PLANO MADANI VOLUME 8 NOMOR 1 APRIL 2019, 15-24 © 2019 P ISSN 2301-878X - E ISSN 2541-2973 Available online : http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/planomadani STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS KAMPUNG KOTA PADA PROGRAM KAMPUNG KREATIF DAN BEBAS SAMPAH DI KAMPUNG DAGO POJOK DAN KAMPUNG BANDUNG KIDUL Ade Wahyudi 1 , Iwan Kustiwan 2 1 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Riau 2 Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, ITB, Bandung 1 Email : adewahyudi@eng.uir.ac.id Diterima (received): 17 Januari 2019 Disetujui (accepted): 08 Maret 2019 ABSTRAK The increasing number of population’s growth become the main factors causing the informal settlement exists in the urban area. Most of low income people are living in Urban Villages. Urban village generally located in the heart city and at the same times makes the city more compex and congested, crowded, polluted and unable to accommodate and perform the needs of housing provision. This conditions lowering the settlement quality. Moreover, the majority on housing delivery system in Indonesia administered by individual plans and lack of access to a proper resources. This research aims to analyze the level of participation and formulating the strategy to increase human settlement quality. This research adopted quantitative descriptive analysis by multiple regression and tribina analysis. The result showed that the level of participation in Kampung Bandung Kidul with Zero Waste program are still low and because below than 50% citizen participated in prepadness, planning, implementation and evaluation and benefit. Otherwise, In Kampung Dago Pojok, the level of community participation are in medium and above 50% of community participated on Youth Creativity Kampung. Tribina analysis adopted to formulate the strategy of participation in both urban villages to improve the housing quality. Keywords : settlement, participation, urban village A. PENDAHULUAN Peningkatan jumlah penduduk di kawasan perkotaan Bandung mengakibatkan pesatnya perkembangan kegiatan suatu kota dan sekaligus memicu terjadinya kemerosotan lingkungan permukiman, tidak efisiensinya penggunaan tanah pada kawasan pusat kota, dan yang lebih buruk lagi yaitu terjadinya penurunan kualitas lingkungan permukiman. Hal ini dikarenakan keadaan/kehidupan yang terus berkembang sementara kebutuhan akan permukiman mutlak harus dipenuhi. Sehingga, masyarakat yang berpendapatan rendah cenderung untuk membangun permukiman secara individu dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Akibatnya, lingkungan hunian mereka termasuk kedalam lingkungan hunian yang tidak sehat dan tidak layak huni. Hal tersebut membuat permasalahan permukiman menjadi semakin kompleks dan pelik karena terjadi kecendrungan bahwa masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam membangun suatu permukiman cenderung mengelompok (aglomerasi) dan membentuk suatu kawasan tersendiri yang berada di pusat kota yang disebut dengan kampung kota (Widjaja, 2013). Lokasi kampung kota yang strategis di pusat kota, namun pada brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by E-Jurnal UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin Makassar