J. Agrifarm : Vol. 10 No. 1, Juli 2021 P-ISSN : 2301-9700, E-ISSN : 2450-8892 29 Pengaruh Pupuk Organik Cair TOP G2 dan Pupuk SP-36 Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Tanah The Effect of Top G2 Liquid Organic Fertilizer and SP-36 Fertilizer on Peanut Plant Growth and Yield Robert Alberth Sole Program Studi Agroteknologi, Universitas Persatuan Guru 1945 NTT, Nusa Tenggara Timur, Indonesia Email: sole.robert1978@gmail.com Article Submitted : 24-01-2021 Article Accepted : 21-06-2021 ABSTRACT The purpose of this study is to find out the effect of the administration of Top G2 liquid organic fertilizer and SP-36 fertilizer on peanut crop yields, to know the dose of SP-36 fertilizer and Top G2 liquid organic fertilizer that can produce the best peanut crop results and to know the interaction of liquid organic fertilizer Top G2 and SP-36 fertilizer in improving the yield of peanut crops. The design used in this study is a Randomized Group Design (RGD) factorial pattern. This treatment consists of two factors: First Factor: Concentration of POC Top G2 consisting of OC0: No POC Top G2, OC1: POC Top G2 4 cc ltr air-1petak-1 OC2: POC Top G2 8 cc ltr water-1Swath-1; The second factor: Fertilizer Dose P (SP36) consists of P0: Without SP36 fertilizer; P1: 300 kg ha-1; Q2: 400 kg ha-1. The results showed that the administration of g2 top liquid organic fertilizer with a concentration of 8 cc ltr water-1 produced the highest plant height of 20.75 cm tan-1, the number of leaves 27.36 strands of tan-1, the number of pods 39.89 tan-1 and the harvest index 0.326. The interaction of g2 top liquid organic fertilizer and phosphorus fertilizer increases the weight of dried seeds harvesting crops, i.e. in the treatment of liquid fertilizer concentration top G2 8 cc ltr water-1 plot-1 with a seed weight of 235 g tan-1. Cultivation of peanut crops should use liquid organic fertilizer top G2 concentration eight cc tr water-1 tile-1 and need further research using higher concentrations of liquid organic fertilizer top G2 to see the optimum needs of peanut crops. Keywords: top G2 liquid organic fertilizer, SP36, peanut plant PENDAHULUAN Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) secara ekonomi merupakan tanaman kacang-kacangan yang menduduki urutan kedua setelah kedelai, sehingga berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar dalam negeri yang cukup besar. Biji kacang tanah dapat digunakan langsung untuk pangan dalam bentuk sayur, digoreng atau direbus dan sebagai bahan baku industri seperti keju, sabun dan minyak serta brangkasannya untuk pakan ternak dan pupuk (Marzuki, 2007). Produksi tanaman kacang tanah di Indonesia tergolong rendah, karena masih berada di bawah potensi produksi. Produksi kacang tanah lokal mencapai 1,45 t ha -1 , lebih rendah dibanding dengan potensi hasil varietas unggul seperti; varietas Panter dan Singa yang dapat mencapai hasil 4,5 t ha -1 (Adisarwanto, 2000). Hal ini menunjukkan bahwa hasil tanaman kacang tanah masih dapat ditingkatkan, walaupun saat ini tersedia beberapa varietas unggul namun belum banyak diketahui oleh petani, dan petani lebih mudah memasarkan varietas lokal yang mempunyai bentuk biji dan polong yang disukai oleh konsumen serta mempunyai keunggulan spesifik lainnya seperti ketahanan terhadap penyakit layu (Adisarwanto, 2000). Sumarno dkk., (1989) menyatakan bahwa 66 % kacang tanah di Indonesia ditanam di lahan kering dengan rentang hasil antara 0,5 hingga 1,5 t ha -1 . Nugrahaeni dan Kasno (1992) juga menyatakan bahwa kacang tanah sebagian besar 66 % dihasilkan di lahan kering dan sisanya 34% dihasilkan di lahan basah. Hasil kacang tanah di lahan kering masih jauh lebih rendah, hanya 2 t ha -1 dibandingkan dengan hasil kacang tanah di lahan basah yang dapat mencapai 4,5 t ha -1 (BPPP, 1999). Di Nusa Tenggara Timur (NTT) produksi kacang tanah tahun 2010 sebesar 20.069 ton dengan luas panen 16.574 ha dan luas tanam 19.076 ha, tahun 2011 produksi 23.685 ton dengan luas panen 19.395 ha dan luas tanam 22.319 ha, tahun 2012 produksi 21.562 ton dengan luas panen 19.694 ha dan luas tanam 13.469 ha, tahun 2013 produksi 16.056 ton dengan luas panen 13.880 ha dan luas tanam 14.205 ha (BPS NTT, 2014). Berdasarkan data di atas maka produksi kacang tanah di NTT semakin menurun. Hal ini karena sebagian besar lahan kering mempunyai tingkat kesuburan rendah dan sumber air terbatas hanya tergantung pada curah hujan yang distribusinya tidak dapat diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman (Andrianto dan Indarto, 2004). Produksi tanaman ditentukan oleh ketersediaan unsur hara baik unsur hara makro seperti; C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S serta unsur hara mikro seperti; Fe, Zn, Co, Mn, Mo, Bo, dan Cl (Gardner, dkk., 1991). BOA (2008), melaporkan bahwa penggunaan bahan organik tidak hanya menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman, tetapi juga menciptakan