Jurnal Petro 2019 VOLUME VIII No. 3, SEPTEMBER 2019 P-ISSN : 1907-0438 E-ISSN : 2614-7297 http://trijurnal.lemlit.trisakti.ac.id/index.php/petro Jurnal Petro September, Th, 2019 95 ANALISIS COMPRESSIVE STRENGHT DAN THICKENING TIME SEMEN KELAS G DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE SODIUM LIGNOSULFANATE DAN CACL2 PADA SKALA LABORATORIUM Cahaya Rosyidan 1,2 1 Teknik Perminyakan-FTKE, Universitas Trisakti 2 Email: cahayarosyidan@gmail.com ABSTRAK Fisika adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam semesta, baik mempelajari partikel yang berukuran kecil sampai dengan planet yang berukuran makro. Bidang kajiannyapun beragam dari mempelajari struktur bumi sampai dengan sistem tata surya. Salah satu penerapan ilmu fisika adalah di bidang industri perminyakan. Perkembangan teknologi perminyakan dewasa ini sangat pesat sekali, salah satunya adalah dalam pengeboran atau drilling. Operasi pemboran tidak pernah lepas atau mengabaikan penggunaan fluida pemboran. Fluida pemboran terdiri dari dua pekerjaan yakni rekayasa lumpur pemboran dan penyemenan.Penyemenan diperlukan supaya dapat mengurangi permasalahan sewaktu melakukan pemboran pada trayek selanjutnya. Tingkat keberhasilan penyemenan ditentukan oleh 2 hal yakni kualitas bahan penyemenan yang terdiri dari bahan dasar semen serta aditif dan teknik pelaksanaan penyemenan. Pada penambahan Sodium Lignosulfonate terjadi penurunan nilai compressive strength dan menaikan nilai thickening time pada konsentrasi 1% adalah 255 menit dengan temperatur 80F karena pada dasarnya additive ini bersifat retarder. Pengujian additive Calcium Chloride untuk nilai compressive strength sangat efektif pada konsentrasi 7% dengan hasil test 4483 psi pada temperatur 150F, sedangkan pada temperatur 80F dan 100F hasil test yang didapat sebesar 2393 psi dan 2888 psi, sedangkan nilai thickening time menurun dikarenakan sifat additive ini sebagai accelerator. Kata kunci: Fluida, Penyemenan, Pengeboran. ABSTRACT Physics is a science that studies about the universe, even about the small-sized particles up to the macro- sized planets. The scope of the studies fields are diverse from studying about the structure of the earth until the solar system. One of physics application is in petroleum industry. Nowadays, the petroleum technology’s development is very rapid, especially in drilling. The drilling operation never ignore the use of drilling fluid. There are two important steps in drilling, i.e. drilling mud engineering and cementing. Cementing is required in order to reduce the problems while drilling the next traject. Cementing success rate is determined by two things, i.e. first one is the quality of cementing material that consist of the cement base material and additive; and the second one is cementing implementation technique. In the addition of Sodium Lignosulfonate, the compressive strength tends to decrease and the thickening time tends to increase at a concentration of 1% is 255 minutes with the temperature 80. It is because basically this is the retarder additive. Testing additive Calcium Chloride for compressive strength value is very effective at a concentration of 7% with the test result is 4483 psi at temperatures 150F, while at temperatures 80F and 100F the test results are 2393 psi and 2888 psi, while the value of thickening time decreased due to the nature of this additive as an accelerator. Keyword: Fluid, Cementing, Drilling. PENDAHULUAN Fisika adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam semesta, baik mempelajari partikel yang berukuran kecil sampai dengan planet yang berukuran makro. Bidang kajiannyapun beragam dari mempelajari struktur bumi sampai dengan sistem tata surya. Salah satu penerapan ilmu fisika adalah di bidang industri perminyakan. Perkembangan teknologi perminyakan dewasa ini sangat pesat sekali, salah satunya adalah dalam pengeboran atau drilling. Operasi pemboran tidak pernah lepas atau mengabaikan penggunaan fluida pemboran. Fluida pemboran terdiri dari dua pekerjaan yakni rekayasa lumpur pemboran dan penyemenan. Penyemenan diperlukan supaya dapat mengurangi permasalahan sewaktu melakukan pemboran pada trayek selanjutnya. Tingkat keberhasilan penyemenan ditentukan oleh 2 hal