39 Squalen Vol. 5 No. 2, Agustus 2010 *) Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan; Email: idjanuar@gmail.com **) Pengajar pada Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro KELAYAKAN METODE METABOLOMIK PADA PENGKAJIAN LINGKUNGAN TERUMBU KARANG Hedi Indra Januar *) , Boedi Hendrarto **) , dan Ekowati Chasanah *) ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk memaparkan kelayakan metode metabolomik sidik jari dan penanda kimia pada pengkajian kondisi lingkungan terumbu karang. Berdasarkan telaah pustaka, kedua jenis metabolomik dapat diterapkan pada pengkajian kondisi terumbu karang, dengan keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Metabolomik sidik jari merupakan pendekatan yang sangat komprehensif dalam menilai kondisi bioindikator terumbu karang yang mengalami stressor lingkungan, namun memerlukan instrumen kimia yang canggih dan analisis data hasil secara statistik yang cukup rumit. Sebaliknya, keunggulan metabolomik penanda kimia lebih sederhana dalam pengujian dan pengolahan data hasil, namun kelemahannya adalah tidak secara komprehensif menelaah perubahan metabolit bioindikator. Jika diterapkan pada high throughput screening kondisi terumbu karang, maka secara subjektif analisis metabolomik penanda kimia memiliki potensi lebih baik. Salah satu penanda kimia yang potensial dipergunakan adalah cembranoid, yaitu senyawa bioaktif dari karang lunak. ABSTRACT: Feasibility of metabolomic analysis in assessing coral reefs environments. By: Hedi Indra Januar, Boedi Hendrarto and Ekowati Chasanah This study aimed to explain the feasibility of fingerprint and chemical marker metabolomic analysis in assessment of coral reefs environments. Based on literature review, both analysis might be implemented on coral reef environment assessment, with their specific strength and weakness. Fingerprint metabolomic is a comprehensive approach in assessing the condition of coral reefs bioindicator that is having environmental stresses. It require high technology chemical instrumentation and complicated statistical approach in post data analysis. On the other hand, chemical marker metabolomic is more simplified in data analysis and instrumentation, but not comprehensively assess the metabolite changes of bioindicator that is having environmental stresses. To apply as high throughput screening in coral reefs assessment, subjectively the chemical marker method would be more feasible. One of the potential chemical marker that used is cembranoids, a bioactive compound from soft corals. KEYWORDS: environmental metabolomics, coral reefs assessments, soft corals, cembranoid PENDAHULUAN Komunitas terumbu karang Indonesia merupakan wilayah dengan biodiversitas tinggi sehingga menjadi salah satu sumber terbaik untuk mendapatkan senyawa kimia baru yang memiliki aktivitas biologis. Namun peningkatan stressor antropogenik dan pemanasan global pada habitat terumbu karang berpotensi sebagai ancaman tinggi terhadap biodiversitas terumbu karang (Rajendran et al., 2001). Sebagai efeknya, metabolisme dalam hewan laut akan beradaptasi terhadap kondisi lingkungannya. Fluktuasi kadar metabolit yang beradaptasi terhadap lingkungannya tersebut menjadi dasar high throughput screening dalam mengetahui kondisi lingkungan, dan dikenal dengan analisis metabolomik lingkungan (Lin et al., 2006). Melalui cara metabolomik, kondisi lingkungan terumbu karang dapat diketahui dengan cepat. Selain itu, kadar metabolisme sekunder terumbu karang yang seringkali merupakan senyawa bioaktif akan memperlihatkan kekayaan diversitas plasma nutfah suatu wilayah terumbu karang. Hal ini menjadi sangat penting bagi konservasi lingkungan laut di Indonesia yang telah dicanangkan seluas 10 juta hektar pada tahun 2010 ini (Poernomo, 2009). Efektifitas peningkatan kualitas kawasan terumbu karang akibat keberadaan konservasi yang dicanangkan harus dilakukan secara berkala. Kondisi terumbu karang Indonesia saat ini secara umum buruk, hanya sebesar 6% saja yang berada dalam kondisi baik (Cappenberg & Salatalohy, 2008). Namun, untuk melakukan penelaahan terhadap kondisi terumbu karang, terlebih jika dilakukan secara berkala, dibutuhkan sumberdaya yang besar (Estradivari et al., 2007). Penyederhanaan melalui metode metabolomik dapat menjadi high throughput