JOM PSIK VOL 1 NO. 2 OKTOBER 2014 1 PENGARUH INTERVENSI TEKNIK PERLEKATAN (LATCH-ON) PADA SAAT DI RUANG POSTPARTUM TERHADAP FREKUENSI PEMBERIAN ASI TANPA MP-ASI SELAMA 3 MINGGU PERTAMA KELAHIRAN Tri Sumaryani 1 , Riri Novayelinda 2 , Sofiana Nurchayati 3 Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau Email: t.sumaryani@ymail.com Abstract The aim of this research is to determine the effect of intervention about latch-on technique in postpartum ward on the frequency of breastfeeding without complementary feeding in the first 3 weeks of birth. The design of this research is "quasy experimental" designed with "post-test only control group". The groups were divided into experimental group and control group. This sample of this study were mothers with normal delivery process in the postpartum ward RSUD Petala Bumi Pekanbaru. The sample consist of 30 mothers who were taken by using purposive sampling technique. The experiment group is provided with a demonstration latch-on technique allowed by redemonstration session to the mother and baby. Measuring instruments that used was the questionnaire about frequency of breastfeeding without complementary feeding. The Mann-Whitney test showed p (0.153) > α (0.05) means that latch-on technique intervention in postpartum ward has no effect on the frequencies of breastfeeding without complementary feeding in the first 3 weeks of birth. The result of this study recommended for doing further research about giving intervention latch-on technique with more ensure ability of respondents about the use of latch-on techniques in breastfeeding in the postpartum ward with increase number of interventions that achievement breastfeeding without complementary feeding can also be improved. Keywords : breastfeeding, complementary feeding, latch-on techniques PENDAHULUAN Air Susu Ibu (ASI) eksklusif adalah pemberian ASI saja, tanpa makanan dan minuman tambahan (MP-ASI) sampai usia bayi sekitar 6 bulan (Nazarina, 2008; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 33 Tahun 2012 Pasal 1 Ayat 2). ASI diberikan kepada bayi melalui proses menyusui yang dilakukan secara langsung oleh seorang ibu dari payudaranya. Menyusui yang dianjurkan adalah menyusui sejak kelahiran bayi hingga bayi berusia 6 bulan dan setelah bayi berusia lebih dari 6 bulan bayi dapat diberikan makanan tambahan pendamping ASI (MP-ASI) seperti bubur susu, pisang dan nasi tim. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2010 adalah 33,6 % menjadi 38,5 % pada tahun 2011 (Kemenkes RI, 2013). Hal ini masih tergolong rendah karena target nasional pencapaian ASI eksklusif yang ditetapkan pemerintah adalah 80% (Depkes RI, 2008). Berdasarkan hasil pengambilan data di Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru tanggal 6 Januari 2014, cakupan pemberian ASI eksklusif dari 20 wilayah kerja puskesmas se-kota Pekanbaru pada tahun 2012 yang telah mencapai target pencapaian ASI eksklusif nasional hanya 3 puskesmas yaitu Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo 86,04%, Puskesmas Garuda 92,74%, dan Puskesmas Rawat Inap Simpang Tiga 83,95%. Total cakupan pemberian ASI se-kota Pekanbaru pada tahun 2012 adalah 65,27% (Dinkes Provinsi Riau, 2012). Kesimpulannya adalah cakupan pemberian ASI di Pekanbaru masih dibawah target nasional. Banyak aspek yang harus diperhatikan untuk meningkatkan pencapaian ASI eksklusif, salah satunya adalah teknik perlekatan (latch-on). Penelitian Kronbrog dan Vaeth (2009) didapatkan hasil 61% ibu mempunyai masalah dalam posisi menyusui dan 52% ibu mempunyai perlekatan yang tidak tepat. Penelitian lain juga dilakukan oleh Pertiwi, Solehati dan Widiasih (2012) dengan hasil bahwa 55% ibu gagal dalam pemberian ASI karena teknik menyusui yang kurang baik. Bayi bulan pertama kelahiran (neonatus) sudah memiliki refleks sucking dan refleks rooting yang baik (Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein, & Schwartz, 2009). Kedua refleks tersebut berperan dalam teknik perlekatan. Perlekatan ini memegang