Setiadi Jurnal Ilmiah Platax Vol. 8:(2), Juli-Desember 2020 http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax 242 Analisis Fenomena Upwelling Berbasis Citra Satelit Pada Wilayah Pengelolaan Perikanan (Wpp) 716 (Analysis Of Upwelling Event Based On Satellite Imagery In Fishery Management Area (FMA) 716) Nickyta Laurensis Setiadi 1* , Joshian Nicolas W. Schaduw 2 , Alfret Luasunaung 2 , Ferdinand F. Tilaar 2 , Lefrand Manoppo 2 , Reiny A. Tumbol 2 , Deiske A. Sumilat 2 1 Program Studi Magister Ilmu Perairan, Faklutas Perikanan dan Ilmu Kelautan,Universitas Sam Ratulangi, Jl. Kampus Unsrat Bahu, Manado 95115 Sulawesi Utara, Indonesia 2 Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado - Sulawesi Utara, Indonesia. * Corresponding Author: nickytasetiadi@gmail.com Abstract Oceanographic parameters are very important to analyze for determining fishing ground, it is related to upwelling. The aim of the study was to see the analysis of chlorophyll-a concentration at the time of upwelling at Fisheries Management Area (FMA) 716, then verify with the fisheries catch data. The research method is descriptive-analytical and statistical, which aims to describe or provide an overview of chlorophyll-a results from ASCAT imagery on the MetOp and NOAA satellites, and sea surface temperature results from MODIS imagery on the Aqua satellite. Then they processed for statistical correlation using the Pearson correlation method. The results showed that based on spatial and temporal analysis, the parameters that affect the upwelling in FMA 716 are sea surface temperature, so that the water mass moves from west to east, and increase the chlorophyll-a concentration. Pearson correlation shows that the correlation value of chlorophyll-a is higher than the sea surface temperature parameter with a value of 0.72. The fish catches data of yellowfin tuna ( Thunnus albacares) appears a positive effect with a correlation value of 0.75. Keywords: upwelling, chlorophyll-a, temperature, Thunnus albacares, FMA 716. Abstrak Konsentrasi klorofil-a dan suhu permukaan laut merupakan parameter yang dapat dijadikan indikator tingkat kesuburan di suatu perairan, yang berkaitan dengan kejadian upwelling. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis konsentrasi klorofil-a pada saat kejadian upwelling di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 716, dengan output berupa tabel dan grafik, kemudian diverfikasi dengan data hasil tangkapan. Metode penelitian adalah deskriptif analitis, dan statistik, yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap data parameter klorofil-a hasil pencitraan ASCAT pada satelit MetOp dan NOAA, dan suhu permukaan laut hasil pencitraan MODIS pada satelit Aqua. Kemudian diolah dan diuji korelasinya secara statistik dengan menggunakan metode korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan analisis spasial dan temporal parameter yang mempengaruhi kejadian upwelling pada WPP 716 adalah suhu permukaan laut, sehingga massa air bergerak dari arah barat menuju timur, dan meningkatkan konsentrasi klorofil-a. Korelasi pearson menunjukkan nilai korelasi klorofil-a lebih tinggi dibandingkan parameter suhu permukaan laut dengan nilai sebesar 0,72. Hasil tangkapan ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) tampak berpengaruh positif dengan nilai korelasi sebesar 0,75. Kata kunci: upwelling, klorofil-a, suhu, Thunnus albacares, WPP 716 PENDAHULUAN Potensi perikanan laut menjadi salah satu aset bangsa yang memberikan kontribusi sangat besar dalam perekonomian Indonesia. Menurut Amri et al., (2017) Kondisi hidrologi dan tingkat kesuburan suatu perairan memiliki keterkaitan terhadap kelimpahan sumber daya hayati perairan tersebut. Kondisi hidrologi perairan laut mencakup berbagai aspek oseanografi fisik, kimia, dan biologi berikut proses dinamika oseanografi (seperti upwelling, downwelling, pola arus, sebaran plankton, dan lain lain) yang