioetanol sebesar 80 %. Sedangkan untuk nilai kalor yang dihasilkan, hasil yang paling optimum tejadi pada saat menggunakan EM4 sebanyak 17 mL dengan nilai kalor sebesar 8584,364 cal/gr. Kata Kunci : bioetanol, molases, saccharomyces cerevisiae, fuel grade. Abstract Today's world energy needs can be substituted with ethanol as an alternative fuel. The raw material for ethanol production can use molasses which is the residue from the manufacture of cane sugar but still contains glucose and high nutrients. This research utilizes sugar/molasses factory waste as the basic material for making ethanol. Sugarcane drops are a thick liquid and are obtained from the stage of separating sugar crystals. Molasses still contains 50-60% sugar, amino acids and minerals. The high sugar content in molasses has the potential to be used as raw material for bioethanol. In this study the conversion of molasses into bioethanol in a bioreactor used the variable weight concentration of Saccharomyces cerevisiae as the independent variable. The fixed variables used were pH 5, room temperature, stirring speed of 50 rpm, the nutritional composition of yeast, and the main ingredient (molasses). From the results of the study, it was found that the density value closest to the fuel grade density of bioethanol was 0.808 gr/mL when using EM4 as much as 17 mL. However, when viewed from the levels of bioethanol produced, the most optimum results actually occurred when the addition of yeast as much as 13 grams with a bioethanol content of 80%. As for the calorific value produced, the most optimum results occurred when using EM4 as much as 17 mL with a calorific value of 8584.364 cal/gr. Keywords : bioethanol, molasses, saccharomyces cerevisiae, fuel grade. PENDAHULUAN Peningkatan pertumbuhan ekonomi serta populasi dengan segala aktivitasnya akan meningkatkan kebutuhan energi di semua sektor pengguna energi. Peningkatan kebutuhan energi tersebut harus didukung adanya pasokan energi jangka panjang secara berkesinambungan, terintegrasi, dan ramah lingkungan. Sejalan dengan permasalahan tersebut, pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 telah mengeluarkan kebijakan energi nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri. Kebijakan energi nasional ini juga memuat upaya untuk melakukan diversifikasi dalam