PKMI-2-7-1 EKSTRAK ETANOL BIJI MAHKOTA DEWA (PHALERIA MACROCARPA (SCHEFF.) BOERL.) MENINGKATKAN EKSPRESI CASPASE-3 AKTIF PADA CELL LINE CA COLON WIDR Anis Widyasari, Dwi Retnoningsih, Naima Lassie Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ABSTRAK Tanaman mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) oleh masyarakat sering digunakan untuk pengobatan kanker, namun mekanismenya sebagai antikanker belum diketahui. Baru-baru ini, ekstrak etanol biji mahkota dewa diperlihatkan memiliki efek sitotoksik pada cell line Ca colon WiDr. Pada penelitian ini kami ingin mengetahui apakah kematian cell line Ca colon yang diberi ekstrak etanol biji mahkota dewa tersebut terjadi dengan pengaktifan jalur- jalur apoptosis, dengan melihat ekspresi dari caspase-3 aktif. Cell line ca colon WiDr diinkubasi dengan ekstrak etanol biji mahkota dewa dengan tiga konsentrasi yang berbeda selama 48 jam. Ekspresi Caspase-3 aktif dilihat dengan metode imunohistokimia dan dihitung persentase sel imunopositif. Pada perlakuan dengan ekstrak etanol biji mahkota dewa 45,4 ug/ml (2xIC 50 ), 22,7 ug/ml (IC 50 ) and 11,35 ug/ml (1/2 IC 50 ) ditemukan sel imunopositif sebanyak 63%, 49% and 20,4%. Pada perlakuan dengan 5-FU dosis IC 50 hanya ditemukan sel imunopositif sebanyak 27,4%. Analisis dengan uji Chi-Square memberikan hasil yang bermakna (p<0,05). Efek sitotoksik ekstrak etanol biji mahkota dewa terjadi dengan pengaktifan caspase-3. Ekstrak etanol mahkota dewa meningkatkan pengaktifan caspase-3 lebih banyak dari 5-FU. Kata kunci: Mahkota Dewa – cell line WiDr – Caspase 3 - apoptosis PENDAHULUAN Kanker masih merupakan masalah kesehatan utama di negara industri, dan juga di negara berkembang. Pada tahun 2005 di Amerika Serikat terdapat kira-kira 1.372.000 penduduk yang terdiagnosis menderita kanker dan 570.280 orang diperkirakan akan meninggal karenanya. Kanker kolorektal adalah kanker yang biasa terjadi dan menempati posisi keempat di dunia. Insiden kanker kolon lebih tinggi pada negara-negara maju dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Angka kejadian di negara-negara berkembang tidak mencapai sepertiga dari kejadian kanker seluruhnya. Di Indonesia insiden kanker kolorektal terus meningkat walaupun secara statistik belum terdapat angka yang pas (1). Bagi kebanyakan orang, menerima diagnosis kanker hampir serupa dengan menerima vonis kematian, karena masalah pembiayaan pengobatan kanker yang sangat mahal. Masalah utama yang saat ini dihadapi dalam menangani kanker ialah toksisitas dari kemoterapi dan radioterapi terhadap jaringan normal (2). Salah satu upaya pengobatan yang sudah dirintis sejak jaman dulu adalah pemanfaatan fitofarmaka, menggali kandungan unsur kimiawi dalam tumbuh- tumbuhan yang potensial dapat dipakai sebagai obat. Banyak tanaman yang sudah digunakan sebagai obat untuk berbagai penyakit, namun penelitian untuk mengetahui zat aktif yang terkandung di dalamnya, titik tangkap dan dosis terapi serta efek sampingnya masih perlu ditingkatkan. Dari beribu-ribu tanaman yang