Jurnal IMAJERI Vol. 01, No. 02, pp. 20-31; Maret 2019 ISSN: 2654-4199 (Online) 20 TEKS PERMAINAN ANAK UCANG-UCANG ANGGE: ANALISIS STRUKTUR DAN KONTEKS PENUTURAN David Setiadi 1 , Asep Firdaus 1 1 Universitas Muhammadiyah Sukabumi Email: idaites10@gmail.com Abstrak Penelitian ini mengungkapkan bentuk atau model-model struktur teks permainan anak Ucang-Ucang Angge, beserta bagaimana konteks penciptaannya dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif analitis. Data-data yang diperoleh dari informan ketika wawancara digambarkan sedetail mungkin, kemudian dianalisis dengan teori folklore, teori struktural dan teori Mitos. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa deskripsi struktur teks permainan anak Ucang-Ucang Angge yang meliputi formula sintaksis dan formula bunyi. Selain itu, konteks penuturan memperlihatkan bahwa permainan ini dilakukan sebagai bentuk pola asuh terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua. Hal ini sesuai dengan salah satu fungsi folklor yang menunjukkan nilai-nilai pendidikan dalam bentuk permainan anak tradisional. Kata kunci: folklor, permainan anak tradisional, sastra lisan Abstract This research is not only discussing about the structure model of the traditional kid games script, but also the utterance context created in the society. The research method applied is descriptive qualitative method, in which, data which has been collected from the informant is described in detail, then analyzed with folklore theory, structural theory and Myth theory. The discovery of the research is the structure of traditional kid games script consisted of both syntax formula, and sound formula. Furthermore, the utterance context shows that the game is played in order to be child rearing which could be categorized into folklore function showing the education values inside of the traditional kid games. Key words: folklore, traditional kid games, oral literature PENDAHULUAN Sebuah karya sastra bisa dipandang sebagai sesuatu yang diperlukan dan dinikmati pada saat senggang. Ia menjadi sesuatu yang ringan, menarik, menyenangkan, dan bisa mengendurkan pikiran. Karya sastra bisa juga dipandang sebagai sesuatu yang berharga dan mulia, yang hanya bisa dipahami dan dihayati bila dikaji dan direnungkan dengan sungguh-sungguh karena di dalamnya terdapat hakikat kebenaran, kebaikan, keindahan yang diungkapkan secara artistik. Horatius (dalam Teeuw, 2003: 8) mengatakan bahwa karya seni (sastra) yang baik harus memenuhi aspek dulce et utile, yang berarti menghibur dan mendidik penikmatnya. Dengan mengacu pada tiga paradigma peradaban, menurut Alvin Toffler (1980), ranah sastra dapat dipilah ke dalam tiga paradigma yang meliputi; peradaban agraris, industrial, dan informasi. Sastra dalam peradaban agraris didominasi genre sastra lisan, sedangkan sastra dalam peradaban industrial didominasi genre sastra tulis, dan sastra dalam peradaban informasi didominasi genre sastra