© 2020 Segala bentuk plagiarisme dan penyalahgunaan hak kekayaan intelektual akibat
diterbitkannya paper pengabdian masyarakat ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
MEN- SUPPORT KINERJA
BUMDES KAYUAMBON,
KABUPATEN BANDUNG
BARAT
Soffan Marsus
1*
, Alma Ariz Naini
2
1)
Akuntansi, Politeknik Keuangan
Negara STAN
2)
Akuntansi, Politeknik Keuangan
Negara STAN
Article history
Received : diisi oleh editor
Revised : diisi oleh editor
Accepted : diisi oleh editor
*Corresponding author
Email : soffanm@pknstan.ac.id
Abstraksi
Dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat desa, sebagai
pelaksanaan dari Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014, pemerintah
saat ini menerapkan strategi kewirausahaan desa dengan memberi
kewenangan kepada desa untuk membentuk Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes). Strategi ini sejalan dengan kecenderungan global dalam
pemerintahan yang dikenal sebagai New Public Management (NPM).
Sebagai bagian dari kegiatan mahasiswa berupa Kuliah Kerja Mahasiswa
(KKM), penulis melakukan kegiatan pengabdian masyarakat sekaligus action
research untuk membantu menata usahakan persediaan pada BUMDes Desa
Mart Desa Kayuambon, Kabupaten Bandung. Meskipun telah dilakukan
pembelian aplikasi, penataan persediaan akseptasi teknologi dalam bentuk
penggunaan aplikasi tersebut masih terkendala. Kendalanya adalah sebagai
usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), BUMDes Desa Mart masih memiliki
berbagai keterbatasan seperti kompetensi serta pengalaman sumber daya
manusia. Oleh karena itu, bantuan pemerintah berupa pelatihan atau
program pengabdian masyarakat dari kampus, diharapkan dapat
membantu BUMDes dapat mengejar ketertinggalan dari perusahaan pesaing.
Kata kunci: Akseptasi Teknologi, Aplikasi Persediaan, UMKM
Abstract
To improve the welfare of village communities, as the implementation of the
Village Law No. 6 of 2014, the government is currently implementing a strategy
of village entrepreneurship by giving the village authority to form a Village-
Owned Enterprise (BUMDes). This strategy is in line with the global trend in
governance known as the New Public Management (NPM). As part of the
student work lecture (KKM), the writer conducts community service and action
research to help administer the inventory at BUMDes Desa Mart Desa
Kayuambon, Kabupaten Bandung. Although they have purchased an
application to manage inventory, it turns out that technological acceptance
in the use of the application is still hampered. Because, as a small and medium
enterprise (SME), BUMDes Desa Mart still has various limitations such as lack of
competence and experiences of human resources. Assistance from
government in form of training or from university in form of community service
programs, at least can help BUMDes immediately catch up with competing
companies.
Keywords: Technology Acceptance, Inventory Application, Small and Medium
Enterprise
© 2020 Penerbit PKN STAN Press. All rights reserved
PENDAHULUAN
Waktu berjalan, hari berganti, pemerintahan suatu
negara terus berubah. Di negara kita, Presiden telah
berganti tujuh kali dari mulai Presiden Soekarno
sampai dengan saat ini Presiden Joko Widodo.
Strategi perubahan negara agar semakin sejahtera
juga terus berubah dan berkembang. Pelaksanaan
pembangunan pedesaan oleh pemerintah,
khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sebagai pelaksanaan dari Undang-
Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014, saat ini
menerapkan strategi mewirausahakan desa dengan
memberi kewenangan untuk membentuk lembaga
bisnis yang dinamakan Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes). Strategi ini sejalan dengan
kecenderungan dalam pemerintahan pada tingkat
global yang dikenal sebagai New Public
Management (NPM). Salah satu buku berpengaruh
terkait tren NPM ini adalah karya David Osborne dan
Ted Gaebler yaitu Reinventing Government
(Osborne dan Gaebler, 1992).
Maraknya implementasi pendirian BUMDes
membawa kita pada kesimpulan bahwa pada
dekade kedua abad 20 ini, ide mewirausahakan
birokrasi di Indonesia telah masuk sampai ke pelosok-
pelosok desa dan menjadi salah satu kebijakan yang