PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI DESAIN USER INTERFACE DAN USER EXPERIENCE PADA APLIKASI PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIA 6 – 12 TAHUN Hanifah Triari Husna 1 , Fitri Susanti 2 , Agus Pratondo 3 1, 2, 3 Prodi S1 Terapan Teknologi Rekayasa Multimedia, Fakultas Ilmu Terapan Universitas Telkom 1 hanifahtriari@student.telkomuniversity.ac.id, 2 fitri.susanti@tass.telkomuniversity.ac.id, 3 agus@tass.telkomuniversity.ac.id Abstrak— Pendidikan seks sebaiknya sudah mulai diberikan kepada anak sejak dini, apalagi untuk anak tingkatan sekolah dasar yang sudah mulai menginjak fase praremaja karena tidak semua sekolah mempunyai kurikulum tersebut. Jika dari sekolah anak tidak mendapatkan materi pendidikan seks, maka sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk menyampaikan pelajaran mengenai pendidikan seks, namun kenyataannya masih banyak orantua yang merasa tabu, dan bingung dengan metode seperti apa yang baik dan tepat. Maka dari itu dibuat aplikasi mobile pembelajaran mengenai pendidikan seks untuk anak usia 6-12 tahun. Dalam pembuatan aplikasi tersebut dibutuhkan perancangan user interface dan user experience agar aplikasi yang dibuat sesuai untuk pengguna. Perancangan UI/UX ini dikembangkan dengan tools Adobe XD, menggunakan metode User Experience Design Process. Hasil perancangan UI/UX ini telah dilakukan pengujian menggunakan User Acceptance Test (UAT) dari total 33 responden yaitu orang tua yang telah mengisi kuesioner dan didapatkan rata-rata persentase yaitu 88,98% dan pengujian dengan metode AHP (Analitycal Hierarchy Process) yaitu pembobotan dengan 5 variabel yaitu balance, unity, rhythm, emphasis, dan proportion dan mendapatkan hasil akhir penilaian sebesar 88,67% atau 4,43 (dalam skala 5). Dengan kesimpulan bahwa perancangan UI/UX aplikasi sangat baik dan sudah sesuai untuk pengguna. Kata kunci: Aplikasi mobile, Pendidikan seks untuk anak, UI/UX, User Experience Design Process, User Acceptance Test, Analitycal Hierarchy Process Abstract— Sex education should be given to children from an early age, especially for elementary school children who have started to enter the pre-adolescent phase because not all schools have this curriculum. If children do not get sex education material from school, it is the responsibility of the parents to deliver lessons on sex education, but in reality, there are still many parents who feel taboo and are confused about what kind of method is good and appropriate. Therefore, a learning mobile application was made about sex education for children aged 6- 12 years. In making the application, a user interface and user experience design are needed so that the application is made suitable for the user. This UI / UX design was developed with Adobe XD tools, using the User Experience Design Process method. The results of the UI / UX design have been tested using the User Acceptance Test (UAT) from a total of 33 respondents, namely parents who have filled out the questionnaire and obtained an average percentage of 88.98% and testing using the AHP (Analytical Hierarchy Process) method, namely weighting. with 5 variables, namely balance, unity, rhythm, emphasis, and proportion, and get the final result of the assessment of 88.67% or 4.43 (on a scale of 5). With the conclusion that the UI / UX design of the application is very good and is suitable for users. Keyword: mobile application , Sex education for children, UI/UX, User Experience Design, User Acceptance Test, Analitycal Hierarchy Process 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan ataupun pengetahuan tentang seksual sebaiknya sudah mulai diberikan kepada anak, apalagi untuk anak tingkatan Sekolah Dasar yang sudah mulai menginjak fase praremaja. Walaupun dalam praktiknya, hal ini menjadi sesuatu yang tidak mudah. Kenyataannya saja, masih banyak orangtua yang merasa rikuh dan tidak mengerti kapan serta bagaimana cara menyampaikannya, karena Pendidikan seks itu sendiri masih dianggap sesuatu yang tabu dan awam untuk diketahui, apalagi jika mengaitkannya dengan anak-anak. Padahal pendidikan seks bukanlah mengajarkan tentang cara-cara berhubungan seks semata, melainkan lebih kepada upaya memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan tingkatanya.Pendidikan seks dapat mencegah perilaku penyimpangan ataupun tindak kekerasan seksual dan seks bebas oleh anak anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir data tingkat kekerasan seksual anak selama 2019. Tercatat ada 21 kasus kekerasan seksual dengan jumlah korban mencapai 123 anak yang terjadi di institusi Pendidikan[1]. Kekerasan seksual yang terjadi pada anak, merupakan bukti nyata bahwa pengetahuan tentang pendidikan seks belum mereka peroleh sebagai mana mestinya. Jika melihat banyaknya kasus-kasus yang terjadi, maka sudah sepatutnya para orangtua bertanggung jawab memberikan pendidikan seks pada anaknya. Apalagi, seiring dengan semakin berkembang pesatnya teknologi informasi dan komunikasi yang tak terbatas, hal ini bisa saja menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya tindak penyimpangan seksual pada anak. Pada fase tertentu anak yang sedang tumbuh kembang akan mencari tahu informasi tentang seks, sehingga tidak jarang anak mencari informasi sendiri dari ISSN : 2442-5826 e-Proceeding of Applied Science : Vol.6, No.2 Agustus 2020 | Page 2697