Jurnal Amplifier November 2020 Vol 10 No 2 P-ISSN 2089-2020 dan E-ISSN 2622-2000 28 Analisis Sistem Pentanahan Instalasi Listrik Gedung Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIa Bengkulu Agung Santoso 1 , Afriyastuti Herawati 1 , Yanolanda Suzantry 1 1 program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Bengkulu e-mail : toso1994@gmail.com ABSTRAK Listrik dalam kehidupan sehari merupakan suatu hal yang sudah menjadi kebutuhan pokok. Dalam kehidupan rumah tangga disatu sisi listrik memiliki banyak manfaat tetapi disisi lain memiliki resiko besar yang dapat membahayakan bagi pemakaianya apabila salah dalam penanganan dan penggunaanya sehingga akan berakibat fatal sampai merenggut nyawa manusia. Adapun pemasangan instalasi listrik di indonesia telah diatur sesuai dengan Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyelesaian penelitian ini dengan observasi. Langkah penelitian dimulai dari tahap persiapan meliputi perijinan dan penelusuran pustaka. Kemudian pengukuran dan pengambilan data resistansi pentanahan untuk sistem pentanahan Lapas Kelas IIA Bengkulu dan dilanjutkan dengan perhitungan serta perbandingan. Hasil keseluruhan penelitian yang telah dilakukan, menyatakan bahwa nilai tahanan pentanahan pada gedung gedung Lapas Kelas IIA Bengkulu jika dilihat dari hasil perbandingan nilai tahanan pentanahan yang diukur didapatkan nilai tertinggi sebesar 14 Ohm sedangkan nilai tahanan pentanahan terendah 11 ohm dan dibandingkan dengan nilai tahanan sesuai dengan standart PLN untuk rumah tinggal/gedung maka didapatkan bahwa sistem pentanahan di Lapas Kelas IIA bengkulu belum memenuhi standart PLN Kata kunci: Grounding, nilai pentanahan, elektroda 1. PENDAHULUAN Sistem pentanahan merupakan suatu bagian penting untuk menjamin keselamatan dan menjamin keamanan suatu sistem tenaga listrik. Sistem pentanahan mempengaruhi kelancaran suatu sistem tenaga listrik terutama saat terjadi gangguan, saat sistem pentanahan yang digunakan sudah memenuhi standar, diharapkan bahwa kerugian yang dapat diakibatkan oleh gangguan gangguan yang timbul dapat dikurangi dan dihindari. Dalam sistem grounding, kondisi tanah merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi nilai resistansi. Namun pada kenyataanya, sering sekali kita jumpai sebuah gedung/perumahan yang sudah dilengkapi dengan sistem grounding tetapi grounding tersebut belum bisa menetralisir lonjakan arus listrik yang terjadi. Bahkan sering dijumpai perumahan/gedung yang sama sekali tidak dilengkapi dengan sistem grounding pada instalasi listriknya. Hal tersebut tentu sangat berbahaya bagi manusia karena bisa menimbulkan kematian. Disamping itu, tidak adanya atau jeleknya suatu sistem grounding yang terhubung pada suatu instalasi dapat menyebabkan lifetime dari barang-barang elektronik dapat berkurang dan bisa menimbulkan kerusakan pada barang elektronik. Kualitas sistem grounding dilihat dari resistansi yang terukur, nilai resistansi yang bagus adalah 0 s/d 5 ohm. Dengan kata lain apabila hasil ukur menunjukkan >5 Ohm maka resistansi pentanahan tersebut tidak sesuai dengan standarisasi instalasi listrik yang berlaku. Nilai 5 ohm merupakan batas tertinggi resistansi pembumian yang masih bisa ditoleransi. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000. Sistem instalasi listrik yang meliputi pengaman, pelindung dan perlengkapan lainnya harus terpelihara dengan baik. Faktor usia pada instalasi mejadi salah satu yang dapat menyebabkan keausan, penuaan dan pergeseran pengaturan pada instalasi listrik, maka perlu dilakukan pengecekan dan pemeriksaan secara berkala pada instalasi listrik yang sudah lama berdasarkan petunjuk, metode dan program yang telah ditentukan (PUIL, 2000: 451). Sistem pentanahan yang terpasang semakin lama akan mengalami peningkatan nilai resistansinya dan menurunnya kualitas pentanahan yang disebabkan oleh karat dan juga resistansi dari tanah sekitar batang elektroda pentanahan. Karat pada batang elektroda akan menghambat arus yang melewati batang elektroda, sehingga aliran arus yang melalui elektroda yang seharusnya disalurkan ke tanah menjadi kurang sempurna. Resistansi pembumian di Lapas Bengkulu sangat berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sudah dijelaskan di atas termasuk juga dipengaruhi oleh faktor umur yang sudah tua pada instalasi listrik gedung, mulai dari instalasi penerangan, tenaga, grounding penangkal petir dan juga untuk pernah terjadi sambaran petir pada tahun 2019 sehingga berakibat pada rusaknya alat-alat elektronik pada Lapas Kelas IIA brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu