JURNAL TEKNIK ITS Vol. 10, No. 2, (2021) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C164 AbstrakSejak awal Maret 2020 Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) menyebar dan membuat pandemi di Kota Surabaya membuat dibuatnya pembatasan pergerakan ruang masyarakat. Masyarakat tertekan karena bahaya COVID-19 dan dibatasinya ruang gerak karenanya, untuk mengatasinya masyarakat tetap perlu adanya pariwisata salah satunya pariwisata bertipe alam di tengah hiruk pikuk kota sebesar Kota Surabaya, Ekowisata Mangrove Wonorejo menjadi salah satu pariwisata yang memfasilitasi masyarakat tentu dengan kontrolling jumlah wisatawan dan penerapan protokol kesehatan (protokol CHSE) yang ketat di setiap kegiatan ekowisata. Tetapi apakah kegiatan Ekowisata Mangrove Wonorejo sudah sesuai dengan protokol CHSE, maka perlu mengidentifikasi karakteristik kegiatan Ekowisata Mangrove Wonorejo di masa pandemi COVID-19. Untuk menjalankan tujuan tersebut penelitian ini dilakukan 2 tahap analisis yaitu menentukan faktor daya tarik wisata yang berpengaruh dalam Mangrove Wonorejo di masa pandemi dengan metode analisis delphi. Tahap kedua yaitu mengidentifikasi karakteristik faktor daya tarik wisata yang berpengaruh dalam Ekowisata Mangrove Wonorejo di masa pandemi dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat 9 indikator yang berpengaruh yaitu daya tarik wisata, sarana, prasarana, aksesibilitas, kelembagaan, partisipasi masyarakat, promosi, edukasi dan lingkungan dengan 23 variabel yang menerapkan protokol CHSE didalamnya akhirnya membuat 86 karakteristik kegiatan Ekowisata Mangrove Wonorejo di masa pandemi COVID-19. Kata KunciDeskriptif Kualitatif, Pandemi, Protokol CHSE dan Ekowisata I. PENDAHULUAN I AWAL tahun 2020, dunia terserang virus bernama COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) dan membuat pandemi di seluruh negara. Pandemi sendiri berpengertian penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia (World Health Organization, 2020). Kasus COVID-19 yang terjadi di Indonesia per tanggal 2 Maret 2021 sebanyak 1.329.074 jiwa dengan korban meninggal dunia 35.981 jiwa [1]. Surabaya sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Timur menjadi salah satu penyumbang terbesar kasus COVID-19 dengan data per tanggal 2 Maret 2021, 21.508 pasien positif dan 1,328 jiwa meninggal dan rasio per 1 tahun terakhir terkonfirmasi positif 0,22%, terkonfirmasi sembuh 0,23% dan terkonfirmasi meninggal 0,15% menjadikan Surabaya penyumbang 33% dari seluruh kasus COVID-19 di Jawa Timur dan Indonesia [2]. Angka kasus COVID-19 yang tinggi baik di Indonesia maupun Surabaya membuat pandemi yang berlangsung berbulan-bulan ini bukan hanya mengancam atau berpengaruh pada kesehatan fisik masyarakat tetapi juga pada kesehatan jiwa atau stress. Stress merupakan perasaan tertekan dan ketegangan mental dimana respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya, sehingga adaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam menjalani aktivitas keseharian baru bukan merupakan hal yang mudah [3]. Kesulitan menghadapi perubahan ini dapat meningkatkan stress. Gejala stress adalah merasa khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir berlebihan, mudah marah, dan sulit rileks. Sementara gejala depresi utama yang muncul adalah gangguan tidur, kurang percaya diri, lelah, tidak bertenaga, dan kehilangan minat. Lebih lanjut, sebanyak 80% responden memiliki gejala stres pascatrauma psikologis karena mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait Covid-19. Gejala stres pascatrauma psikologis berat dialami 46% responden, gejala stres pasca trauma psikologis sedang dialami 33% responden, gejala stres paska trauma psikologis ringan dialami 2% responden, sementara 19% tidak ada gejala [4]. Untuk mengatasi strees dan depresi yang dialami masyarakat akibat pandemi COVID-19, salah satu caranya ialah melakukan kegiatan wisata dengan tujuan mendapatkan bentuk kepuasan dengan kepentingan rekreasi, kesehatan dan sosial [5]. Wisata yang dilakukan pun tidak bisa sembarangan dikarenakan pandemi COVID-19 yang terjadi membuat penularan virus corona COVID-19 lebih mudah di ruangan tertutup, seperti restoran, tempat ibadah, shopping mall dan tempat kerja daripada ruangan terbuka. Ekowisata Mangrove Wonorejo menjadi salah satu pariwisata yang bisa memfasilitasi kebutuhan masyarakat kota surabaya, dengan potensinya yang dimilikinya seperti potensi alamnya yaitu ekosistem mangrovenya yang memiliki banyak jenis tumbuhan mangrove yang tumbuh yang membuat suasana dan hawa segar, terdapat papan informasi untuk masing-masing jenis pohon mangrove dan wisatawan bisa melakukan kegiatan menanam pohon mangrove untuk berkontribusi kepada alam dan juga ada kera ekor panjang serta beragam type burung pantai yang bersangkar di atas tanaman mangrove. lalu ada potensi buatan seperti adanya jogging track yang mengelilingi kawasan hutan Ekowisata Mangrove Wonorejo, dan wisata susur sungai mengunakan perahu [6]. Tetapi potensi yang ada di Ekowisata Mangrove Wonorejo baik dari alam, buatan, sarana prasarana maupun pengelolaannya hanya sesuai dengan keadaan normal biasa dan tidak dengan masa pandemi. Protokol CHSE yang disusun Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sehingga Ekowisata Mangrove Wonorejo dapat menjalankan kegiatan Pariwisata di masa pandemi, tetapi apakah kegiatan Ekowisata Mangrove Wonorejo di masa pandemi sudah berjalan sesuai dengan aturan dan protokol CHSE yang ada, maka dibutuhkan penelitian untuk mengetahui kondisi kegiatan Ekowisata Mangrove Wonorejo di masa pandemi COVID-19 [7]. Identifikasi Karakteristik Kegiatan Ekowisata Mangrove Wonorejo di Masa Pandemi COVID-19 Ilham Mochammad dan Ema Umilia Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: umilia84@gmail.com D